Ternyata Memasak Itu Mudah Yah?

Pak, saya gak bisa memasak. Kalau kelemahan saya yang satu ini tidak bisa ditolerir, saya memilih mundur dari proses taaruf ini”, itu pernyataan lugasku ke suami, satu setengah tahun yang lalu, saat sebelum proses lamaran beliau di rumah keluarga besarku di Manna. Bagiku, calon suami harus tahu kekuranganku justru sebelum proses lamaran, termasuk untuk urusan keahlian di dapur. Untuk urusan yang satu ini, sampai menjelang menikah, pengetahuanku sangat minim. Hampir tidak pernah menginjak wilayah dapur sejak bangku sekolah dasar, sampai bekerja. Lebih praktis membeli, itu pikiranku sewaktu masih sebagai anak kos. Lebih simpel dan waktu yang digunakan juga tidak banyak.

Yang penting mau belajar kan?”, itu jawaban retoris beliau ke aku. Aku tahu jawabannya adalah hanya satu kata : iya. Maka, setelah menikah, mulailah proses belajar memasak itu kumulai. Karena hanya menjadi istri di akhir pekan, maka proses belajar memasak itu cuma berlangsung di hari Sabtu dan Minggu. Selain kedua hari itu, si mas berada di Jakarta, dan aku akan lebih memilih membeli dibandingkan memasak untuk diri sendiri.

Menelepon atau mengsms ibu dan ibu mertua adalah cara cepat untuk mengetahui bumbu masakan yang ingin kumasak. Kadang keasinan, kadang ada rambutku di masakan, kadang rasanya aneh di lidahku, kadang menunya hanya tumis-tumisan saja. Tapi, dengan setia si mas selalu menghabiskan apapun yang kumasak. Walaupun setelah itu, muncullah ‘kritikannya’. Tapi, paling tidak bagiku, usaha beliau menghabiskan semua yang kuhidangkan hingga tandas cukup menjadi pemecut semangat kalau proses belajar memasak itu harus terus berlanjut.

Berada di Jepang sendirian dengan kurun waktu hampir setahunlah yang mengubah segalanya. Sulitnya mendapatkan makanan halal di Jepang, membuatku harus memasak hampir setiap hari. Kemudahan berselancar di dunia maya, juga menambah kesadaranku, bahwa masakan olahan rumah adalah yang terbaik untuk anak-anak di usia keemasannya. Maka, di hari lahir yang dua puluh tujuh kucanangkan sebuah target sampai usia ke dua puluh delapan: bahwa aku harus bisa memasak untuk suami dan anak-anakku. Kutulis target itu di buku harianku, bersamaan dengan target-target pribadi lainnya yang ingin kuraih di tahun 2009.

Momen sendirian dan jauh dari suami benar-benar kumanfaatkan untuk belajar memasak. Kumasak sendiri menu makan siang yang akan kubawa kekampus. Walaupun lebih lama menghabiskan waktu di dapur, dan itu berarti harus bangun lebih pagi. Tapi, ada sebuah semangat yang menemani, target bisa memasak harus kuraih sebelum berkumpul bersama suami lagi.

Ramadhan 1430 H pun tiba. Alhamdulillah proses ijin tugas belajar si mas ke Jepang dari kantornya disetujui. Alhamdulillah juga permohonan visa si mas ke Jepang disetujui pihak kedubes Jepang, walaupun dengan jangka waktu 3 bulan, karena si mas belum mengikuti ujian masuk di universitas yang dipilihnya. Tapi, ada sebuah kebahagiaan yang menyelusup di sanubari kami berdua: bahwa Ramadhan kali ini, alhamdulillah, bisa makan sahur dan berbuka bersama. Itu berarti, aku menjadi istri fulltime, bukan hanya di akhir pekan, seperti dulu saat kami masih di Indonesia.

Yang lebih membahagiakanku lagi di Ramadhan kali ini adalah sebuah kalimat dari si mas. Diucapkan oleh beliau di suatu senja saat berbuka bersama di apartemen kami, setelah hampir seminggu beliau datang ke negeri matahari terbit. “Ternyata, sekarang Fey sudah bisa masak yah. Masakan Fey enak”. Sebuah kalimat sederhana, tapi bagiku, kalimat itu sangat menyanjungku. Pujian pertama dari suami untuk masakanku, tanpa kritikan apapun. Alhamdulillah. Ah, ternyata memasak itu memang mudah, asalkan dari hati:).

@ Nishi Chiba, Summer, August 2009.

Ps: Terima kasih untuk Pak Hadian, seorang teman dari milis SekolahKehidupan, yang mengirimkan sebuah file tentang resep-resep masakan. Sangat berguna bagiku, pun hingga kini.

Iklan

7 pemikiran pada “Ternyata Memasak Itu Mudah Yah?

  1. Wahh senengnya, si mas mau ke Jepang
    Terbalik dengan anakku, beasiswa Monbusho udah diterima, visa ke Jepang sudah, tapi S2 nya belum jelas. Doakan ya Fety.

    fety: iya, ibu. mg teh narpen dimudahkan segala sesuatunya.

  2. huwaaa… romantis 🙂
    selamat udah berhasil menjadi pemasak yang baik (khususnya untuk suami).

    alhamdulillah juga kalian sudah bareng di Jepang mulai Ramadhan ini 🙂 wow, ternyata dirimu setahun sendirian di Jepang yah? ngga kebayang…

  3. Ganbarimashita!!

    Aku mulai intens di dapur jg sejak menikah kok Fet, ternyata salah satu hikmah tinggal di LN tuh jadi ngerti urusan dapur ya?! Silahkan dicontek kalo tertarik sama resep kue/masakan yg pernah aku posting.

    Jyaa ganbarimashou..!

    fety: mbak sinta, blogmu adalah salah satu tempat aku belajar memasak. makasih udah ngijinin aku copy paste resep-resepmu:) Haik, gambarimashou.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s