Ueno Park dan Tokyo Metropolitan Teien Art Museum

Ada banyak taman di Jepang. Semuanya menawarkan ketenangan, keteduhan, kedamaian dan kebersahajaan. Bersahabat dengan alam. Menyatu dengan penuh cinta. Bayangkanlah, berjuta-juta volume oksigen yang bisa dihirup, mengisi ruang paru-paru dengan sepenuh-penuhnya. Atau menatap kemilaunya daun hijau, melambai-lambai, sambil merasakan semilir dingin lembut angin yang menerpa kulit wajah. Juga tidak ketinggalan, suara burung-burung yang sahut-bersahutan seolah mengucapkan selamat datang. Dan, pemandangan teduh air mancur atau danau di tengah taman. Hmm, sensasi yang begitu langka untuk ditemukan di kota-kota besar di negeri tercinta.

Hari itu, kami berempat menuju Ueno Park. Aku dan 3 orang temanku. Ueno Park adalah salah satu taman yang terkenal di Jepang. Dan ketika berkunjung ke sana, aku menjadi mengetahui mengapa Ueno Park begitu terkenal di Jepang. Harga tiketnyapun tidak bisa digolongkan murah. Hari itu, kami kesana karena khusus hari itu ada kegiatan yang diperuntukkan untuk mahasiswa asing yang sedang bersekolah di Jepang. Artinya kami bisa mengunjungi beberapa museum di Ueno Park tanpa mengeluarkan yen yang kami punya. Tiketnya, cukup dengan menunjukkan kartu pelajar yang kami punya. Hmm, jadi merasa beruntung berstatus sebagai mahasiswa:D

Memasuki halaman Ueno Park, terhampar taman dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Dinginnya angin musim gugur mulai menerpa. Tapi, semuanya seolah terbayar dengan kedua mata yang puas dimanjakan dengan hijaunya dedaunan, juga kedua paru-paru yang penuh berisi oksigen bersih. Berjalan beberapa meter, kamipun menuju ke tempat kegiatan tersebut. Setelah menunjukkan kartu mahasiswa, kembali mata kami terpuaskan menatap jernihnya danau buatan di tengah taman. Bersih dan jernih. Ah, jadi teringat dengan begitu bertaburannya sampah-sampah yang mengambang di permukaan aliran sungai di Bandung. Atau pemandangan air hitam pekat dengan bau yang menusuk hidung di sepanjang aliran sungai kecil di depan Taman Impian Jaya Ancol. Begitu kontras.

Keinginan kami untuk mengikuti Japan tea ceremony harus tertunda lebih dahulu. Ternyata tiketnya sudah habis. Mungkin juga karena kami datang agak sedikit terlambat. Padahal, kami begitu bersemangat ingin mengikuti ritual Japan tea ceremony. Tapi, akhirnya, kekecewaan itu bisa terbayarkan ketika kami memasuki Toyokan (Asian Gallery), Honkan (Japanese Gallery), dan, Heiseikan (Japanese Archeology).

Memasuki Toyokan, kami disuguhi dengan pemandangan-pemandangan barang-barang seni yang menawan dan antik dari negara-negara Asia, India, Timur Tengah dan Mesir. Yang paling menarik perhatian kami adalah sebuah mummy yang benar-benar masih asli, yang berasal dari negeri para Fir’aun. Terbaring kaku pada posisi tidur di penyangga kayunya, dipenuhi balsem di sekujur tubuh yang sudah menghitam. Dibungkus dengan kain semacam perban di sekujur tubuhnya, menjadikan mummy itu tetap utuh dan hanya bagian wajah yang bisa dilihat dengan sempurna. Walaupun ada ngeri saat melihat bagian mata yang hanya tertinggal lubangnya saja, tapi perasaan takut itu terkalahkan oleh perasaan ingin tahu. Pertama kali, aku melihat mummy di sepanjang usiaku. Aku mengamati detil. Benar-benar seperti wujud mummy dalam gambar-gambar buku pelajaran sejarah SMUku.

Barang lain yang kami cari adalah sesuatu yang berasal dari Indonesia. Entahlah, melihat nama-nama beberapa negara yang kami temukan di awal-awal memasuki Toyokan timbul sebuah tanya. Apakah ada sesuatu dari Indonesia yang dipajang di sini? Dan kami menemukannya. Beberapa lembar kain batik yang dibuat dengan tangan tampak sudah menua. Juga terlihat sedikit ada sobek di beberapa sisi. Mungkin, memang sengaja dipertahankan demi keasliannya. Juga dipajang beberapa pasang wayang. Senyum mengembang di wajah kami. Ah, Indonesiaku. Ternyata, masih banyak yang dibanggakan dari sang tanah kelahiran. Lalu, muncul tanya lagi. Ini di hatiku. Apakah anak cucuku nanti juga akan menemukan batik dan wayang dari Indonesiaku ini? Bukan di negeri orang, tapi di negeri sendiri.

