Hmm…Beginilah Jadi Mahasiswa di Negeri Sakura

3 tahun sudah aku meninggalkan gelar sebagai mahasiswa. Memasuki dunia kerja, status yang membanggakan bagiku itu harus dilepaskan. Yang paling aku suka dari status sebagai mahasiswa dulu adalah sering mendapat potongan diskon sekian persen untuk beberapa kegiatan, atau bahkan gratis untuk beberapa acara tertentu. Bagiku, kartu mahasiswa itu adalah kartu sakti yang jika ditunjukkan pada sebuah kegiatan yang mencantumkan kata-kata “potongan sekian persen atau gratis untuk mahasiswa”, maka sekian ribu rupiah bisa dihemat.

Tidak dinyana, tahun 2008 ini, aku kembali menyandang gelar itu. Di sebuah universitas negeri di sudut kota Chiba. Tentu beda rasanya. Dan juga tentu beda keajaiban-kejaiban menjadi mahasiswa di negeri sakura. Tidak perlu malu menggunakan sepeda onthel, itu yang pertama. Bahkan hampir semua mahasiswa menggunakan sepeda sebagai teman untuk berpergian kemana-mana. Maka janganlah heran, hampir di setiap sudut kampus terlihat jejeran rapi parkiran sepeda, beraneka ragam warna, juga model. Tapi, memang menyenangkan bersepeda kemana-mana di negeri sakura. Bebas dari suara klakson. Bebas dari polusi udara. Tersedia jalur bersepeda yang cukup luas di setiap ruas jalan. Bahkan menempati penguasa jalan kedua setelah pejalan kaki. Para pengendara mobil atau motor akan rela memberhentikan mobil atau motornya sejenak sekedar untuk membiarkan pengendara sepeda dan pejalan kaki menyeberang jalan. Tapi, janganlah mencoba keajaiban ini kala lampu merah di perempatan atau pertigaan menyala. Bisa-bisa, kita akan menjadi sasaran empuk mobil-mobil mewah yang lalu-lalang.

Keajaiban kedua, kita harus bisa menjadi koki bagi diri sendiri. Bahkan, banyak yang pintar memasak ketika menjadi mahasiswa di sini. Bisa dimaklumi, daging babi dan sake adalah menu wajib hampir di setiap makanan dan minuman di negeri sakura. Walaupun, untuk makanan yang berjenis seafood, kita dengan bebas bisa menyantapnya. Karena itulah, huruf kanji daging babi dan sake mesti harus hafal di luar kepala. Tentu tidak menyenangkan kalau harus menyandang status sebagai vegetarian selama kuliah di sini kan?

Harus siap menjadi ‘kelelawar’ dan ‘alien’, itu keajaiban yang ketiga, Pulang malam adalah menu wajib hampir sebagian besar mahasiswa di negeri sakura. Saat matahari sudah di peraduannya, adalah pemandangan yang lazim melihat para mahasiswa mengayuh pedal sepeda meninggalkan halaman kampus. Bahkan hingga menjelang larut malampun, beberapa laboratorium dan ruangan masih menyala lampunya, yang menandakan masih ada penghuni di ruangan itu.

Nah, yang agak lebih parah adalah ketika harus menjadi ‘alien’. Huruf kanji terpampang di setiap tempat. Untuk beberapa urusan pun, misalnya membuka rekening bank, membeli sepeda, membeli telepon genggam, mesti berurusan dengan huruf-huruf kanji. Sangat jarang menemukan apapun yang ditulis dalam bahasa Inggris. Terasa berada di negeri antah berantah. Kadang kemampuan bahasa Inggris yang memadai tidak terlalu dipakai, kecuali ketika berkomunikasi dengan sensei atau professor yang membimbing. Paling efektif berkomunikasi dengan teman-teman di laboratorium adalah menggunakan bahasa tarzan ditambah lima kata sakti, kalau kemampuan bahasa Jepang kita masih di bawah rata-rata.

