Pelajaran Setahun Menikah

pict01581Dan berlalulah hari demi hari. Detik berganti menit, dan menitpun berganti jam. Tak terasa, jam berganti hari, hari berganti bulan dan sampailah pada hitungan satu tahun. Angka satu untuk bilangan kebersamaanku dengan suami dalam sebuah mahligai cinta. Memang, kebersamaan itu tidak dalam hitungan duapuluh empat jam pada satu atap sebuah rumah. Bahkan, ada lebih banyak keterpisahan dalam rentang waktu dan jarak. Sebuah konsekuensi dari pilihan kami untuk menggenapkan setengah dien di antara pilihan-pilihan lain yang mesti dipilih. Tetap ada banyak syukur di hatiku, walaupun kadang tertaih-tatih memungutnya dalam untaian hikmah. Dan akupun semakin yakin, ikatan suci di suatu pagi di kota kelahiranku setahun yang lalu adalah hadiah terindah dari Sang Khalik untuk kado hari lahirku pada bilangan dua puluh enam tahun.


Ikatan cinta atas nama Allah yang memberikan banyak pelajaran yang mengajariku lebih bersikap dewasa dan arif pada kehidupan. Meninggalkan sikap kekanak-kanakanku yang begitu sering diingatkan oleh suami tercinta. Terlebih pada anggapan orang-orang yang kadang menilaiku belum menikah jika ditilik dari sikap dan tingkah lakuku. Karena itulah, aku akan bangga berkata: aku sudah menikah atau I am married ketika pertama kali berkenalan. Bagiku, kalimat ini adalah penting. Sebuah kalimat pamungkas sehingga tidak ada harap apapun dari sebuah perkenalan, selain sekedar hanya menyambung ikatan silahturahim.



Dan inilah pelajaran-pelajaran yang menyatukan puzzle-puzzle yang berserakan dan membentuk sebuah kata: bahagia, dalam rentang satu tahun pernikahan ini.


Aku belajar untuk segera mandi atau sekedar bersih-bersih badan kala sore hari atau malam hari begitu pulang ke rumah, setelah beraktivitas seharian di luar rumah. Masku yang mengajariku tentang pelajaran pertama ini. Beliau akan segera mandi sore atau kadang malam hari begitu kaki menginjakkan lantai rumah kami, setelah perjalanan jauh Jakarta-Bandung. Tidak hanya itu, sepulang dari kantor, jika kebetulan aku yang berkunjung ke Jakarta, beliau tetap konsisten dengan kegiatan mandi sorenya begitu sesampainya di kos.


Ini berbeda denganku. Saat masih lajang, sepulang dari kantor atau dari kampus saat masih kuliah, aku tidak akan bersegera ke kamar mandi untuk mandi sore atau bersih-bersih. Biasanya aku akan leyeh-leyehan atau makan malam sambil menonton tivi dahulu ataupun hanya sekedar berbaring dan kadang sampai tertidur benaran. Dan akhirnya, kegiatan bersih-bersih badan dilakukan saat gelap sudah menyelimuti bumi. Dingin memang. Tapi, aku juga tetap harus melakukan kegiatan itu. Aku tidak akan bisa tertidur lelap kalau belum mandi sore atau hanya sekedar membasuh kedua kaki dan tangan jika terasa sangat dingin.


Bukan paksaan suami yang membuatku mengubah kebiasaan jelek satu ini. Tapi, cuma sebuah kekaguman pada kebiasaan suami yang langsung membersihkan badan begitu mengunjakkan kaki di rumah atau di kos. Dan ternyata, memang lebih terasa nyaman jika dibandingkan menunda-nunda untuk mandi sore begitu sampai di rumah, setelah beraktivitas seharian di luar rumah.


Aku bisa meracik resep masakan-masakan yang sederhana. Ini pelajaran cinta yang kedua. Memang, aku belum bisa membuatkan suami tercinta makanan favoritnya, ayam bakar. Tapi, paling tidak, anggapanku saat sebelum menikah kalau memasak itu adalah pekerjaan yang rumit sudah semakin menguap dari pikiranku. Sebelum menikah, beraktivitas di dapur adalah sesuatu yang aku berusaha untuk menghindarinya. Mungkin juga trauma karena beberapa kali hasil masakanku tidak seperti yang diharapkan. Dan pernah, akhirnya, olahan nasi gorengku mengisi tempat sampah di pojok dapur rumah kami di di kota kelahiranku.


