Ah, Seandainya Jilbab…

Hari itu aku menggunakan jilbab berwarna kuning muda. Ada renda bercorak bunga dengan daun-daun kecil yang mengelilingi sepanjang pinggir jilbabku. Aku jarang menggunakan jilbab itu. Biasanya padanannya adalah rok hitam dan atasan bercorak batik dengan warna dominan adalah coklat tua. Pakaian itu adalah pakaian seragam pertamaku bersama suami. Kain batiknya adalah pemberian seorang teman suami sebagai hadiah pernikahan kami..

Sengaja hari itu aku menggunakan jilbab kuning muda itu untuk pergi ke kampus dan menghadiri kelas bahasa jepangku. Pukul enam sore itu ada acara Bounenkai di kantor sponsorship beasiswaku. Padanan atasan batik, rok hitam dan jilbab coklat kuning muda itu adalah salah satu di antara dua pasang baju yang sengaja kubawa dari Indonesia untuk dipakai dalam acara-acara penting selama aku berada di negeri matahari terbit.

Aku duduk di deretan ketiga di kelas bahasa jepangku. Pada barisan kursi di tengah-tengah kelas. Seperti biasa, teman-teman sekelas yang berasal dari Amerika selalu mengambil posisi pada barisan kursi di dekat pintu. Semuanya. Mereka pasti duduk berderet pada barisan itu. Dua barisan lainnya, biasanya bergantian ditempati oleh teman-teman dari China, Malaysia, Eropa, dan lain-lain. Dua orang mahasiswa China duduk di deretan kursi di belakangku. Tepat di belakangku adalah seorang laki-laki. Sedangkan di kursi yang terletak di samping laki-laki China itu, duduklah seorang mahasiswa perempuan. Dari China juga.

Mungkin sejak kelas dimulai, mahasiswa laki-laki China itu memperhatikan jilbabku. Di tengah-tengah sensei menjelaskan tentang materi bahasa Jepang hari itu, dia bertanya padaku. Tentang jilbabku. Pertama tentang bordirannya. Apakah dibuat dari mesin atau dengan menggunakan tangan? Kujelaskan sebisaku proses pembuatan bordiran di sepanjang pinggiran jilbabku. Diam sejenak dan memperhatikan penjelasan sensei yang begitu semangat menjelaskan tentang tata bahasa Jepang, rupanya mahasiswa laki-laki itu belum puas dengan jawabanku. Dan, akhirnya pertanyaannya berlanjut apakah jilbab adalah budaya Indonesia? Kali ini, seorang mahasiswa perempuan, juga dari China, yang duduk disampingku, yang membantuku menjelaskan tentang jilbab. Bahwa jilbab adalah pakaian wanita islam. Dia memang pernah bertanyaku tentang jilbabku.

Aku pikir diskusi tentang jilbab hari itu akan selesai. Ternyata tidak. Dan pertanyaan mahasiswa laki-laki itu kembali berlanjut, kalau perempuan yang beragama Islam menggunakan jilbab apakah laki-laki yang beragama Islam juga menggunakan jilbab? Ada rasa geli ketika mendapatkan pertanyaan ini. Tapi, aku tahu pertanyaan keingintahuan itu harus dijawab dengan mimik yang serius. Alhamdulillah di kelas bahasa Jepangku ada seorang mahasiswa laki-laki yang berasal dari Indonesia, juga beragama Islam. Dan tentunya tidak menggunakan jilbab:) Diskusi tentang jilbab hari itu berlanjut ke sebuah pertanyaan lanjutan. Kapan jilbab digunakan? Apakah di setiap musim, perempuan Islam menggunakan jilbab? Dan kali ini, senseiku ikut serta dalam diskusi kami. Teman-teman sekelas yang lain sedang asyik mengerjakan tugas grammar bahasa Jepang. Termasuk juga pertanyaan senseiku dalam diskusi hari itu, apakah sejak anak-anak menggunakan jilbab. Saat inilah aku merasa menyesal, mengapa aku mendapatkan pertanyaan ini di saat aku belum sepenuhnya mengerti bahasa Jepang. Terutama bahasa percakapannya. Dan ditambah dengan kosa kata bahasa Jepangku yang masih sangat minim. Bertambahlah penyesalan itu. Kujelaskan sebisaku dengan menggunakan bahasa jepang yang terpatah-patah, dicampur dengan bahasa Inggris dan gerakan tangan. Aku berharap penjelasanku bisa dimengerti.

Begitulah hari itu.

