Linux: Apaan Tuh?

Aku mengenal Linux sejak semester akhir kuliah, sekitar tahun 2005. Tergoda mencicipinya karena lab komputer di program studiku menggunakannya. Waktu itu, aku hanya bisa menggunakan internet browsernya. Sempat juga aku mengambil kursus Linux, sekedar pengen mengetahui seperti apakah sebenarnya Linux itu. Mendapatkan CD Fedora dari tempat kursus, aku menginstalnya di komputer di kosku, dual booting dengan Windows XP yang memang setia berada di komputerku sejak komputer itu menghuni kamar kosku. Belum terlalu bisa dengan Linux, aku harus berlapang dada memberikan komputer itu untuk adikku yang akan melanjutkan kuliahnya. Setengah hati awalnya, tapi terobati dengan sebuah perasaan sayang kepada adik laki-lakiku satu-satunya.

Keinginan untuk tetap bisa menggunakan Linux terus terbawa sampai akhirnya aku bekerja di kantor yang sekarang. Tapi, apa daya, spesifikasi komputer di ruanganku tidak memenuhi standar minimal untuk menginstal Linux. Jadilah, keinginan itu sempat tertahan beberapa waktu, dan menjadikan komputer di lab komputer kantor sebagai kelinci percobaan untuk menginstal Suse, Fedora dan IGOS. Tapi, karena memang tidak ada perasaan memiliki, juga keterpaksaan belum menjadi sebuah cara untuk menggunakan Linux secara total, sangat sering akhirnya kembali menggunakan Windows.

Sampai suatu waktu, ketika cita-cita untuk memiliki sebuah laptop dikabulkan oleh Sang Pemberi Nikmat, niat itu semakin teguh. Sejak awal, aku memang meminta sang penjual membagi hardisk laptopku menjadi tiga: untuk data, Windows, dan Linux. Itu awalnya. Tetap saja Windows yang kugunakan adalah Windows XP. Vista memang sudah menjadi buah bibir saat itu. Juga beberapa laptop teman kantor telah menggunakannya. Aku sekali-kali juga bingung saat diminta mensetting proxy di laptop tersebut. Tapi, sama sekali aku tidak tertarik menggunakan Vista di laptopku. Selain Windows, aku juga menginstal Ubuntu. Linux yang satu ini belum pernah kucoba. Seorang teman meminjamkan CD Blankon, turunan Ubuntu yang dibuat oleh orang-orang kreatif asal Yogyakarta. Sempat bertahan beberapa lama, apalagi seluruh perangkat keras laptopku dapat dikenali. Untuk wireless cardnya memang harus menggunakan langkah-langkah tertentu, tapi Google memberikan sebuah solusi yang tepat untuk wireless card laptopku.

Setelah sempat ngehang beberapa kali dan juga tidak bisa direstart, atas saran seorang teman di sebuah komunitas Linux khusus cewek yang aku ikuti, aku mengganti Blankon dengan Hardy Heron. Apalagi saat itu, Hardy Heron baru dirilis. Aku mendapatkan CDnya dari suami yang memesan CD itu langsung dari Canocical. Ada kemajuan dengan menggunakan Hardy Heron pada laptopku. VGA Cardnya bisa dikenali sehingga efek 3D-nya bisa nampak pada layar laptopku.

Namun, hampir satu bulan mencari cara bagaimana wireless cardnya bisa dikenali oleh Ubuntu. Memang, kalau sedang berada di kantor, hal ini bukanlah masalah. LAN card masih bisa digunakan. Namun, untuk di Hotspot area, aku tidak bisa berjalan-jalan di dunia maya. Google adalah tempat terbaik untuk bertanya. Berjenis-jenis solusi ditawarkan. Akhirnya, aku mendapatkan satu solusi yang cocok untuk masalah di laptopku. Begitulah Linux. Setiap masalah adalah unik. Solusinya pun juga unik. Memerlukan kreativitas dan sedikit berfikir. Ada sebuah tantangan, bagiku. Dan setelah semuanya selesai, terasa begitu lapang rongga dada. Aku bisa menikmati semua hal yang bisa aku nikmati di Windows XP. Mendengarkan musik, membuat dan mengedit foto, melanglang di dunia maya, mengerjakan tugas-tugas kantor. Pokoknya, semua ada di Linux. Layaknya supermarket, mungkin Linux adalah Hypermarket. Dan, saat ini, Hardy Heron menyingkirkan Window, menjadi satu-satunya penghuni laptopku.