Sebelum berlangsungnya ikatan suci itu, aku berkata jujur kepada suamiku kalau aku sangat tidak pandai memasak. Dan aku sudah sangat pasrah, jika karena kebelumbisaanku memasak dijadikan sebagai alasan untuk memutuskan rencana peminangan. Untunglah, si mas mempunyai prinsip: yang penting mau belajar dan mencoba. Ibu mertuakupun juga diberitahu oleh suami kalau calon menantunya yang berasal dari Bengkulu itu sangat tidak bisa diandalkan di dapur. Karena itulah, kalau pulang ke rumah mertua, Ibu mertua tidak pernah membiarkanku berada sendirian di dapur. Selalu ditemani. Dan aku akan selalu bertanya tentang olahan masakan ibu mertuaku. Biarlah dianggap nyinyir, asalkan aku bisa menepati janjiku pada suami setelah akad nikah kami: belajar memasak.


Mungkin juga karena tersugesti oleh sikap mas yang selalu menghabiskan masakanku, walaupun kadang aku sendiri merasakan rasa yang aneh, aku selalu bersemangat untuk memasak. Biasanya, kalau aku memaksa, barulah beliau akan bercerita kalau masakanku terlalu asin, terlalu pedas atau rasa yang terlalu lainnya. Kalau aku tidak memaksa, beliau tidak akan bercerita kecuali sebuah kata: enak:).


Terhadap hasil olahanku, beliau juga sangat menjaga perasaanku. Mungkin, beliau mengerti sikap kekanak-kanakanku yang sering mutung. Pernah suatu saat, bahkan lebih dari satu kali, ada rambutku di wadah sayur menu makan malam kami. Tanpa jijik, beliau menyingkirkan rambutku, dan makan kembali dengan lahap, tanpa jijik, dan seolah tidak terjadi apapun. Tinggallah aku yang sangat merasa bersalah. Suatu hari, aku bertanya: Mas memang tidak jijik jika di wadah makanan kita ada rambut Fey? Dan beliaupun menjawab: Mas tidak pernah merasa jijik dengan rambut Ibu -Ibu mertua- dan Fey yang berada di wadah makanan. Dan sungguh, aku merasa melayang di langit yang biru saat mendengar kalimat itu.


Aku belajar mengalahkan keegoisanku dengan menikah. Satu hal yang sangat terasa berat ketika pertama kali dilakukan sesaat setelah menikah: berpamitan ketika aku akan pergi kemanapun. Mungkin, karena aku sudah sangat terbiasa sendiri, termasuk dengan urusan memutuskan sebuah persoalan. Kami pernah berselisih paham karena aku pulang ke rumah kami di negeri sakura sudah sangat telat dan tidak memberitahu suamiku yang masih di Indonesia begitu sesampainya di rumah. Begitu sesampainya di rumah, aku langsung tertidur dan saat bangun mendapati beberapa sms suami yang begitu khawatir dengan keberadaan istrinya di negeri orang.


Memang, awalnya begitu berat. Tapi, lama kelamaan aku sangat menikmati pelajaran cinta yang ketiga ini. Ada sebuah perasaan bahagia karena aku diperhatikan dan dikhawatirkan oleh suami tercinta. Seorang teman pernah berkomentar tentang hal ini: Fety mah walaupun jauh dari suami tetap punya jam malam. Mungkin, itu benar. Itulah cara si mas menyayangiku, dan mematuhi tanpa sebuah keterpakasaan adalah caraku menghormati beliau sebagai imam dalam rumah tangga kami.


Aku juga belajar untuk mengemukakan perasaanku. Aku dan mas bukanlah tipe orang yang pandai menerka perasaan seseorang. Kami sangat tidak pandai untuk hal yang satu ini. Bahkan kami berdua menggelari diri kami sebagai orang yang tidak punya perasaan. Karena itulah kami berdua sepakat untuk belajar mengungkapkan perasaan kami, bahkan dengan melalui tetesan airmata. Mas, Fey sedang sedih. Hari ini Mas sedih, Fey. Fey sayang mas. Mas juga sayang Fey. Mas, hari ini Fey bahagia. Mas juga mempunyai kalimat favoritnya yang membuatku senantiasa melambung ke langit ketujuh kalau mendengarnya atau membacanya lewat sms. Luv you Fey sayang dan Luv you my sweet heart. Itu adalah ungkapan yang mengisi hampir setiap hari satu tahun pernikahan kami. Aku juga biasa melihat mas menangis jika mas sedang sedih. Dan, mas juga sangat sering menemui sikap ngambekku. Namun, tentu saja, perasaan sedihku dan mas atau sikap ngambekku tidak pernah bertahan lama. Selalu ada permintaan maaf yang mengakhiri semua itu. Dan maspun juga tidak pernah segan mengungkapkan kata maaf jika sebuah sikap beliau menimbulkan luka di hatiku.