Di hari yang lain, di dalam kereta, saat menuju ke tempat daurah, aku dan temanku kembali mendapatkan pertanyaan tentang jilbab. Mungkin karena penampilan kami yang mencolok di antara perempuan Jepang dengan pakaian yang serba minim. Begitu pula saat pulang menuju ke rumah, seorang perempuan Jepang yang kutaksir berumur empatpuluhan juga mengajukan pertanyaan yang sama untukku dan temanku. Masih pertanyaan yang sama. Tentang jilbab.

Biasanya akan mudah menjelaskan apakah jilbab itu, kapan jilbab digunakan, siapa yang menggunakan jilbab kepada teman-teman yang berbeda warga negara dan bukan beragama Islam yang menanyakan tentang jilbab. Begitu pula jika yang bertanya orang jepang. Namun, penjelasan yang singkat dan mudah dimengerti terasa begitu sulit untuk dirangkai jika mendapatkan pertanyaan seperti ini: si anu juga beragama Islam. Tapi, mengapa dia tidak menggunakan jilbab?

Menganalogikan jawaban pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan bahwa juga tidak semua orang Kristen pergi ke gereja setiap minggu tentu bukanlah sebuah jawaban yang tepat. Begitu pula jika menjawab, bahwa juga tidak semua orang Jepang mengunjungi Jinja atau Otera untuk berdoa. Rasanya jawaban seperti itu tidaklah benar. Terus terang, sampai sekarang aku masih bingung untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Seorang teman perempuan dari Indonesia, juga beragama Islam, namun tidak menggunakan jilbab juga pernah mendapatkan pertanyaan itu. Mengapa dia tidak menggunakan jilbab seperti mahasiswa perempuan dari Indonesia yang beragama Islam lainnya? Dan setengah bercanda dia menjawab: kalau dia bukanlah contoh perempuan Islam yang baik. Jawaban yang tepatkah? Aku rasa juga bukan.

Sering menjawab pertanyaan tentang jilbab, membuatku pikiranku berandai-andai. Seandainya jilbab adalah pakaian setiap muslimah, berwarganegara apapun mereka. Berkulit hitam atau putih. Tentu saja, akan semakin mudah menjelaskan tentang jilbab kepada nonmuslim yang baru pertama kali melihat seorang perempuan Islam mengenakan jilbab. Dan tentu saja, tidak akan ada pertanyaan: mengapa perempuan Islam yang itu mengenakan jilbab sedangkan yang lain yang juga beragama Islam tidak mengenakan pakaian takwa itu. Namun, hidayah itu hanya milik Sang Khalik. Juga tentang sebuah kesadaran untuk mengenakan jilbab sebagai bagian dari pakaian sehari-hari.

Memang hanya Allah yang Maha Menggenggam Hati, dan Membolak-balikkannya.

https://ingafety.wordpress.com

Dormitory, Inage, Desember 2008

Ket:

Bounenkai : Pesta akhir tahun

sensei : panggilan untuk dosen, guru, dan dokter di Jepang

Jinja dan Otera : tempat beribadah di Jepang

Iklan

2 pemikiran pada “Ah, Seandainya Jilbab…

  1. Assalamu’alaikum wr.wb
    Mbak Fety, long time no see ^_^
    Skarang saya sedang liburan semester didesa kelahiran, brhubung dsini jauh dr Warnet,mka saya iseng blogging by Opera Mini,,
    Sedang kangen Jepang, buka2 Blognya Mbak Fety, ada arsip tentang Islam, saya buka dan saya mulai membaca dr postingan ini,,
    Dimanapun berada, aturan Allah musti ditegakkan,,
    Tetap istiqomah berjilbab ya Mbak, sampai akhir hayat (^_^)
    Salam semangat selalu

  2. ya mbak fety… jangankan di jepang, di jakarta pun, saya sering ditanya soal jilbab oleh temen2 expat (yang tentunya non muslim) dan mereka selalu bertanya, kenapa muslimah yang lain tidak berjilbab. parahnya, mereka sering mengacu kepada teman muslimah yang sudah pergi haji tapi tidak berjilbab 😦

    kalo sudah mentok, paling2 saya bilang: saya menjalankan apa yang saya yakini, yang tertulis di Quran, bahwa muslimah dewasa (yang sudah baligh) wajib menutup auratnya.
    sebelnya si expat ngeyel bilang ke saya: kok si A yang udah pergi haji nggak berjilbab?
    saya bilang aja: u ask her, not me… hehehehe 🙂

    fety: bingung juga yah bunda.makanya sharing lewat tulisan, pengen tau juga jawaban yang lain jika punya masalah yang sama:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s