Negeri Sakura Mengajarimu, Ibu

Hari ini sedang dirayakan hari ibu di negeri Sakura. Aku pengen menghadiahkan tulisan panjang ini untuk tiga orang mbakku yang mengajarkan tentang kekuatan seorang ibu kepadaku. Terima kasih, mbakku:) Happy Mother Day.

####

Dulu ketika masih kuliah, mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dalam waktu yang sama, aku akan berusaha menghindarinya. Rasanya, otak lebih enak diajak berfikir ketika mengerjakan sesuatu secara bertahap. Maksudku begini, setelah pekerjaan A selesai dikerjakan, barulah aku berfikir perencanaan pekerjaan B. Karena itulah, saat ultimatum dari ibunda untuk segera menyelesaikan skripsi karena si adek bungsu juga akan mulai masuk kuliah, aku lebih memilih untuk mengundurkan diri dari calon ketua Kopma universitasku dan benar-benar fokus dengan skripsiku.

Maka juga tidak terbayangkan di benakku, saat memikul dua amanah sekaligus, menjadi ibu sekaligus mahasiswa. Dua amanah yang keduanya membutuhkan totalitas untuk bermain dengan cantik dan apik.

Bagaimana tidak, seorang ibu secara sunatullah adalah tempat sekolah pertama bagi putra-putrinya sehingga mestilah seorang ibu adalah orang yang cerdas dan pandai. Itu yang mengendap dalam pikiranku sejak lama. Membesarkan seorang manusia bukan hanya proses coba-coba, trial dan error. Mesti mempunyai ilmunya, mulai dari proses kehamilan, kelahiran, menyusui, pendidikan anak dan hal-hal lain yang mungkin sekilas adalah hal yang remeh-temeh. Padahal tidak, bukan?

Begitu juga dengan peran sebagai mahasiswa. Selalu menuntut untuk belajar secara dinamis dalam ruang gerak yang bebas. Laksana burung yang terbang di langit pagi hari yang biru. Meliuk-liuk dalam bungkusan gemerisik angin dan terpaan hangat sinar matahari untuk menyongsong dunia yang penuh warna. Dan peran inipun haaruslah dijalankan dengan ilmunya.

Lalu, bagaimanakah jika kedua peran itu dijalankan dalam suatu waktu? Menjadi seorang mahasiswa sekaligus ibu muda. Dan itu adalah di negeri sakura. Mereka bertiga yang mengajariku.

Aku mengenal mereka bertiga memasuki bulan keempat. Pertemuan penuh cinta setiap dua pekan sekali membuatku lebih mengerti: bahwa mereka adalah ibu-ibu yang hebat. Menjadi mahasiswi di sebuah negeri yang begitu tersohor dengan kecanggihan teknologinya, Jepang, adalah sebuah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tapi, bukan berarti mereka juga melupakan peran yang sangat terhormat yang dianugerahkan oleh Sang Penguasa Kehidupan: menjadi ibu. Tentu ada energi lebih untuk menjalankan kedua peran itu dengan apik. Di saat dukungan keluarga besar secara fisik tidak bisa menjadi tumpuan, maka peran penting dan pengertian suamilah yang menjadi pelipur lara saat-saat berat menyapa.

Beliau adalah seorang mahasiswi doktor di sebuah universitas negeri di negeri Sakura. Menginjakkan kaki di negeri sakura sejak memasuki pendidikan setara D3 hingga kini. Jangan bayangkan, beliau adalah seseorang yang masih lajang sehingga leluasa mengerjakan penelitiannya di laboratorium. Beliau adalah seorang ibu. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan di Jepang. Ada tiga orang putra kebanggaannya, yang menghiasi hari-harinya dengan tangis dan canda khas anak usia sekitar 2 tahun, 4 tahun dan 6 tahun.

Aku tidak bisa mengukur sebesar apa energi yang telah tercurahkan olehnya, bersama suami tentunya, untuk mendidik ketiga putranya di tengah kehidupan masyarakat Jepang yang cenderung jauh dari nilai-nilai agama. Juga dengan peran lain yang mesti dia jalankan dengan hasil yang bagus, menjadi mahasiswi doktor. Tapi yang jelas, kemampuan anak pertama dan kedua menghafal beberapa surat dalam Al-Quran, termasuk surat Yaa-Siin dalam usia yang masih belia menunjukkan kepadaku bahwa cintanya kepada anak-anaknya sama dengan cintanya untuk kepada ilmu pengetahuan. Senyum mereka yang bertiga yang selalu sumringah dan ceria, adalah bukti lain bahwa anak-anak itu dibesarkan dengan kasih sayang yang utuh. Aku pernah bertanya kepadanya, bagaimana dia mengajarkan putra-putrinya hafalan Al-Quran itu. “Didengarkan setiap menjelang tidur”, ujarnya tanpa ada raut kesombongan tersembunyi. Dan, aku mesti paham, sepertinya mengalokasikan waktu yang benar-benar khusus adalah tidak mungkin baginya.

Seorang teman yang lain adalah mahasiswa doktor tahun kedua di universitasku. Mempunyai seorang putri memasuki usia hampir tiga tahun dan mendampingi suami yang juga tengah melanjutkan pendidikan postgraduatenya. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuanlah, yang membuatnya menempuh pendidikan doktor di Jepang dengan biaya sendiri di semester awal, lalu mendapatkan beasiswa hanya untuk jangka waktu satu tahun dan kini sedang mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa untuk pendidikan doktor tahun kedua dan ketiganya. Bukan hal yang mudah tentu. Status suaminya sebagai mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Jepang, kadang menjadi batu sandungan untuk diterima menjadi grantee sebuah beasiswa.