Bagi kami, ungkapan perasaan itu adalah penting. Ungkapan-ungkapan perasaan itu membuat kami saling percaya satu sama lain. Bahwa, ada seseorang yang bersedia mengerti apa yang sedang dirasakan. Sedih dan bahagia. Kami juga ingin mengajari anak-anak kami nantinya bisa mengungkapkan perasaannya. Tentang kesedihannya. Tentang kebahagiaannya. Tentang kekhawatirannya. Bagi kami, selalu ada ruang di rumah kami untuk rasa sedih, bahagia, khawatir, dan senang. Karena itulah, kamipun mesti belajar duluan tentang cara mengungkapkan perasaan kami.


Aku belajar meredam sifat perfeksionisku dan sekaligus belajar untuk lebih percaya diri. Aku belajar menerima bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Bahwa kekurangan yang ada pada diri kita bukanlah sebuah aib dan menjadikan kita rendah diri. Bahwa mesti ada perbedaan kebiasaan dari dua orang yang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda.


Saat awal-awal menikah, aku sangat merasa asing saat berbincang dengan mas ketika mas menggunakan kata “aku” untuk menyebut dirinya. Bahkan, aku pernah sangat uring-uringan dan ngambek ketika si mas lupa menggunakan kata “mas” ketika menyebut dirinya. Kata “aku” sangat tidak lazim digunakan dalam keluargaku. Aku akan menggunakan kata “inga” ketika menyebut diriku kepada kakak atau adikku, dan menggunakan kata “wa”, “dhodho” dan “adek” ketika memanggil kakakku, adik perempuanku dan adik laki-lakiku. Walaupun aku sudah meminta mas menggunakan kata “mas” untuk menyebut dirinya ketika kami berbincang, tetap saja sangat sulit bagi mas mengubah kebiasaannya. Aku paham, adalah hal biasa di keluarga mas ketika menggunakan kata “aku” untuk menyebut dirinya. Mas juga memanggil nama pada ketiga orang adiknya. Alhamdulillah, saat ini mas sudah terbiasa menggunakan kata “mas” untuk menyebut dirinya.


Kebiasaan yang lain adalah pamitan sebelum tidur. Di keluargaku, sejak kecil kami selalu dibiasakan berpamitan sebelum tidur. Hanya sebuah kalimat: Bapak, Ibu, inga tidur duluan. Di keluarga mas, tidak ada saat berpamitan menjelang tidur. Tentu saja, ada perasaan kesal yang sangat, saat pertama kali mas tidur duluan tanpa berpamitan denganku. Dan, akhirnya, aku mengerti setiap orang berbeda. Untunglah saat ini, waktu di Jepang lebih cepat dua jam dibandingkan waktu Indonesia Barat. Jadi, mesti aku yang akan tidur duluan dibandingkan mas. Dan terhindarlah perasaan kesal karena ditinggal tidur tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Aku juga belajar kalau mendengarkan itu adalah pekerjaan yang begitu sulit. Padahal, Allah menganugerahkan dua telinga dan satu mulut untuk kita. Artinya, sebenarnya, kita harus lebih banyak mendengarkan. Mas yang mengajariku untuk belajar mendengarkan. Dan, akhirnya, akupun mengikuti pola kebiasaan mas yang tidak pernah memotong cerita-ceritaku dan membiarkan aku bercerita hingga titik. Cara ini pula yang mampu meredam kesalahpahaman di antara kami karena masalah volume suara. Mendengarkan baik-baik cerita si mas dan sampai akhir cerita membuatku mampu menyimak cerita-cerita mas dengan baik, walaupun mas berbicara dengan suara yang pelan. Kalau kata ibuku, suara mas sering tidak kedengaran jika berbicara dengan ibu bapakku lewat telepon. Padahal, menurut si mas, kalau berbicara dengan bapak ibuku, suaranya sudah sangat maksimal.


