Kehilangan Yang Kedua

Tahun lalu, saat musim salju, bersama-sama teman-teman di Chiba, aku berkunjung ke tempat bermain ski di Nagano. Letaknya lumayan jauh dari Chiba, kira-kira 7 jam dengan menggunakan bus. Saat itulah pertama kalai aku mengalami kehilangan barang di Jepang. Ceritanya, setelah sampai di tempat bermain ski, mau sms suami untuk mengabarkan kalau sudah sampai di tempat ski. Eh, walaupun backpack yang kubawa sudah dibolak-balik isinya tetap saja hp berwarna coklat itu tidak kutemukan. Akhirnya, indikasi terakhir adalah hpku terjatuh di bis yang kami gunakan dari Chiba ke Nagano.

Beberapa teman-teman mulai memiscal hpku. Ada nada sambungnya, sepertinya dugaanku kalau hpku terjatuh di bis sepertinya benar. Kemudian, ditemani seorang teman yang sudah fasih bahasa Jepang, bertanyalah kami ke loket pendaftaran di tempat ski tersebut nomor telepon perusahaan bis yang kami tumpangi. Dengan mengemukakan alasan, kemungkinan hpku terjatuh di bis, akhirnya kami mendapatkan nomor teleponnya.

Temanku yang akhirnya membantu menelpon dan menanyakan apakah bis yang kami tumpangi dari Chiba ke Nagano akan menjemput kami kembali saat akan pulang ke Chiba. Temanku juga bercerita kalau hpku terjatuh di bis itu, dan jika bis tersebut tidak menjemput kami lagi kemana kami bisa menanyakan barang-barang yang tertinggal. Alhamdulillah, akhirnya didapatkan kepastian kalau bis yang sama akan menjemput kami kembali. Lega rasanya mendengar berita itu. Dan lebih lega lagi saat bertemu dengan pengemudi bis dan beliau menyerahkan hpku. Wuiih, plong rasanya.

Kehilangan yang kedua terjadi minggu kemarin. Rencananya, hari Sabtu pagi, 11 Juli 2009, sebelum bantu-bantu persiapan acara PPI Chiba, mau menyempatkan diri ke UR, nama perusahaan penyewaan apartment di Jepang, dulu untuk menyelesaikan pembayaran apartment. Masalahnya sebelum pulang ke Indonesia minggu depan, masalah kepindahan dari asrama harus sudah selesai. Mulailah Sabtu pagi itu, mempersiapkan dokumen-dokumennya. Dan baru bingung saat tidak menemukan paspor di tempat biasa aku meletakkannya.

Hmm, sempat bingung saat itu. Barang sepenting paspor, kok bisa keselip? Akhirnya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir aku menggunakan paspor. Mencoba menelusuri perjalananku seminggu itu. Dan akhirnya, aku menduga pasporku tertinggal di kombini (convenient store) di dekat kampus sewaktu aku memfotokopi pasporku untuk kepentingan pengurusan exit permit hari Selasa, 7 Juli.

Hari Selasa itu memang riweh. Pagi-pagi, bersama-sama teman-teman lab mesti ke Tsukuba untuk melakukan percobaan alat yang akan dibawa ke Indonesia di lingkungan OYO Company, Tsukuba. Sebelum pergi, aku sudah mencatat dalam agendaku untuk mengeposkan syarat-syarat pengurusan exit permit, kartu suara untuk pemilihan presiden dan mengemail Oguma-san, Sekretaris INPEX Scholarshi Foundation, tentang masalah surat keterangan beasiswa ku yang juga dibutuhkan ketika penandatangan kontrak di apartment yang baru. Saking terburu-burunya, setelah mengkopi paspor, aku lupa untuk mengambil paspor di mesin fotokopi. Di Jepang, untuk mengkopi sesuatu, kita harus melakukannya sendiri. Setelah memfotokopi, uangnya tinggal dimasukkan ke dalam mesin yang otomatis akan mengembalikan menghitung berapa yen yang mesti kita bayar.

