Tetangga itu…???

Alhamdulillah tulisan ini menjadi salah satu tulisan terbaik dalam lomba yang diadakan oleh Little Tiggy Club. Moga rencana untuk dibukukannya kumpulan tulisan terbaik di komunitas ini tidak mengalami hambatan:)

######

08162002Aku baru merasa mempunyai tetangga sekitar sembilan bulan yang lalu. Sebelumnya? Hmm, kayaknya aku gak merasa mempunyai tetangga. Kalau tetangga kamar kos bisa dikategorikan sebagai tetangga, baiklah sejak kuliah aku sudah mempunyai tetangga kamar kos. Tapi, sepertinya, definisi tetangga tidak hanya sekedar tetangga kamar kos bukan?

Berada di rumah nenek dari pihak ibu ketika SMU, rasanya aku tidak merasakan hidup bertetangga. Toh, ada kakak ibu dan nenek yang melakukan tanggung jawab hidup bertetangga itu. Itulah pikiranku kala SMU. Kalau sekedar menyapa dan bertukar senyum saat berpapasan, aku juga melakukan itu. Tapi, lebih dari kedua hal itu, kakak ibu dan neneklah yang melakukannya. Sekedar berbagi makanan atau buah-buahan yang dipetik dari lahan sendiri. Juga, berkunjung dan ikut bantu-bantu kalau ada hajatan di rumah tetangga nenek.

Menginjak usia kuliah, mengetahui nama, asal, dan fakultas teman-teman sekos cukuplah sudah. Atau sekedar berbincang kala makan malam dan menonton bersama di ruang tivi rumah kos kami. Lebih dari itu, ada perasaan segan yang menggelayut. Kecuali pada teman kos yang memang sudah sangat dekat.

Menamatkan kuliah selama hampir lima tahun dan akhirnya mengungsi ke Bandung untuk mencari sesuap nasi, belumlah mengubah prilaku kehidupan bertetanggaku. Hanya satu atau dua orang tetangga ibu kos yang aku mengetahui namanya. Sedangkan lainnya, biasanya aku hanya bisa tersenyum saat berpapasan di jalan ketika aku menuju ke tempat kerja atau kembali ke kosku. Parah memang kehidupan bertetanggaku. Pergi ke tempat kerja saat matahari masih di sepenggalah dan kembali ke kos saat matahari senja menggantung di ufuk barat. Efek lelah biasanya lengkap sudah membuatku menghabiskan malam di dalam kamar sambil menikmati sebuah film, mendengarkan radio atau membaca. Dan siklus harian itu akan berulang di keesokan harinya.

Menikahlah yang mengubah segalanya. Walaupun masih belum satu rumah dengan suami selama dua puluh empat jam dalam satu minggu, suami tetap menginginkan aku tidak berada lagi di kos. Akhirnya, kami sepakat mengontrak sebuah rumah petakan kecil di sebuah sudut kota Bandung. Memang lebih menguntungkan untuk kami yang masih berstatus pengantin baru. Kegiatan akhir minggu kami di rumah petakan itu terasa lebih privasi jika dibandingkan saat aku masih berstatus anak kos-kosan. Walaupun tetap aku harus berada dalam sepi dan sendiri di rumah petakan kami dari Senin-Jumat. Suamiku memang bekerja di Jakarta sedangkan kepindahanku dari kantor di Bandung sedang berada dalam proses pengurusan.

Awalnya sangat berat memenuhi permintaan suami untuk mengontrak rumah petakan itu. Toh, kami bersama cuma di akhir minggu. Terbayang sudah segala jenis kerepotan jika mengontrak. Apalagi saat itu adalah kali pertama aku mengontrak dalam umurku yang keduapuluhenam tahun. Sejak kuliah, aku memang selalu menolak jika ada teman-teman yang mengajak mengontrak sebuah rumah dan menempatinya bareng-bareng. Mungkin karena memang sifat dasarku yang tidak mau repot untuk hal yang remeh temeh. Demi bakti kepada sang kepala rumah tangga, akhirnya aku mengangguk setuju untuk rencana mengontrak kami.

Dan kebingunganpun melanda saat harus memulai kehidupan bertetangga. Bagaimana yah kehidapan bertetangga pertama kali? Tersenyum? Tentu saja, aku melakukannya. Tapi, kehidupan bertetangga kan lebih dari sekedar tersenyum manis saat berpapasan? Dan akhirnya, aku memulainya dengan berbagi makanan kecil yang kubuat di akhir minggu. Tentu saja resep yanag sangat sederhana. Pisang goreng, bakwan, bubur kacang hijau, atau potongan agar-agar. Dan berlanjutlah kehidupan bertetanggaku dengan tetangga rumah petakan kami. Tetanggaku juga senantiasa membalas hantaranku. Kadang dengan menu lengkap dan kue-kue yang enak. Sangat kontras dengan menu-menu sederhanaku. Dan semakin berkobar keinginan untuk bisa memasak menu-menu yang enak. Bukan lagi hanya sekedar masakan yang sederhana.