Dari sejak awal kami berdua sepakat, bahwa saling mengerti, memahami dan menerima apa adanya adalah cara untuk menjembatani perbedaan, kekurangan dan kelebihan antara aku dan mas, juga antara keluarga besar kami masing-masing. Kami dilahirkan di lingkungan keluarga besar yang berbeda budayanya. Aku dengan kebiasaan Sumateraku. Dan mas dengan adat Jawanya. Kami masih belajar untuk saling mengerti, memahami, dan menerima apa adanya. Kami masih baru memulai. Baru satu tahun, bahkan. Masih akan banyak bilangan tahun-tahun yang lain yang mesti kami berhadapan dengan perbedaan. Sejak awal aku selalu meminta mas menjadi laki-laki biasa di hadapanku dan aku juga akan menjelma menjadi perempuan biasa di hadapan mas. Walaupun seorang teman pernah protes denganku karena sebutanku laki-laki biasa untuk si mas, tapi bagiku mas bukanlah superman. Dan bagi mas, aku juga bukan superwoman. Dan ini lebih melapangkan hatiku dan mas untuk berbuat yang terbaik bagi rumah tangga kami.


@dormitory, Inage, Desember 2008

Untuk mas tersayang: thanks very much for everything.

Iklan

11 pemikiran pada “Pelajaran Setahun Menikah

  1. semoga menjadi kel.sakinah dan selalu dijalan Allah.swt.Biasanya umur pernikahan kurang dari 10 tahun masih labil dan banyak riak-riak yang menghadang kita,oleh sebab itu semua kita hadapi dengan kesabaran dengan tidak meninggalkan perintahNya dan menjauhi larangan.

  2. Assalamu’alaikum Fety… 🙂

    Iya betul, aku istrinya mas Luki. Sebenarnya aku udah sering dengar nama Fety (dari Pak Djedi dan mas Luki) tp belum sempat ketemu darat, eh kok ketemunya lewat blog.

    Met ulang tahun pernikahan ya… smoga langgeng dan penuh barokah sampai kakek-nenek.

    kalo ragi bilang aja dorai i-suto (dry yeast) contohnya di link ini http://junjungbuih.multiply.com/journal/item/57
    Kalo terigu protein tinggi (yang untuk bikin roti/donut) di kemasannya ada gambar roti. Aku lupa cara bacanya, yang jelas ada kanji tsuyoi dan komugiko.
    Smoga membantu ya…

    Salam,

    fety: wassalammualaikum wr wb, mbak sinta…makasih untuk doanya:) membantu banget, mbak…

  3. tak terasa sudah setahun ya Fet… kayaknya baru kemarin, semoga senantiasa diberikan kesabaran dan ada jalan terbaik untuk segera bersama. Karena ‘Garwo’ (bahasa jawa: pasangan) artinya adalah Sigaraning nyowo (separuh nyawa) jadi sungguh akan sempurna seperti seharusnya, jika tidak terpisah jarak dan waktu.
    Salam kangen dari syauqi-aufa dan kami sekeluarga.
    NB. Alahamdulillah kami sudah pindah rumah baru


    fety: iya teh, tolong didoakan kami yah:) makasih juga untuk nasehat-nasehatnya. bahkan sejak masih taaruf aja sudah merepotkan teteh:D hmm, jadi bernostalgia dengan kebingungan setahun yang lalu. hmm, kapan-kapan main ke bandung mesti nginap nih dirumahnya syauqi-aufa.

  4. happy anniversary mbak fety. semoga Allah terus memberkahi pernikahan fety dan mas-nya 🙂 dan jadi keluarga samara.
    saya ingat pesan kakek saya tentang sebuah pernikahan. katanya, suami & istri ibarat 2 batang lidi. yang pendek harus berusaha meninggikan dan yang tinggi harus dipotong sedikit supaya sama tinggi. Alhamdulillah, fety dan suami bisa melakukannya dengan sukarela dan ikhlas 🙂
    Insya Allah, bisa terus jadi ‘team work’ yang kompak dan yahud! amin…

    fety: dan sekarang bunda menurunkan pesan kakek ke saya:) makasih bunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s