Kasih Anak untuk Sebuah Cinta

Jam masih menunjukkan sekitar pukul setengah lima. Tapi, langit bumi sakura sudah gelap. Waktu sholat magribpun sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Aku masih di kereta. Terdengar dalam indera pendengaranku. Sebentar lagi, kereta yang kutumpangi akan menuju stasiun terdekat dengan asramaku. Aku sudah terjaga dari tidurku sejak naik kereta sekitar empatpuluh lima menit yang lalu. Rasa capek itu sudah terbayar dengan nyenyaknya tidur panjang itu.

Tepat di stasiun terdekat dengan asramaku. Kereta berhenti. Pintupun terbuka otomotas. Kulangkahkan kaki menuju platform stasiun. Dinginpun menyergap. Memang menjelang musim dingin. Bahkan hari-hari-hariku sepanjang bulan ini sudah berteman dengan suhu sekitar sepuluh derajat. Alhamdulillah, saat ini, tubuhku yang memang rentan udara dingin sudah mampu sedikit demi sedikit beradaptasi.

Kulangkahkan kaki menuju eskalator ke arah pintu keluar stasiun. Dan dinginpun kembali lebih menerpa wajahku setelah benar-benar bertemu dengan udara malam yang sesungguhnya. Tinggallah hanya sebuah jaket tebal yang berjuang menahan dingin masuk menusuk ke kulit. Stasiun terdekat dengan asramaku itu tidak terlalu ramai malam itu. Mungkin, juga karena hari itu adalah hari minggu, saat pilihan berkumpul bersama keluarga berada pada prioritas utama. Apalagi, di saat udara dingin menyergap seperti saat ini. Hmm, lebih enak bercengkerama dengan keluarga ditemani pemanas ruangan, secangkir coklat atau kopi susu panas dan stoples makanan hangatkan?

Kulangkahkan kaki menuju convenient store terdekat. Malam ini, aku bermaksud menelepon bapak ibuku tercinta. Sudah hampir dua minggu tidak bersua dengan mereka dalam percakapan melalui telepon. Apalagi, besok adalah hari raya Idul Adha. Bertalu-talu takbir dalam kesedihan di hatiku. Hmm, entah ini Idul Adhaku yang keberapa berada jauh dari orang-orang yang tercinta. Aku tidak ingin menghitungnya. Hanya mengingatkan pada sebuah lara, juga kesendirian.

Tepat di hadapanku, seorang anak kecil, mungkin berusia sekitar empat tahun, mengenggam erat sebelah tangan seorang ibu. Pada sebelah tangan yang lain, sang ibu menggamit erat tangan seorang gadis kecil yang berjalan beriringan di belakangnya. Si gadis kecil itu mungkin berusia sekitar dua tahun. Dalam pikiranku gadis kecil berusia dua tahun itu adalah adik kecil dari gadis kecl berusia sekitar empat tahun yang menjadi pemandu dalam iringan-iringan kecil itu. Jalanku yang terburu-buru tidak terlalu memperhatikan. Tapi, sekelebat aku melihat, si ibu tidak bisa melihat. Aku tercekat. Ah mungkin aku salah lihat, pikirku. Mungkin si ibu sedang mengajari gadis kecil berusia sekitar empat tahun itu menjadi pemandu iringan-iringan mereka. Dan akupun berlalu.

Saat menuju ke tempat sepedaku terparkir, setelah membeli kartu telepon untuk menelepon bapakibu nanti malam, kembali aku berpapasan dengan iringan-iringan kecil itu. Kali ini aku mempunyai waktu untuk memperhatikan dengan seksama. Ternyata, penglihatanku tidak salah. Sang ibu memang tidak bisa melihat. Dan gadis kecil yang berusia sekitar empat tahun itu yang pemandu perjalanan mereka malam itu. Sedangkan si kecil yang berusia sekitar dua tahun itu menjadi pengikut setia bagi sang ibu dan kakaknya.

Aku tertegun sesaat saat memperhatikan pemandangan itu. Refleks, kalimat penganggungan pada Sang Khalik terucap dari lisanku. Sungguh terbayang di benakku, sebuah tanggung jawab berat di pundak si gadis kecil empat tahun itu. Entah perjalanan sejauh mana yang telah ditempuh mereka, sehingga bertemu denganku di halaman stasiun itu. Entah di mana pula rumah mereka. Tapi, dalam gelap malam dan sergapan udara dingin, pastilah ada sebuah kepentingan yaang mendesak yang membuat ibu dan dua anaknya harus melangkahkan kaki melawan dingin dengan balutan langit malam.