Aku kagum dengan Linux karena beberapa alasan. Mungkin, alasan-alasan ini pula yang akhirnya membuatku rela menyingkirkan Windows, walaupun harus mengutak-atik sendiri sehingga membuatku merasa nyaman menggunakannya.

  1. Linux mengusung jargon freeware sehingga menggunakannya, juga untuk aplikasi-aplikasinya adalah sesuatu yang halal:). Tidak perlu membajak, dan akhirnya merugikan Microsoft.

  2. Semangat kebersamaan yang diusung oleh para pengguna Linux. Mereka yang sudah begitu familiar dengan permasalahan-permasalahan Linux, tidak segan-segan meluangkan waktu untuk membantu para newbie -pengguna Linux yang baru-, padahal mungkin mereka juga adalah orang-orang yang mempunyai kesibukan tersendiri. Juga ditambah dengan bertebarannya komunitas pengguna Linux di dunia maya. Karena itulah, bertanya kepada Google adalah jalan terbaik. Pasti ada jawaban untuk setiap permasalahan.

Itu adalah dua alasan mengapa akhirnya Hardy Heron menjadi satu-satunya penghuni laptopku. Juga ditambah dengan dukungan suami yang akhirnya juga rela mengganti Windowsnya dengan Hardy Heron. Ah, semakin merasa menyenangkan ketika Linux juga menjadi bahan diskusi di rumah kami.

Bandung, Agustus 2008

Iklan

3 pemikiran pada “Linux: Apaan Tuh?

  1. “selain free-ware & bebas virus, klo untuk aplikasi software2 design engineering dan komputasi numerik mendukung g ya?”

    Linux sendiri menyediakan berbagai distro, (Ubuntu, Mandriva, Suse, Fedora, Debian, Blankon, FreeBSD, Freespire, Kubuntu, etc), banyak sekali…. Dan setiap distro memiliki kelebihan masing-masing, sekaligus dengan berbagai sarana program yang kita inginkan (design engineering dan komputasi numerik misalnya).

    Beralih atau tidak beralih ke Linux, sesungguhnya bagian dari ‘keberanian untuk berubah’ dan ‘membebaskan diri dari zona aman untuk lebih maju’…

    Kita sering terlena dengan keadaan yang serba nyaman (serba ‘enak’ di windows), maka pertanyaannya, ‘beranikah kita keluar dari zona aman dan nyaman???’

    fety: wuahh..teori si ayah keluar nih… buat setta kurang lebih begitulah penjelasannya. thanks ayah:)

  2. hehehe… belum nyoba belajar linux lebih dalam, mbak… padahal katanya lebih ‘aman’ dari gangguan macam virus tu… bener tak? 😀

    fety:hmm, kayaknya yang benar memang belum ada virusnya:D

  3. //Mendengarkan musik, membuat dan mengedit foto, melanglang di dunia maya, mengerjakan tugas-tugas kantor. Pokoknya, semua ada di Linux. //

    hmm, menarik juga, fet.
    tp sejauh ini, aku belum ada minat beralih ke linux tuh. belum familiar jg sih.

    pernah diskusi sebentar dg anak ilkom saat di hotspot, tanya2 seputar kelebihan linux. tp ya itu tadi, aku belum tertarik untuk beralih dari windows.

    selain free-ware & bebas virus, klo untuk aplikasi software2 design engineering dan komputasi numerik mendukung g ya?
    makasih.

    salam,

    setta

    fety: sekarang, aku juga sedang belajar komputasi numerik di linux, terutama untuk studi sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s