Ada sebuah perasaan kehilangan saat kami harus berpisah. Pamitanku bersama suami di sebuah senja cukup meninggalkan sebuah sedih di hati kami. Tentu saja aku akan kehilangan. Apalagi wajah tampan si kecil berusia satu tahun lebih yang selalu tersenyum kalau bertemu denganku di akhir minggu saat aku menjemur pakaian. Juga dengan canda si kecil di rumah kami bersama suami, kalau aku berhasil membujuk si kecil, anak tetangga kami itu, untuk berada sejenak di rumah petakan kami.

Tapi itulah hidup. Sebuah pertemuan kadang senantiasa berteman dengan sebuah perpisahan. Sebuah hukum alam yang tidak bisa diubah. Ada pertemuan bersama perpisahan. Ada kesenangan yang menemani kesedihan.

Saat ini aku berada di Jepang. Di sebuah kota kecil, sekitar satu jam dengan menggunakan kereta listrik dari kota metropolitan Tokyo. Sudah tiga bulan menempati sebuah couple room di sebuah asrama internasional milik universitkasku. Aku masih sendiri. Suamiku masih berada di Indonesia, menyiapkan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan rencana beliau untuk juga melanjutkan studi di negara yang sama denganku. Tapi, sungguh, aku belum merasakan kehidupan bertetangga di sini. Apalagi di gedungku, dari delapan room, hanya aku sendiri yang berasal dari Indonesia. Mungkin juga, situasi ini terbawa oleh kehidupan di negeri Sakura yang cenderung individulis, tidak mau merepotkan orang dan juga sebaliknya, tidak mau direpotkan oleh orang lain.

Sepi, tentu saja. Malam-malampun hanya berteman suara-suara berbahasa Jepang dari acara-acara tivi milik negara sakura. Atau kadang berteman buku-buku kuliah yang memang mesti harus dibaca. Terasa sangat kontras dengan kesendirianku di rumah petakan kami di Bandung dulu. Kadang setiap pagi selalu bertemu wajah-wajah penuh senyum, juga sapaan-sapaan akrab lainnya. Begitu juga, ketika pulang dari tempat bekerja ke rumah petakan saat senja di ufuk barat. Mesti ada senyum. Juga wajah-wajah penuh keramahan. Di sepanjang perjalananku dari tempat mencari sesuap nasi, menuju rumah petakan kami. Di Jepang, saat pagi adalah saat awal sebuah kesibukan dimulai. Dan saat malam adalah saat lelah berada di pelupuk mata. Maka, bertemu dengan wajah-wajah yang super serius adalah hal yang teramat biasa. Juga dengan orang-orang yang lalu-lalang dengan sepasang earphone di telinga.

Karena itu, kalau aku mendapat pertanyaan: bagaimanakah kehidupan bertetangga itu? Dan aku pasti akan menjawab: sungguh sangat menyenangkan. Ada pelajaran toleransi dan kedewasaan dalam kehidupan bertetangga. Ada juga pelajaran berbagi dan tenggang rasa. Tak lupa pelajaran keramahan akan turut serta. Dan, akhirnya, tidak akan sebuah penyakit bernama stres dan lelah yang menggelayut di pikiran. Kesibukan hari itu akan berakhir dengan sebuah senyuman dan sapaan para tetangga di ujung senja, saat stres dan lelah memenuhi hampir semua ruang pikiran dan perasaan. Karena itulah kuucapkan selamat untuk teman-teman yang mempunyai tetangga. Dan untuk itu. ijinkanlah pula aku iri pada kalian.

Untuk keluarga Kaleg di sebuah sudut kota Bandung: bagaimanakah kabar kalian saat ini?

@dormitory, Inage, Desember 2008

Iklan

4 pemikiran pada “Tetangga itu…???

  1. iya, mungkin disini emang nggak mau direpotin makanya nggak ngerepotin orang kaliyah mbak..
    pas aku baru ngelahirin, Sukma ngasih buah ke tetangga2 di rumahku yang lama,,eh ada yang nolak…huhuhu..sedih..ehehehe

    fety: iya ully, lain ladang lain belalang yah:)

  2. Cerita yang sangat menarik Fety…..hmm ya bertetangga itu menyenangkan kalau kita bisa saling menjaga hubungan, terasa punya keluarga dekat.
    Kebetulan saya selalu mendapatkan lingkungan menyenangkan, sejak tinggal di rumah kontrakan di Rawamangun, di rumah dinas dan sekarang setelah pensiun, terpaksa tinggal di rumah sendiri. Jika ditanya, maka yang paling menyenangkan adalah tinggal di rumah dinas, karena satu kantor, situasi sangat menyenangkan, anak-anak juga punya teman main seumuran.

    fety: yah, ibu benar. yang terasa hilang sejak tinggal di jepang adalah senyum para tetangga:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s