Sisi Lain Jepang: Sampah

Hari ini, menjelang siang, senseiku merapikan beberapa kertas yang tidak dipakai, dibantu seorang mahasiswa Yonensei. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu, dengan dibantu asistennya, beliau merapikan file-filenya yang tidak terpakai lagi. Sehabis sholat di gedung tetangga, memasuki ruangan mahasiswa, aku heran, hampir seluruh mahasiswa sensei yang datang hari itu berkumpul di meja besar, tempat biasanya mahasiswa konsultasi dengan sensei. Tidak biasanya, lab rame. Biasanya, rame oleh suara tuts-tuts keyboard yang ditekan oleh masing-masing pemiliknya.

Beberapa menit kemudian, asisten senseiku memanggil beberapa orang. Dan semuanya bergerak, seperti dikomando. Aku yang tidak mengerti apa-apa, heran aja, kok pada keluar semua. Kulangkahkan juga kaki menuju luar. Bertemu dengan senseiku di dedan pintu, akupun bertanya. Dan beliaupun menjelaskan, kalau mereka akan membuang sampah. Hmm, walaupun aku tidak diajak, akhirnya akupun menuruti langkah-langkah mereka menuju ke tempat sampah.

Tahukah kalian apa yang dibuang? Keyboard yang tidak terpakai, hardisk yang sudah rusak, PC komputer yang sudah tua dan tidak terpakai, beberapa jilid buku, beberapa potong kardus, dan berlembar-lembar kertas yang tidak digunakan lagi. Menuju ke tempat sampah di belakang gedung, beberapa mahasiswa juga membawa barang-barang elektronik lama. Ada televisi besar, kulkas ukuran kecil, printer yang gede, dan masih banyak lagi. Mungkin mau di daur ulang kali yah:)

Di Jepang, barang-barang yang akan dibuang dipisah dulu berdasarkan kategori yang telah ditentukan dan mesti dibuang pada hari yang telah ditentukan. Di Inage, misalnya, tempat asramaku berada. Barang-barang yang bisa di daur ulang, misalnya botol, dibuang pada hari kamis, sekali seminggu. Hari pembuangan sampah-sampah yang mengandung racun dan benda-benda yang mudah terbakar, misalnya perabotan rumah tangga dan barang-barang elektronik ukuran kecil adalah hari Sabtu, pada minggu kedua dan keempat. Sampah-samapah yang mudah terbakar, misalnya sampah dari sisa-sisa dapur, dibuang tiga kali seminggu yaitu pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Untuk perabotan-perabotan yang ukurannya besar, pembuangannya mesti berkoordinasi dengan kantor yang berwenag, di Jepang disebut the Sanitation Office dan hanya bisa dibuang sebulan sekali.

Repot yah kelihatannya? Menurutku, iya🙂 Untunglah, karena masih tinggal di asrama kampus yang katanya bertaraf international, di lingkungan asrama disediakan tempat khusus untuk meletakkan sampah. Jadi, kadang setiap hari bisa membuang sampah jenis apapun. Ukurannya cukup gede, sekitar 5 meter x 3 meter, dan dibuat bangunan permanen. Semua jenis sampah ada di tempat itu. Setiap pagi, aku melihat seorang kakek dan seorang nenek yang memilah -milah sampah yang mesti dibuang hari itu. Dan kalau aku berangkat ke kampus sekitar pukul setengah 10, mesti ucapan ohayou gozaimasu menyapaku yang akan mengayuh sepeda menuju kampus.

Tapi, sebenarnya, ada sisi menarik lainnya dengan adanya hari pembuangan sampah. Ini menurutku. Tidak ada tempat sampah khusus di Jepang. Kadang sampah hanya diletakkan di sisi jalan, lalu ditutupi dengan penutup. Tapi, jangan bayangkan akan ada sisa-sisa yang berserakan yah. Setelah sampah diangkut, semuanya akan kembali bersih. Yang menarik adalah memperhatikan setiap hari bergantinya jenis-jenis sampah yang diletakkan di sisi jalan menuju kekampusku. Kadang setumpuk buku, kadang sampah rumah tangga, ada juga televisi, micro wave aku juga pernah melihat, atau botol-botol minuman dan baju-baju yang menurutku masih sangat layak pakai. Biasanya malam hari menjelang pulang ke arama, sampah-sampah itu akan memenuhi sisi jalan. Dan pagi harinya, ketika menuju ke kampus lagi, sampah-sampah itu sudah tidak ada lagi.

Nah, kadang beberapa sampah itu, terutama barang elektronik, masih bisa digunakan. Temanku ada yang mendapatkan CD/DVD Player dari tempat sampah. Ada juga yang pernah mendapatkan pemanas air atau rice cooker di tempat sampah. Atau televisi. Juga karpet. Di awal-awal musim dingin, beberapa teman-teman bahkan mendapatkan jaket tebal dan sweater hangat dari tempat sampah. Kadang barang-barang itu diletakkan di tempat yang sengaja bisa dilihat, mungkin dengan maksud supaya dipungut. Atau kadang dengan alasan ingin ganti model, maka barang-barang lama di buang, padahal barang-barang tersebut belum rusak. Oh yah, rumah-rumah di Jepang ukurannya sangat kecil, jadi menyimpan barang-barang yang tidak dipakai bukanlah sebuah kebijakan hampir seluruh penghuni rumah di Jepang. Aku sendiri pernah mendapatkan jam yang terbuat dari kayu dan masih bagus. Juga sebuah jaket hangat, tempat baju kotor, gantungan baju, travel bag (he..he..banyak juga yah ternyata:))

Mendapatkan barang-barang tersebut kadang jadi anugerah. Tidak perlu membeli barang-barang yang dibutuhkan dan kadang harganya melangit. Wong, nanti ketika pulang ke tanah air, barang-barang tersebut akan dibuang juga ke tempat sampah. Atau diwariskan ke teman-teman lain yang masih tinggal di Jepang, jika masih layak pakai.

@kampus, winter, Februari 2009

Beberapa gambarnya:

180220091 Ganbar tempat sampah di lingkungan asrama saat bersih

18022009007

Gambar tempat sampah di depan asrama saat penuh sampah

180220090022

Gambar tempat pengumpulan sampah 1

18022009005Gambar tempat pengumpulan sampah 2

2 thoughts on “Sisi Lain Jepang: Sampah

  1. Hehehe… pemulung terdidik ya Fet?!😉 Sama aja, kita di Tsukuba juga begitu kok.

    Eh silahkan lho Fet kalo mau copy resep-resep dari blog-ku. Moga-moga resep-nya bermanfaat ya…🙂

    fety: waduh, istilahnya keren banget mbak:):) minggu kemarin, aku coba risolesnya lagi, mbak. wuihh..enak mbak. mbak sinta memang top deh:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s