Kemudian, kami memasuki Honkan dan Heiseikan. Dua museum yang memajangkan keindahan seni Jepang dalam wujud keramik, kimono, surat-surat yang ditulis dalam bahasa kanji kuno juga barang-barang arkeologi Jepang. Semuanya tertata apik. Sayang, penjelasanya hanya ditulis dalam bahasa Jepang, kanji bahkan. Tapi, semua itu tidak mengurangi nilai estetika barang-barang seni itu. Dan kamipun tetap menyukainya.

Fety sudah berapa kali berkunjung ke museum di Indonesia?”, itu pertanyaan temanku di jalan-jalan kami di sepanjang ruang pameran kedua museum itu. Perjalanan panjang capek tidaklah terasa. Udara sejuk tetap mengaliri sepanjang perjalanan kami. Bahkan kadang kami disuguhi pemandangan hijaunya dedaunan di luar museum melalui kaca-kaca bening dan jernih. Tidak ketinggalan, kursi-kursi sekedar untuk melepas penat, atau tidur sesaat, juga tersedia di sepanjang perjalanan kami.

Baru satu kali, mbak. Ke museum geologi di Bandung.”, jawabku. Aku berkunjung ke sana karena mengantarkan seorang mahasiswa Jepang yang sedang mengadakan penelitian di laboratoriumku.

Aku baru pertama kali ini berkunjung ke museum.”, ceritanya lagi. Hmm, wajar. Museum di Indonesia kadang bukanlah sebuah tempat yang bisa menjadi tujuan rekreasi. Hanya sebuah pajangan yang kadang sudah berdebu dan tidak terawat. Ah, Indonesiaku, kembali kata itu muncul. Apakah ini wujud sebuah pepatah: negeri yang maju adalah negeri yang menghormati budaya leluhurnya? Jepang dengan sedemikian berderetnya prestasi kemajuannya, tidak meninggalkan sejarahnya. Sejarah masa lampau itu terpajang rapi, indah, menawan dan terawat di museum-museumnya. Tapi bagiku, Indonesiaku tetap menjadi negeri kebanggaanku dan anak-anak cucuku nanti. Karena itulah, menjawab pertanyaan seorang teman yang bertanya apakah aku dan suamiku akan menetap di Jepang setelah sekolah kami usai, dengan tegas aku menjawab kami akan kembali ke Indonesia. Aku dan suamiku mencintai negeri kelahiran kami.

Lama, kami di sama, bahkan sampai sore. Sengaja memanjakan diri menikmati suasana sejuk Ueno Park. Kebersihan tamannya. Hijau dedaunnya. Bersih air danaunya. Sejuk udaranya. Juga berfoto-foto di beberapa sisi taman yang kami anggap mampu memberikan kenangan indah dalam memori kami.

***

Di hari yang lain, sehabis menyerahkan surat lapor diri di kantor kedutaan Indonesia untuk Jepang, aku bersama seorang teman menuju sebuah taman di pusat kota Meguro. Letaknya cukup dekat dengan Kantor Kedutaan Indonesia untuk Jepang. Kira-kira lima belas menit berjalan kaki. Namanya Tokyo Metropolitan Teien Art Museum. Kami harus membayar 200 yen untuk menikmati keindahan taman itu. Tapi, semuanya terbayarkan dengan keindahan yang diperuntukkan oleh taman itu untuk kami.

Banyak cerita-cerita di antara aku dan temanku, namanya mbak Lili, di sepanjang jalan menyusuri taman yang luas itu. Maklumlah, aku dan mbak Lili hampir empat tahun tidak bersua. Terakhir kami berada dalam satu kegiatan besar tahunan Kopma UGM, Rapat Anggota Tahunan (RAT). Dia adalah teman baikku sewaktu kami beraktivitas di Kopma UGM. Karena itulah, ketika aku yang saat itu menjabat sebagai Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia memintanya untuk menjadi ketua panitia RAT, dia tidak menolak. RAT adalah kegiatan terakhir bersama kami. Hari itu, kami bertemu kembali. Betul kata beberapa orang teman. Indonesia lebih luas dibandingkan Jepang:). Cerita-cerita kami terurai di antara lari-lari kecil kami bersama anaknya di halaman luas Tokyo Metropolitan Teien Art Museum. Berada di taman itu, tidak terasa kami berada di tengah kota Meguro. Aku lebih merasa berada di dalam hutan kecil, layaknya hutan di Dago Atas, beberapa kilometer dari pusat kota Bandung.

