Memaafkan Diri Sendiri

teratai1Saat itu siang. Menyusuri jalan utama kampus yang daunnya sudah berguguran, udara dinginpun tetap menyergap. Aku memapah sepedaku. Seorang adek berjalan disampingku. Kami menuju ke perpustakaan utama kampus. Menemani si adek mengembalikan buku, sekaligus menunggu teman-teman yang lain untuk makan siang bersama di kantin kampus. Penghiburan ala perantauan di negeri orang. Makan siang bersama dengan bekal masing-masing. Paling tidak cukup menjadi penyegaran pikiran dan perasaan sebelum bergelut kembali dengan keseriusan.

Mbak, kok kemampuan bahasa jepangku gak nambah-nambah yah”, kurang lebih begitulah curhat sang adek di antara langkah-langkah kaki kami membelah dingin. Dan kemudianlah keluarlah curhat tentang kemampuan diri sendiri yang merasa dibawah rata-rata jika dibandingkan orang lain.

Seakan sebuah palu menghentakku saat mendengar dia bercerita. Akupun tengah berhadapan dengan kondisi yang sama. Mencoba membangkitkan semangat dari sebuah streotipe pribadi kalau otakku bukanlah otak bahasa.

Kamu orang yang perfeksionis yah, dek?”, akupun mengajukan pertanyaan itu. Aku percaya dia mempunyai kemampuan yang tidak bisa dibilang di bawah rata-rata. Tercatat sebagai mahasiswa di sebuah kampus negeri terbaik di bilangan Jabodetabek, bahkan mungkin juga di Indonesia, cukuplah menjadi bukti kalau dia memang mampu untuk bidang bahasa. Apalagi, saat ini dia tercatat sebagai seorang mahasiswa pertukaran bahasa. Bukti lain kalau dia adalah seorang mahasiswa terbaik di angkatannya. Dan akupun percaya.

Dek, mbak fety percaya kamu adalah orang yang pandai, pun juga untuk bahasa Jepang. Kalaupun saat ini kamu belum mencapai hal yang kamu targetkan, maafkanlah dirimu. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda, dek.”, jujur nasehat ini lebih kuutamakan untuk diriku sendiri saat kuucapkan untuk dirinya.

Memaafkan diri sendiri. Sebuah frase yang kususun untuk diriku sendiri kala berhadapan dengan situasi yang saat keminderan yang aku sedang belajar untuk menguburnya datang tanpa diminta. Juga saat bercampur dengan keletihan hati untuk sebuah rasa sombong dan egois yang menyelinap di dalam lubuk hati karena sebuah masa lalu. Atau saat tertatih-tatih berusaha berbicara dengan jelas dan dimengerti dalam bahasa Jepang atau Inggris, dan setiap kali itu pula kesalahan diperbuat.

Jujur, seribu pertanyaan mengapa hadir saat semua itu menyeruak ke permukaan. Dan kelelahan fisikpun bertambah. Mengapa kesalahan yang sama diperbuat lagi? Bodohkah aku? Atau aku memang belum mampu untuk itu? Dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan muaranya, selain capek yang bertambah pada sudut pikiran dan relung hati yang lain.

Dan akhirnya, maafkan karena hari ini masih ada egois dan sombong yang terselip. Maafkan karena hari ini masih berbuat kesalahan saat bicara dalam bahasa Jepang atau Inggris. Maafkan karena belum bisa menyelesaikan target. Maafkan…Maafkan…Sebuah permaafan untuk diri sendiri atas begitu banyak kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat. Lebih melegakan dalam ruang hati. Dibandingkan dengan meneriakkan seribu pertanyaan mengapa kepada diri sendiri dan selanjutnya mencap diri sendiri sebagai orang yang ‘bodoh’, ‘tidak mampu’, atau apalah kata-kata negatif lainnya.

Bukan bermaksud merendahkan kemampuan diri sendiri. Bahwa mimpi dan target harus diletakkan pada tempat tertinggi di ujung langit, aku sangat setuju. Tapi, bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda, itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Dan bahwa menyamakan kemampuan diri sendiri dengan kemampuan orang lain, adalah sesuatu hal yang justru akan melemahkan potensi diri sendiri karena membuat pusat untuk semua hal yang bernama ‘kelebihan’ ada pada diri orang lain.

Maka aku teringat dengan nasehat seorang guru saat masih berseragam abu-abu:”Berusahalah terbaik untuk hari ini karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok”. Sebuah pesan untuk seorang murid SMU yang cita-cita tertingginya saat itu adalah menjadi guru TK. Kemampuan finansial orang tuanya membuatnya takut bermimpi menjadi seorang anak kuliahan. Juga dengan sebuah ucapan penuh semangat dari seorang guru yang lain, masih saat berseragam abu-abu: “Percayalah, semua orang adalah pintar. Keberadaan fasilitas pendukunglah yang membedakan kemampuan seseorang dengan seseorang yang lain”. Sebuah kalimat yang menginsipirasi kata-kata semangat yang dituliskan pada lembar pertama sebuah buku diary:”Kesuksesan yang dicapai dengan keberadaan fasilitas pendukung yang memadai adalah biasa, tapi kesuksesan yang diperoleh dengan keberadaan fasilitas pendukung yang hampir tidak ada adalah luar biasa”. Sebuah kalimat yang senantiasa dibaca ketika sedih melanda saat-saat prihatin waktu kuliah menyapa, bahkan juga untuk sebuah sedih karena satu set komputerpun baru bisa dibeli saat-saat menjelang skripsi.

Tapi, itulah cara memaafkan diri sendiri untuk sebuah target yang masih panjang untuk direngkuh. Bukan berarti harus berhenti dan lari berbalik arah. Mundur menjadi seorang yang kalah. Memaafkan diri sendiri berarti berhenti sejenak, membuang semua luka karena sedemikian banyaknya kesalahan yang telah diperbuat karena kekurangan pada diri, dan selanjutnya kembali mempersiapkan diri untuk berjuang lagi, lagi dan lagi. Tentu dengan semangat yang baru: bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini.

@winter, february 2009


Iklan

6 pemikiran pada “Memaafkan Diri Sendiri

  1. Sdh hmpr sebulan, dan belum bisa jg saya memaafkan diri sndiri.. Saya sdh meminta maaf, mengakui, dimaafkan, tapi sahabat saya tegas mengatakan tdk ada niat utk memperbaiki hubungan kami lg.. Bijak pada diri sndr itu seperti apa mbak…

    fety: melupakan sejenak yuk mbak:)

  2. Bgmn dgn memaafkan diri sndr krn telah khianati satu2nya sahabat???

    Sy tdk jg bs memaafkan diri sy sndr krnnya.

    fety: pertanyaan yang sulit:) tapi berusaha bijak dengan diri sendiri semoga bisa membantu untuk itu, walaupun saya mengakui untuk bersikap bijak dengan diri sendiri saya kadang masih kalah.

  3. seperti biasa, tulisan mbak fety selalu memberi inspirasi buat pembacanya…. terimakasih atas tulisannya yang selalu bagus dan membangun jiwa 🙂
    apa kabar mbak fety di jepang sana?

    fety: makasih, bunda. alhamdulillah di jepun sudah menjelang musim semi. cuacanya lumayan menghangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s