Akhirnya, Sabtu siang itu, dengan mengayuh sepeda kesayanganku, aku menuju ke kombini tersebut dan menanyakan pasporku yang mungkin tertinggal. Alhamdulillah pelayannya mengerti maksudku dan mulai bolak-balik mencari sesuatu. Aku pikir, mereka mencari pasporku. Aku menunggu dengan perasaan was-was di dekat meja kasir. Selang beberapa menit, setelah berkali-kali mengucapkan permintaan maaf, akhirnya aku diberikan sebuah surat. Owalah, ternyata ada prosedur tentang kehilangan barang di Jepang. Pasporku sudah di serahkan di Koban (kantor polisi) terdekat. Jaraknya dari kombini itu kira-kira seperempat jam dengan menggunakan sepeda.

Setelah mendapat penjelasan dari pelayan kombini arah Koban tersebut, kukayuh lagi sepedaku menuju ke arah Koban itu. Sakusabe Koban namanya. Sesampainya di Sakusabe Koban, bertemu dengan seorang polisi Jepang, aku menceritakan masalahku sambil menunjukkan kertas yang diberikan oleh pelayan kombini tadi. Hari itu adalah hari Sabtu, dan itu berarti hari libur di beberapa kantor di Jepang. Karena itulah, barang-barang yang terjatuh yang diberikan oleh orang yang menemukannya ke Sakusabe Koban, sudah diberikan ke Kantor Pusat Polisi Chiba Kita. Waduh, sempat cemas saat itu.

Aku meminta beliau menjelaskan tempat Kantor Pusat Polisi Chiba Kita. Lumayan jauh ternyata. Aku bisa mengambil pasporku hari Sabtu itu tapi mesti pasti jam berapa dan beliau menyarankan aku ditemani oleh seorang teman yang fasih bahasa Jepang. Aku mencoba menelepon seorang teman. Malanganya, hari itu beliau tidak bisa menemaniku. Akhirnya, aku putuskan untuk mengambil pasporku hari Senin saja. Entah siapa yang menemaniku, belum terfikirkan saat itu.

Ditengah galau, aku menelepon seorang teman seangkatan menerima beasiswa INPEX. Biasanya bercerita sesuatu ke dia akan menemukan solusinya. Dan benar, dia menyarankanku menelepon pihak INPEX atau Senseiku. Waduh, sepertinya pihak INPEX sudah banyak sekali aku repotkan, akhirnya aku lebih memilih menelepon tutorku di lab untuk menemaniku mengambil paspor hari Seninnya.

Alhamdulillah, di tengah-tengah acara PPI Chiba, dia mengsmsku. Beberapa waktu sebelumnya, aku mencoba meneleponnya berkali-kali tapi tidak diangkat. Segera ku telepon Kono-san, tutorku, dan kuceritakan masalahku. Dan dia berjanji menemaniku mengambil paspor hari Seninnya.

Senin, 13 Juli, aku pagi-pagi berangkat ke lab. Ada janji dengan teman lab untuk bantu-bantu persiapan komputer yang akan di bawa ke Indonesia. Lumayan lama menunggu Kono-san, apalagi dia mengsms kalau akan telat datang ke kampus. Konsekuensinya, kami akan telat kuliah sensei kami. Hampir setengah dua belas siang, Kono-san baru muncul di lab. Segera kuberikan nama dan alamat lengkap Kantor Pusat Polisi Chiba Kita. Beruntunglah, saat itu aku tinggal di Jepang. Semua alamat dan rute ke suatu tempat bisa diakses melalu Google Maps. Ternyata tempatnya lumayan jauh dari kampus.

Pilihan kami adalah menggunakan sepeda atau menggunakan bus. Kalau menggunakan sepeda kami bisa berangkat dari kampus, Tapi, kalau menggunakan bus, harus ke stasiun Inage, satu stasiun sebelum stasiun Nishi Chiba, stasiun yang terdekat di depan pintu gerbang kampusku, Chiba University. Akhirnya, pilihan Kono-san adalah dengan menggunakan sepeda. Akupun manut, wong aku dak tahu tempatnya.

Setelah pamitan dengan Sensei kalau kami berdua sepertinya akan telat masuk kuliah Sensei siang itu, mulailah aku dan Kono-san mengayuh sepeda kami di tengah terik panas matahari. Hari itu, temperatur udara di Chiba hampir mencampai 30 derajat. Aku pikir tempatnya dekat. Ternyata dari kampus ke Kantor Pusat Polisi Chiba Kita, kami menempuh waktu 30 menit dengan mengayuh sepeda. Waduh, kebayang kalau di Indonesia. Pasti sudah memilih menggunakan ojek atau taksi. Masalahnya gak ada ojek di Jepang dan biaya taksi sangat mahal.

