Sisi Lain Jepang: Cerita tentang Mereka yang Terpinggirkan

pict0424Bagaimanakah menjadi orang yang terpinggirkan? Hmm, sama sekali aku tidak mempunyai bayangan. Aku berada di bagian luar lingkaran kehidupan mereka. Tapi, aku tertarik untuk mengamati mereka. Maksudku orang yang terpinggirkan adalah orang-orang yang dikaruniai Sang Khalik sebuah kehidupan istimewa, yang mungkin tidak semua orang akan mampu memikulnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai rumah (homeless people) dan orang-orang yang dengan ketidaksempurnaan anggota tubuh (handicapped people).

Entah sejak kapan aku mulai memperhatikan mereka. Mungkin sejak tinggal di Jepang, dan akhirnya timbul sebuah pikiran untuk membandingkan keadaan mereka di negeri kelahiranku dan di negeri sakura.

Aku sudah berapa kali bertemu dengannya. Di musim dingin ini, yang mana pada saat suhu terendah sekitar 4 derajat Celcius, cuaca benar-benar dingin menggigit, apalagi jika disertai dengan rintik-rintik hujan. Semakin menggigit, bahkan juga untuk 4 lembar pakaian yang aku kenakan.

Dia adalah seorang kakek tua. Entah berapa umurnya. Aku tidak mengetahuinya dengan persis. Selalu pakaian itu yang dikenakannya setiap aku bertemu dengannya. Sebanyak tiga kali di stasiun di dekat kampusku dan 2 kali di stasiun yang berada tidak jauh dari asramaku. Setelan pakaian kumal yang warna biru tuanya telah berganti dengan coklatnya debu yang mengumpul begitu banyak. Dan menenteng sebuah tas dengan kumal yang juga hampir sama dengan bajunya. Tempat yang dipilihnya olehnya selalu sama. Sebuah tempat di depan departement store di depan pintu keluar stasiun. Sambil duduk pada bungkusan yang selalu menemaninya dan mengapit kedua tangannya di bawah ketiak menahan dingin. Lalu lalang orang seakan abai dengan keberadaannya.

Pertama kali bertemu dengannya aku kaget. Ternyata, di sebuah negeri yang terkenal dengan kecanggihan teknologi dan kemajuannya, mereka yang terpinggirkan juga berada di sini. Tapi, kekagetan itu segera berganti dengan sebuah kesadaran, kalangan masyarakat bawah memang senantiasa menjadi orang yang terpinggirkan. Maka, ingatanku kembali melayang pada sebuah taman yang begitu terkenal di seantero Tokyo. Kala, aku bersama dengan teman-temanku berkunjung ke sana, kamipun menemukan mereka. Pada sebuah antrian panjang, sambil menenteng wadah makanan, mereka senantiasa sabar untuk mendapatkan giliran mendapatkan makanan gratis. Dan ketika senja sudah menjelang, kala kami hendak meninggalkan taman itu, wajah-wajah tua kesepian yang hanya menahan dingin dalam kepitan tangan di bawah ketiak menyapa kami. Mereka tidur di sepanjang jalan keluar taman itu, hanya beralaskan selembar kain.

Maka, bagaimakah cerita tentang orang yang mengais tong sampah untuk mendapatkan menu makan malam mereka? Aku pikir, hanya di belahan negera berkembang saja, seperti negeriku, aku akan menemukannya. Tapi ternyata tidak. Di sebuah malam, di depan sebuah convenience store (di Jepang disebut dengan kombini) aku melihatnya. Tak sengaja awalnya. Setelah memarkir sepeda dan saat hendak masuk ke kombini itu untuk membeli kartu telepon, aku melihat laki-laki itu. Mengais tong sampah. Aku pikir dia adalah petugas kebersihan, tapi sebuah heran juga menyelinap: bukankah petugas kebersihan biasanya bekerja pada pagi hari. Maka, ketika hendak pulang dan melihat dia memasukkan makanan dan minuman yang baru didapatkan dari tong sampah ke dalam mulutnya, maka aku menjadi paham mengapa dia mengais tong sampah itu agak lama. Miris, tentu saja. Ternyata wajah kemiskinan tidak mengenal kemajuan sebuah negara.

