Indonesia dalam Nada-Nada Angklung

angklungAngklung itu terbuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu membunyikan alunan merdu suara do re mi fa sol la si do. Rangkaian nada dasar dari sebuah masing-masing angklung yang mewakili nada-nada dasar itu akan terasa lebih indah ketika digunakan memainkan sebuah lagu. Layaknya sebuah orkestra alam. Berpadu dalam irama. Selaras dalam melodi.

Pertama kali berkenalan dengan musik angklung adalah ketika aku bersama-sama teman kantor mengantarkan tamu asing ke sebuah saung angklung di sudut kota Bandung. Saung Mang Udjo, namanya. Aku terkagum-kagum saat pertama itu. Kami duduk di kursi-kursi yang melingkar, dengan sebuah hall yang cukup luas di tengahnya, menyaksikan paduan suara angklung malam itu. Kekaguman itu bertambah saat tingkah pola anak-anak kecil usia sekolah dasar, bertingkah layaknya anak-anak, menjadi pemanis dalam paduan suara angklung itu. Dan di akhir pementasan alat musik alam itu, kami diajak untuk memainkan angklung serta menari mengikuti nada-nada alunan indah musik bambu itu.

Itu saja kesanku tentang angklung waktu itu.

Tapi, ternyata, bagai dejavu, kekaguman itu muncul kembali saat aku bersama teman-teman Indonesia di sini menjadi pusat perhatian saat kami berada di sebuah panggung memainkan angklung yang mengikuti nada-nada lagu yang dipilih. Mungkin, kami bukan pemain utama. Warga negara jepang yang pernah tinggal di Indonesia sekian tahun itu, dan demi cinta mereka pada tanah Indonesia sehingga mereka tergabung dalam Indonesia-Japan Society dan angklung, itulah pemeran utamanya.

Sebuah malu menyelinap di saat-saat latihan, aku dengan terbata-bata mengeja teks lagu Bengawan Solo sedangkan sebagian besar warga negara jepang itu hafal di luar kepala lagu ciptaan Gesang itu. Sebuah bangga juga menyelinap saat dengan semangat kami bersama-sama mengumandangkan lagu-lagu Halo-Halo Bandung. Berkelebat bayangan-bayangan sudut-sudut kota Bandung. Gasibu, kampus ITB, macetnya jalan Dago, kepadatan di perempatan simpang, kesejukan dan keindahan panorama di Dago Atas, udara dingin Bandung di penghujung hari, suasana kantor di Bandung yang adem. Juga cimol, cilok, jagung bakar, rebus ubi keladi bogor, brownies Amanda, es shanghai, sop buah, getuk di pasar simpang yang menjadi favoritku bersama suami di setiap minggu dan sederetan jajanan pasar yang lainnya yang membuatku selalu ingin mencobanya di awal-awal ditempatkan bekerja di Bandung. Maka, berat tubuh yang membumbung naik di saat itu adalah pertanda kalau aku memang sudah berada di ambang batas menuruti nafsu makan. Tapi, aku benar-benar terpukau dengan aneka ragam jajanan itu. Sesuatu yang jarang untuk ditemukan di Yogya. Tapi, aku tetap mencintai Yogya dalam sudut yang lain.

Begitulah Indonesia dalam nada-nada angklung siang itu. Lagu-lagu yang berirama cepat dengan nada gembira juga menemani selama hampir satu jam pementasan itu. Lagu nona manis, rayuan pulau kelapa, dan lagu-lagu yang lain saling berlomba menceritakan tentang keelokan Indonesia. Maka kegembiraan dalam nada-nada angklung siang itu berwujud sebuah kebanggaan yang menyelinap di lubuk hati pada negeri kelahiran. Indonesia memang memiliki seni yang beraneka ragam, yang kadang selalu menjadi minat bangsa lain untuk memilikinya. Jauh dari Indonesia, aku menyadari hal itu siang itu.

Juga, tidak lupa pula beberapa lagu-lagu pendek milik negeri matahari terbit dipentaskan saat itu. Aku suka dengan lagu-lagu yang berbicara tentang alam itu. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak sekolah dasar. Tapi, perpaduan musik angklung dalam nada do re mi fa sol la si do saat itu menjadikan lagu-lagu sederhana itu sebuah maha karya yang terdengar indah. Juga saat sambil bertepuk tangan, para penonton yang sebagian besar adalah warga Jepang ikut mendendangkan lagu-lagu dengan syair pendek itu.

Sebuah perpaduan yang menarik tentang dua negara dalam nada-nada angklung. Itu menurutku.

@dormitory, Inage, November 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s