Alhamdulillah, urusan di Kantor Pusat Polisi Chiba Kita tidak terlalu ribet. Aku diminta menunjukkan Alien Registration Cardku (KTP Jepang), dan mengisi blanko kehilangan dan pengambilan barang yang terjatuh. Dan bersyukur lagi saat itu tinggal di Jepang, tidak ada uang apapun yang mesti aku berikan saaat mengambil pasporku. Waduh, kapan yang urusan birokrasi di Indonesia bisa senyaman ini. Semoga nanti saat sudah waktunya pulang 😀

Setelah mendapatkan pasporku, akhirnya kami berdua menuju pulang ke kampus. Kali ini diselingi acara singgah di Donki-Hote, salah satu toko murah di Jepang. Aku dan Kono-san sama-sama kehausan. Dan perjalanan pulang kami terasa lebih berat, karena angin kuat saat itu sedang menyapa bumi Chiba, yang membuat kayuhan sepeda kami menjadi lebih berat dua kalinya.

Kejadian kehilangan paspor kali ini, mengingatkanku pada kejadian setahun yang lalu. Saat riweh juga. Di antara persiapan ke Jepang, kepindahan selamanya dari rumah kontrakan di Bandung, menyelesaikan urusan-urusan di kantor sebelum ke Jepang, di sebuah angkot, aku kehilangan dompetku beserta seluruh kartu-kartu penting, Beruntung saat itu, aku tidak membawa paspor, karena setelah semua tanda pengenalku hilang, hanya paspor yang bisa menjadi identitas untuk urusan di Bank dan lain-lain. Dan saat itu, karena aku masih tinggal di Indonesia, akhirnya aku merelakan semua tanda pengenalku hilang, Hari itu adalah hari terakhir di Bandung, dan tidak mungkin dalam waktu sehari mengurus semua hal yang menyangkut kehilangan dompetku beserta isinya.

Hmm, saat-saat riweh, benar-benar adalah saatku penting bagiku untuk lebih menjaga konsentrasi dan diri sehingga tidak menghilangkan barang-barang penting lagi.

@Summer, Juli 2009

Iklan

7 pemikiran pada “Kehilangan Yang Kedua

  1. Assalamualaykum, teh salam kenal, saya tia, punten mau nanya, saya berniat mengikuti beasiswa inpex 2013,
    apakah yang ikut beasiswa inpex harus sudah bekerja terlebih dahulu sebelumnya?
    terima kasih 🙂

  2. Fety, udah lama nggak kesini….lagi sibuk2 nya.
    Syukurlah akhirnya barang yang hilang ketemu, kalau di Indonesia, mungkin kalau penemunya nggak mau capek sudah dibuang ke tempat sampah. Tapi pernah juga, anakku kehilangan STNK motor, kami lapor kehilangan dan dapat ganti STNK baru…sebulan kemudian ada yang mengantar STNK ke rumah…rupanya terjatuh di dekat UI.

    Jadi, sekarang posisi dimana? Udah balik ke Indonesia? Padahal mau tanya2 tentang beasiswa ke Jepang, si bungsu awal Oktober ini ke Toyohashi, mendapat beasiswa monbusho untuk research program selama 1,5 tahun di TUT.

    fety: fety masih di Jepang bu, InsyaAllah sampai April 2011. Boleh, bu, untuk nanya-nanya..

  3. panjang amat tulisannyaa.. kayaknya perlu dicetak di kertas neeh buat bacaan menjelang buka. heheee

    bahayyaa jg ya kalo ampe kehilangan paspor.

    hiks.. gw blm punya paspor,

    fety: lagi latihan nulis runtut, jadinya panjang deh:)

  4. salam, fety 🙂

    ngomongin soal kecurian, jepang jauh “lebih islami” dibanding negeri kita yg mayoritas muslim.

    jaketku pernah lupa ketinggalan di kampus, dan tak pernah lagi ketahuan rimbanya. sepatu punyaku juga raib saat shalat di masjid pogung raya di bulan ramadhan. bahkan laptop punya temanku diembat orang di perpus jurusan.

    wealah, indonesia-indonesia …

    masukan utk tulisan di atas: kepanjangan kayaknya deh. kronologinya klo bisa lebih dipadatkan lagi. pembaca hanya ingin tahu kata kuncinya aja kok. 🙂

    setta ss


    fety: terima kasih untuk masukannya yah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s