Dia pernah memilih mundur, saat mendapat tekanan yang sangat hebat dari senseinya saat menempuh pendidikan doktor di universitas lamanya karena sang sensei selalu menyalahkan statusnya sebagai seorang istri dan ibu yang tidak akan mungkin bisa memberikan totalitas untuk penelitiannya. Tapi, suaminya mengerti, sang istri adalah wanita yang cinta pada ilmu pengetahuan. Dan, dorongan dan masukan dari suamilah yang akhirnya membuatnya menempuh pendidikan doktor di universitasku, sama dengan universitas suaminya. Dan kini, dia bisa tersenyum, kecerewetan putri yang ceria dengan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yang kadang dicampuraduk, dan saat ini sedang terbata-bata mengeja huruf hijaiyah, adalah pertanda bahwa pilihan untuk pindah universitas adalah pilihan yang tepat. Bukankah kegembiraan anak adalah pelipur segala penat dan duka?

Seorang calon ibu muda lainnya, adalah seorang mahasiswi doktor tahun pertama di universitas negeri terkenal di Jepang. Ceritanya tentang usia kehamilannya yang memasuki usia empat bulan di sepanjang perjalanan di sebuah stasiun dari sebuah pertemuan dua mingguan kami membuatku terdiam. Apakah aku mampu memikul beban itu, kalau aku berada di posisinya? Itu pertanyaan yang menyelinap di benakku. Mengikuti jejak suami yang melanjutkan pendidikan doktor di negeri sakura, membuatnya mengambil keputusan untuk juga melanjutkan pendidikan masternya meskipun dengan biaya sendiri. Langkah yang memang harus diambil. Jika tidak rentang waktu tiga tahun dalam perpisahan sementara Jepang-Indonesia bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Untuk hanya menjadi seorang istri yang menemani suami belajar di negeri orang tidak mungkin dia memilihnya. Instansi tempatnya mengajar tidak membolehkan hal itu.

Lalu apakah yang membuatku salut kepadanya? Kesabaran dan kelembutannya menghadapi karakter senseinya yang sangat keras. Itu yang membuatku berfikir kekuatan cinta kepada suamilah yang mengikat kesabaran dan kelembutan dalam tubuh ringkih itu. Apakah pernah terbayang di benakku, saat berada di sebuah laboratorium dengan jam kerja hampir dua belas jam? Atau mendapat ultimatum langsung dari sensei bahwa tidak boleh hamil jika ingin melanjutkan pendidikan master dan doktor di laboratoriumnya, meskipun sang sensei adalah seorang perempuan? Atau ketika beberapa kali draft paper ditolak dengan alasan bahasanya belum bagus? Dan juga diminta mengerjakan pekerjaan yang tidak berhubungan dengan tugas sebagai mahasiswa misalnya memijiti dan menjadi sekretaris pribadi sang sensei? Maka, aku akan langsung memilih mundur.

Dia tidak. Dia tetap berdiri kuat dan kokoh. Dia membuktikan totalitasnya sebagai seorang mahasiwi master selama hampir 2 tahun. Di akhir pendidikan masternya, walaupun tidak dikoreksi oleh sang sensei, papernya diterima di sebuah jurnal internasional tanpa koreksi dan review. Dia menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh senseinya dengan hasil yang sempurna. Dan ketika dia berpamitan secara baik-baik untuk pindah ke universitas lain karena dia sedang mengandung seorang janin dan tetap ingin melanjutkan pendidikan doktornya, sang senseipun berkata: “Yuni san, please don’t move to other university. You can take care of your baby in here”.

Dia tersenyum penuh kemenangan. Selaksa bahagia memenuhi ruang jiwanya. Saat ini, dia mendapatkan kemudahan-kemudahan yang telah ditunggu-tunggunya selama 2 tahun. Dia bisa menjalankan perannya sebagai ibu dengan leluasa, dengan tetap menjalankan secara apik tugasnya sebagai mahasiswi doktor.

@spring, Feb 2009

Iklan

2 pemikiran pada “Negeri Sakura Mengajarimu, Ibu

  1. Fety, tulisanmu mengingatkanku pada masa lalu. Fisik saya tak terlalu sehat, sering pusing jika kepanasan (olahraga, upacara) dsb nya. Bukan hal aneh jika alm ibu malamnya memijat kakiku, agar saya bisa tidur nyenyak. Tak heran, ibu menangis saat mengantarkan saya berangkat ke Bogor, kota yang sering hujan, dan dingin. Beliau membayangkan siapa yang akan memijat kakiku, menggosok perutku jika sakit perut? Ternyata, jauh dari ortu membuat mandiri, walau 3 bulan pertama merasa sedih.

    Juga setelah berkeluarga….yang harus kuliah lagi, pekerjaan menggunung dan anak atau suami sakit, rasanya badan babak belur…namun toh harus dilalui, dan kenyataannya kuat. Perempuan memang mendapat kekuatan, bukan dari fisiknya, namun dari semangatnya, motivasi untuk menjadikan keluarganya hangat, rumah yang menyenangkan bagi suami dan anak-anaknya. Percayalah, itulah kekuatan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita, kaum perempuan.

    (Wahh jadi panjang…ntar kayaknya perlu posting tersendiri deh)

    fety: sepakat, ibu:) perempuan itu memang kuat. he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s