Dua Pertanyaan Minggu ini, Untuk Indonesiaku

Kelas bahasa jepangku baru dimulai. Ada sekitar limabelasan mahasiswa. Berasal dari beberapa negara. Hanya aku dan seorang teman yang berasal dari Indonesia. Sisanya berasal dari China, Amerika, Bangladesh, Malaysia dan lain-lain. Maka saat kelas dimulai akan terlihatlah perbedaan itu. Mahasiswa yang berasal dari Amerika biasanya akan mengelompok sendiri. Begitu juga dengan teman-teman yang berasal dari China, atau negara Asia lainnya, juga membuat kelompok sendiri. Aku biasanya berada di kelompok mahasiswa yang berasal dari China, karena jumlah mahasiswa perempuannya lebih banyak. Aku merasa lebih klop saja ketika bergabung dengan sesama mahasiswa perempuan.

Bukan tanpa masalah berada di kelompok ini. Bahasa jepangku yang masih sangat amburadul, baik grammar ataupun vocabularynya, serta teman-teman dari China yang tidak pede dengan bahasa Inggrisnya, menjadikan bahasa isyarat adalah bahasa favorit kami. Tak lupa juga membawa kamus bahasa Jepang-Inggris, untuk mewanti-wanti jika bahasa isyarat tidak cukup mampu menjelaskan maksud sebuah kalimat.

Hari itu kelas bahasa jepangku baru dimulai. Pembahasan tentang kuis grammar bahasa jepang. Memang melelahkan, setiap hari, di awal memulai kelas sarapan seluruh mahasiswa kelas bahasa jepangku adalah selembar kertas kuis grammar atau vocabulary bahasa Jepang. Mungkin, karena di Jepang sekarang sedang musim gugur menjelang musim dingin dengan temperatur udara yang selalu di bawah 20 derajat, akhirnya topik pembicaraan hari itu berlanjut tentang suhu terendah di masing-masing negara.

Hampir seluruh mahasiswa menyebutkan angka favorit dibawah 0 derajat sebagai suhu terendah, bahkan seorang mahasiswa yang berasal dari Kanada bercerita kalau di negaranya suhu terendah pernah mencapai 30 derajat celcius. Fantastiskan? Tiba giliranku. Dengan bahasa jepang yang terbata-bata, aku menyebutkan angka 20 derajat celcius sebagai suhu terendah di Indonesia. Tentu pengecualiannya adalah puncak Jayawijaya. Dan sungguh mengejutkan reaksi mahasiswa yang lain. Sebuah nada ketidakpercayaan terlontarkan dari seorang mahasiswa China. Untunglah, di ruangan belajar kami terpampang sebuah peta dunia. Dan, akhirnya, meluncurlah penjelasan sang sensei tentang posisi Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa sehingga Indonesia selalu berlimpahan sinar matahari sepanjang tahun.

Selesailah sudah pertanyaan pertama tentang Indonesia di pagi hari itu.

Pertanyaan kedua tentang Indonesia hadir di saat diskusiku dengan seorang sister dari Mesir, sehabis shalat ashar jamaah kami. Awalnya saat dia bertanya apakah ucapan yang lazim diucapkan di Indonesia sehabis sholat berjamaah. Sepengetahuanku tidak ada ucapan khusus, selain bersalaman-salaman meminta maaf dan cipika-cipiki sesama perempuan. Aku menjelaskannya. Kemudian, diskusi itu berlanjut dengan pertanyaannya apakah aku bisa membaca Al-Quran. Ketika aku menjawab iya, dia memintaku membaca sebuah ayat. Dan diapun bertanya seperti apa pengajaran membaca AL-Quran di Indonesia. Kujelaskan sebisaku.

Diskusi kamipun semakin seru saat aku bertanya namanya dan dia menjelaskan kalau namanya terdiri dari empat kata. Kata pertama adalah namanya, kata kedua adalah nama ayahandanya, kata ketiga adalah nama kakek dari bapaknya, dan kata keempat adalah nama keluarganya. Menurutnya, penamaan seperti itu adalah sebuah kelaziman di negeri asalnya, Mesir. Dan sebuah keheranan terlihat di wajahnya saat dia memintaku menyebutkan nama lengkapku yang terdiri dari dua kata, tanpa disertai nama bapak, nama kakekku dan nama keluarga.

Aku menjelaskan sebisaku, menjawab keherananya, kalau penamaan seperti itu adalah sebuah hal yang lazim di Indonesia. Dan, bukanlah sebuah hal yang aneh ketika di belakang nama seseorang tidak tercantun nama bapak atau kakeknya. Tapi, dia tetap tidak percaya dan berkata kalau itu aneh dan akan sangat sulit bagi seorang polisi untuk menelusuri pelaku sebuah kejahatan dari namanya karena ada kemungkinan sebuah nama dimiliki oleh beberapa orang. Juga, sangat sulit untuk melihat apakah dua orang adalah bersaudara atau tidak dari namanya. Kuakui argumennya benar. Dan setelah itu, aku jadi berfikir, apakah karena itu pulah kasus kejahatan di Indonesia memerlukan waktu yang lama untuk mengungkapkannya?

Bukan hanya dengan dia aku bertemu pertanyaan itu. Mengurus beberapa dokumen di Jepang, nama keluarga (family name) selalu menjadi sebuah bahan pertanyaan. Dan biasanya untuk mempersingkat penjelasan atau bahkan mengurangi pertanyaan lanjutan, aku mencantumkan nama belakangku di kolom family name. Aku belum sanggup jika diajak berdebat dalam bahasa Jepang. Grammarnya saja masih kacau. Apalagi, perbendaharaan kata-katanya. Banyak yang tidak kuketahui dibandingkan yang kuketahui. Itu alasanku mencantumkan nama belakangku sebagai family name. Biasanya jurus ini sangat jitu. Tidak ada pertanyaan lanjutan tentang family name.

Tapi, bertemu dan berdiskusi seru dengan sister dari Mesir membuatku bertanya: mengapa di Indonesia, kecuali beberapa suku: Batak contohnya, tidak menggunakan family name dalam penamaan seorang anak? Bukankah dulu, awalnya, Indonesia juga adalah negara kerajaan? Sampai kini, aku belum menemukan jawabannya, mungkin ada teman-teman yang menyimpan jawabnya. Tolong jelaskan untukku yah. Siapa tahu suatu saat aku mendapatkan pertanyaan itu lagi.

@dormitory, Inage, November 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s