Sama dengan Ueno Park, aku dan mbak Lili tetap menikmati udara yang sejuk hingga udara kotor di kedua paru-paru kami berganti dengan udara bersih. Daun-daun yang hijau juga terhampar setiap sudut taman itu. Juga diselingi dengan rekahan bunga mawar yang berwarna merah jambu, kuning, putih dan merah hati. Dan tak ketinggalan, sebuah danau yang tak begitu luas, begitu memikat dengan pantulan sinar matahari siang. Tergambar jernih dasar danau dan ikan-ikan berwarna-warni yang berenang di dalam danau.

Semuanya berpadu dengan gelak tawa dan lari-lari kecil anak-anak usia dua tahunan di hamparan luas hijaunya rumput di taman itu. Selaras juga dengan beberapa orang pria dan wanita pekerja yang mengenakan pakaian rapi dilengkapi jas dan dasi yang menikmati lunch box mereka. Dan berharmonisasi pula dengan beberapa keluarga yang menggelar menu makan siang mereka di beberapa lingkaran meja dan kursi yang memang disediakan oleh pengelola taman. Serta., tak lupa pula meyatu dengan romantisme sepasang suami istri yang sudah merambat usianya menuju senja yang menikmati makan siang mereka. Layaknya sepasang kekasih. Dan, mengalirlah rasa rindu dan kangenku pada suami tercinta.

Matahari sudah bertolak dari atas kepala kami, menuju ke langit barat. Puas menikmati semua keindahan yang ditawarkan oleh Tokyo Metropolitan Teien Art Museum, serta meninggalkan memori indah itu dalam beberapa bidik kamera digital, aku dan mbak Lili beranjak menuju stasiun Meguro. Kali ini cerita kami terurai dalam suara langkah-langkah kaki kami dan kereta bayi tempat Umar, anaknya mbak Lili, melepas lelahnya setelah berlari-lari di taman tadi. Ah, sebuah perjumpaan yang indah di sebuah taman kota.

Aku hanya berharap semoga masih ada taman-taman lain yang berada di pelosok Jepang yang masih bisa kunikmati. Bersama teman-temanku. Bersama keluargaku.

@dormitory, Inage, November 2008.

Iklan

5 pemikiran pada “Ueno Park dan Tokyo Metropolitan Teien Art Museum

  1. infonya sangat membantu sekali buat yang lagi bingung memilih tempat wisata…

    tidak mau repot mengurus sendiri persiapan buat liburan??? mari berwisata bersama Dunia Wisata Singosari Malang

    jangan lupa kunjungi duniawisataku.com kami melayani jasa tour pariwisata dalam dan luar negeri.. bagi yang berada di malang bisa datang langsung ke Jl. Kembang No.8 Singosari Malang. atau call di 0341-456444

  2. Wahhh, ada cerita kita thoo di wordpress-mu pas jalan2 ke taman Tokyo Metropolitan. Orang klo baca tulisan serasa mengalami sendiri non…Kapan niee jalan2 lagi euyy, dinginnya ituu ga nguatin ee…O,iya fet, aq mo ngajakin km ke tpt sofi di kofu, itu jg klo km mau, ya hari sabtu atawa minggu ding, terserah km dee

    fety: pengen, mbak. tapi sabtu minggu ini besok kayaknya gak bisa. sabtunya ada latihan angklung, terus minggunya kita pentas angklung dan sorenya ada acara juga. Hmm, mba lili ada waktu lagi kapan? supaya bisa brg ketempat sofi

  3. oh ueno park tuw masuknya bayar ya? mbak di tokyo? sudah ke yoyogi park?
    senangnya,,jadi pengen sekolah lagi.

    fety: kalau di area tamannya gak bayar. tapi, pas mau masuk ke area museumnya itu yang bayar. Waduh belum Yoyogi-park nih:)

  4. sudah banyak tempat yang fety kunjungi ya…..?
    oh ya fet, mba dah beli baju hangat buat fety….

    fety: belum kok, mbak. baru sekitar chiba. pengen ke semua tempat indah di jepun:)waduh, mbak, dibeliin?hmmm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s