Kuperhatikan sesaat. Timbul sebuah hasrat untuk menolong. Tapi, segera kuurungkan niat itu. Negeri ini tidak terlalu bersahabat dengan orang asing. Pilihan menjadi orang yang cuek dengan sekitar adalah sebuah pilihan yang dipilih dengan kesadaran, Dan akhirnya, aku hanya benar-benar menjadi penonton iringan-iringan kecil itu. Kuperhatikan, mereka menuju toko roti terdekat dengan halaman stasiun. Mungkin untuk menu makan malam mereka, pikirku.

Ah, sudahlah. Kuputuskan untuk segera meninggalkan halaman stasiun. Kuambil sepedaku. Kukayuh pedalnya menuju asrama. Sempat kulihat mereka di dalam toko roti itu. Sedang memilih aneka ragam roti yang terpajang rapi di etalase. Seorang pelayan menemani mereka memilih. Ah, semoga nanti di perjalanan pulang mereka juga dipertemukan dengan orang yang mengenal mereka dan menjadi teman perjalanan pulang mereka. Tetap tidak terbayang di benakku, jika seandainya tetap hanya gadis kecil berusia empat tahun itu yang menjadi penunjuk jalan. Bisakah?

Bukan, aku bukan bermaksud meremehkan kemampuan si kecil. Di negeri ini, nilai kemandirian memang sudah ditanamkan sejak masih usia balita. Mungkin, karena alam yang keras menuntut para orang tua menanamkan nilai kemandirian itu sejak dini. Adalah wajar saat melihat anak usia 2 atau 3 tahunan hanya dipapah sang ibu ketika menyeberang jalan. Juga tidak perlu kaget saat melihat anak-anak usia dibawah batita sudah duduk rapi menyantap menu makanannya, tidak digendong atau berlari kesana-kemari.

Sepanjang perjalanan pulang menuju asrama, peristiwa kecil itu semakin menari-nari di pelupuk mataku. Sungguh aku kagum ada si gadis kecil. Hari itu aku belajar sebuah makna tanggung jawab. Bukan pada negara. Bukan pada masyarakat. Tapi, pada orang tua yang mendidikku sejak aku masih berupa gumpalan daging di rahim ibuku. Karena aku yakin, tertunaikannya tanggung jawab pada orang tua, maka tanggung jawab yang lain juga akan tertunaikan dengan sempurna. Ah, terima kasih gadis kecil. Hari ini aku belajar darimu. Malam itu aku semakin kangen kampung halamanku. Kangen pada orangtuaku.

Inage, Desember 2008

Iklan

7 pemikiran pada “Kasih Anak untuk Sebuah Cinta

  1. maafin saya lahir bathin ya mba, tapi sueeeeer deh ga ada maksud buat nepu mba. eh emang tampang saya kek penipu ya…….( hmmmmm perlu dibetulin nih wajahku…heheeh..^o^ salam persahabatan slalu)

  2. Subhanallah. Betapapun hebatnya kemampuan manusia ‘menciptakan’ sesuatu, tetap nggak akan bisa mengalahkan ciptaan-Nya ya… saya pun nggak akan menyangka bahwa gadis sekecil itu mampu memandu ibunya yang tidak bisa melihat. Subhanallah.

    fety: yak, benar, bunda:)

  3. hehehe…ketepu ya mba. swami saya mn mau nulis diblog
    tapi gapp pan cuma kenal lewat sikompi….bis jauh banget si mo ketemunya.

    fety: berarti ini yang ngasih komentar juga ibu yah?:) waduh saya benar-benar ketipu nih:D

  4. iya fet,anak2 jepang memang begitu….dari kecil sudah mandiri.
    tapi anak mba tidak sampai sekarang makan aja masih di suapin dan itu juga sambil lari2,seperti di indo.
    tapi kalau di hoikun sih mereka seperti yang lain,mandiri juga.

    fety: he..he..gitu yah mbak?:)

  5. emang begitu dijepun mah.tapi saya salut tuh orang2 yang cacat hak dan kewajibannya sama rata dengan orang yang sehat dan normal. kenapa di negri sendiri (baca: endonesia) malah dibedain ya. sangat2 sedih…..^o^.

    fety: saya pikir, awalnya yang nulis diblognya pak fajar, pak fajar sendiri, ternyata si ibu:) salam kenal untuk ibu.

  6. Assalamu’alaikum…Saya sering menyimak cerita2 mbak Inge di milis Anadia. Ya…karena impian ke Jepang, jadi jika kutemukan orang Indonesia yang merasakan kehidupan disana. Akupun tertarik sekali mengikuti alur ceritanya. Salam kenal Mbak. YM :mine_haway , http://minesweet.co.cc

    fety: wassalammualaikum wr wb, tadi singgah ke ‘rumahnya’ mbak mimin. hmm, website pribadi yah. wah, keren banget:) makasih sudah me-link blog saya. saya link juga yah:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s