Lain lagi cerita tentang mereka yang dikaruniai semangat yang membaja dalam ketidaksempuranaan anggota tubuh. Di Indonesia, mereka mungkin tidak mendapatkan tempat dengan keterbatasan fasilitas yang bisa membuat mereka bergerak dalam ruang yang lebih luas. Di negeri sakura, mereka mendapatkan dukungan fasilitas yang membuat mereka menjadi manusia yang mandiri. Maka, aku tidak menjadi aneh kala melihat seorang anak muda dengan sebuah tongkat penunjuk jalan berjalan sendirian pada suatu hari. Memang telah ada penunjuk jalan untuk mereka dengan keterbatasan penglihatan di sepanjang jalan. Juga di tempat-tempat umum lainnya, pada tangga naik atau turun menuju ke kereta listrik, misalnya. Sederhana tandanya, sebuah jalur kuning dengan batu-batu kecil yang menonjol yang memungkinkan menimbulkan bunyi kala bertemu dengan ujung tongkat yang mereka gunakan untuk memandu. Begitu juga dengan di dalam lift. Biasanya ada huruf braille yang memungkinan mereka dengan keterbatasan penglihatan bisa berpergian sendirian tanpa harus terlalu dikhawatirkan.

Maka, aku menaruh hormat yang pada pemerintah dan masyarakat Jepang dengan perlakuaan hormat mereka pada orang-orang dengan keterbatasan gerak sehingga mesti menggunakan bantuan kursi roda untuk beraktivitas. Malam ini, kala belanja pada sebuah supermarket, aku menatap haru pada seseorang. Membawa sebuah keranjang belanjaan yang hampir penuh, dia bergerak dari tempat beradanya bumbu ke tempat sayur dengan leluasa dengan kursi roda otomatisnya. Dia berbelanja sendiri, tidak ada yang menemani. Seakan jalur-jalur lebar yang memisahkan masing-masing rak yang memajang kebutuhan sehari-hari itu pada supermarket itu memang di sediakan untuknya.

Atau juga pada dua hari lainnya yang berbeda. Saat aku akan menuju ke rumah temanku dan saat pulang dari kantor pemberi beasiswaku untuk agenda bulananku, mengambil uang beasiswa. Dua buah peristiwa yang membuat aku setuju dengan pernyataan ibu seorang teman yang merasa tersanjung menjadi orang yang menggunakan kursi roda untuk beraktivitas di negeri doraemon ini. Bagaimana tidak?

Pada kedua hari itu, aku melihat dua orang anak muda yang tersenyum ceria pada kursi rodanya yang didorong oleh orang tua mereka. Tapi, di samping mereka ada petugas stasiun yang mendampingi, mulai sejak turun dari kereta hingga pintu keluar, seakan mereka ada orang terhormat. Bahkan, karena ketiadaan lift di stasiun yang selalu aku lewati jika hendak menuju kantor pemberi beasiswaku, alat bantu manual yang memungkinkan para pengguna kursi roda bisa menaiki tangga sudah disiapkan bahkan sejak calon penggunanya baru saja turun dari kereta. Dan kata-kata “ah sendainya di negeri kelahiranku, aku juga menemukan hal itu” langsung berkelebat di kepalaku, dan ketika di sambung dengan sebuah pertanyaan “kapan yah?” maka aku tidak menemukan jawabannya.

@winter, February, 2009

2 thoughts on “Sisi Lain Jepang: Cerita tentang Mereka yang Terpinggirkan

  1. Kalau soal orang cacat, memang jepang punya peraturan khusus yg sangat membantu mereka.

    Mengenai homeless, hmmmmm….. Jangan kaget yah, asal tau aja kalau warga negara jepang yg homeless bakalan dapat tunjangan sosial tiap bulan 150 ribu yen, tapi hak pilih pemilu mereka hilang.
    Kalau peraturan ini berlaku di indon, mungkin sebagian besar masyarakat ramai2 (ngaku) jd homeless. toh golput gak ngaruh koq.


    fety : kalau untuk kebijakan itu saya baru tau🙂 hmm, rasanya tidak bisa dibandingkan seratus persen antara Indonesia dan Jepang. Kalaupun di Indonesia, pengen ada kebijakan bantuan untuk homeless people tanpa harus menambah jumlah golput, rasanya bisa aja he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s