Sangat jarang menemukan mahasiswa jepang yang bisa menggunakan bahasa Inggris dengan lafal yang benar. Adalah sangat terasa berat ketika menjadi satu-satunya mahasiswa asing di laboratorium, seperti aku misalnya. Karena itulah “Hai” (yang dibaca Haik!), “wakarimashita” (saya mengerti), “sumimasen” (maaf), “arigatou gozaimashita” (terima kasih banyak), daijoubu desu (iya gak apa-apa) adalah kata-kata sakti yang mesti dihafal pertama kali. Selain itu juga ditambah dengan senyuman yang paling manis ketika mencoba mengerti apa yang mereka ucapkan. Dijamin kita akan mengerti maksud ucapan mereka, paling tidak arti kata secara keseluruhan.

Tidak perlu takut untuk tidur di ruang kuliah adalah keajaiban yang paling terakhir. Ini keajaiban yang paling enak. Di Indonesia, pasti mahasiswa akan dimarahi oleh sang dosen kalau terlihat tertidur di ruang kelas. Di sini, bahkan ketika sedang seminar yang kadang rutin diadakan setiap minggupun, pemandangan mahasiswa tertidur adalah hal yang lazim. Tentu dengan posisi yang paling nyaman menurut masing-masing mahasiswa. Ada yang sambil menunduk, menghadap ke fotokopi bahan seminar yang terletak di atas meja. Ada yang sambil berpangku tangan, seolah-olah serius mendengarkan. Ada yang dengan posisi duduk dan mata terpejam, seolah-olah serius menatap slide materi seminar. Yang paling enak adalah ketika mendapatkan posisi membelakangi dosen, pastilah setelah seminar berakhir, akan terasa segar seluruh badan, karena selama seminar yang kadang bisa sampai tiga jam, rasa mengantuk terbayar sudah.

@ dormitory, Inage, Oktober 2008

Iklan

6 pemikiran pada “Hmm…Beginilah Jadi Mahasiswa di Negeri Sakura

  1. welkam …
    gak enak bener yak jadi alien
    kekekekek……
    fet, sekali2 nanti kamu masak buat aku ya
    eh iya, tanggal berapa bisa nginep jagain nasmah lagi ya ^^
    hehehehe

    fety: iya, mbak, kayak berada di negeri antah berantah. ok, mbak tinggal tlp aja 080 sekian..sekian..sekian:D tarifnya permenit yah, sekalian arubaito nih he..he..

  2. assalamualaikum
    salam kenal dari hiroshima. puas2in deh mba selama dijepun, banyak orang yg pingin ke jepun ato negara laen dgn susah payah tapi saya dan juga mba2 yg lain bersyukur dikasih kesempatan dateng kejepun. ambil yg baik2 aja tapi yg pasti INDONESIA tetep yg paling ok.
    kunjungi http://junjungbuih.multiply.com

  3. Assalamualaikum…..

    Inga fety, sekarang di chiba? aku di Iizuka.
    Kirim kabar ya ke email ku.

    Wassalam

    fety : wassalammualaikum wr wb, siap nga, sudah kirim imelnya. akhirnya bisa juga ketemu inga kris. tapi sekarang lagi di Indonesia yah?:)

  4. iya bener banget, sepeda berceceran di tempat2 parkir digeletakin gitu aja, kalo di Indonesia mah udah ilang kalii… aku juga ter-gumun2 liyat lampu ijo menyala, breg, semua mobil dari arah manapun berhenti dan kita bisa bebas menyebrang dari arah manapun, mana ada di indonesia kaya gitu ya…

    Dah jalan kemana aja? dah nyicipin shinkansen belum, asyik ya, kaya naek halilintar, hahaha 😀

    fety: baru jalan-jalan sekitar Chiba dan Tokyo. He..he..belum tuh naik shinkansen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s