Sebuah Jalan Cinta

Lega rasanya setelah menulis sepanjang ini. Hanya ingin sedikit menenangkan hati di hari-hari terakhir Ramadhan 1429 H. Terima kasih untuk teman-teman yang menyempatkan membaca tulisan panjang ini.

####

Melanjutkan sekolah di Jepang adalah mimpiku sejak masih di bangku kuliah. Begitu ingin menjejakkan kaki di negeri matahari terbit dengan menyandang gelar mahasiswa di sebuah universitas di Jepang. Karena itulah, ketika diskusi dengan dosen pembimbing di tengah-tengah bimbingan skripsi, dengan tegas aku menjawab menjadi dosen adalah pilihanku setelah menyelesaikan kuliah, bukan bekerja di perusahaan minyak seperti impian kebanyakan teman-teman kuliahku. Walaupun, bekerja di perusahaan minyak menjanjikan materi yang lebih melimpah. Namun, aku punya prinsip sendiri, suatu saat aku akan menjadi seorang istri dan seorang ibu, dan aku tidak ingin begitu sedikitnya waktu kebersamaanku bersama keluargaku tercinta, juga untuk mewujudkan mimpi agar bisa melanjutkan sekolah ke Jepang.

Namun, aku bukanlah orang yang meletakkan mimpi untuk melanjutkan sekolah di Jepang itu di atas segalanya. Ketika, aku memahami pentingnya menikah di usia relatif muda, mimpi itu bertambah dengan sebuah keinginan untuk tetap melanjutkan kuliah, tanpa menjadikan kodrat menjadi seorang istri dan seorang ibu di urutan kedua. Aku ingin, ketiga peran itu berjalan secara beriringan. Karena itu pula, ketika seorang teman menanyakan kepadaku kriteria seorang suami yang aku inginkan, diijinkan untuk melanjutkan kuliah juga kusebutkan pada urutan sekian.

Kesempatan untuk mewujudkan mimpi melanjutkan kuliah di Jepang terbuka ketika aku diterima bekerja di sebuah lembaga penelitian milik pemerintah. Memang bukan sebagai tenaga pengajar. Tapi bagiku pekerjaan sebagai peneliti dan dosen sama-sama merupakan pekerjaan yang akan membiarkanku bergerak terus, tidak berhenti pada sebuah terminal tertentu. Tawaran seorang teman baik dosen pembimbingku semasa kuliah, kusambut dengan sebuah anggukan yang mempunyai catatan. Aku ingin belajar tentang hal yang tidak mensyaratkan aku untuk bekerja terlalu banyak di lapangan. Bagiku catatan ini adalah hal yang penting. Beliaupun menyetujui membantuku mencarikan seorang professor di universitas di Jepang dengan sebuah catatan, aku harus membuat proposal penelitian dengan tema yang aku tentukan sendiri. Bagi pihak sponsorship beasiswa ke Jepang, keberadaan calon professor di universitas yang kita inginkan adalah sesuatu yang penting.

Dan berjalanlah proses itu. Kadang ada lelah menghampiri. Di sela-sela kesibukan dengan sejumlah literatur dan buku-buku yang mesti dibaca, seusai jam kantorpun, aku harus mengambil kursus bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasaku. Di saat-saat ini, keinginan untuk menikah di usia muda, tetap aku simpan erat-erat di dalam hati. Bahkan, di saat bapak ibuku, keluargaku serta orang-orang terdekatku menanyakan kapan aku akan menikah, dengan santai aku menjawab: InsyaAllah tahun 2008. Sederhana saja alasanku menjawab seperti itu, kejelasan diterima atau tidaknya beasiswaku adalah di awal tahun 2008. Dan, InsyaAllah akan lebih mudah menentukan segala sesuatunya setelah pengumuman beasiswa itu, juga dengan rencana menikah. Padahal, saat menjawab itu sama sekali tidak terfikirkan siapa yang akan menjadi mempelai laki-lakinya. Bagiku, menikah adalah sebuah proses yang suci dan agung, pun proses ke arah itu juga mesti dilewati dengan cara yang benar. Aku tidak pernah berniat untuk memulainya dengan proses yang menghabiskan waktu sekian tahun lamanya.

Namun, ternyata rencana Allah melebihi kehendak dan keinginanku. Di tengah kesibukan proses persiapan beasiswa itu, seorang teman mengirimkan sebuah sms singkat : “Ukh, sedang dalam proses gak?”. Aku tahu apa maksud sms singkat itu. Entahlah, kekuatan darimana beliau mengirimkan sms singkat itu untukku. Padahal pertemuanku dengannya baru berlangsung satu kali, walaupun kami bekerja di institusi yang sama. Itupun dalam sebuah pelathan yang singkat dan padat. Tidak ada komunikasi apapun selama pelatihan itu, kecuali saat kami menjelang pulang ke rumah masing-masing seusai pelatihan. Beliau bersama dengan teman kantornya menawariku pulang bersamaan. Teman kantornya adalah seorang perempuan dan beliau merasa tidak nyaman untuk hanya pulang berdua bersama teman kantornya. Kebetulan arah yang akan kami tuju memang sama. Beliau dan teman kantornya akan pulang ke kos masing-masing sedangkan aku akan singgah ke rumah adik ibuku dulu, sebelum pulang ke Bandung.

Ada sebuah kebimbangan menyelinap di hatiku. Kalau beasiswaku tidak diterima, usai sudah kebimbangan itu tapi kalau yang diberikan Allah adalah sebaliknya, akan ada momen keterpisahan kami selama selang beberapa lama. Aku mencoba bertanya pada Allah untuk pilihan jawabanku. Beberapa kali biodata yang beliau kirimkan untukku, aku telusuri satu persatu susunan kalimatnya. Beliau juga memulai niatnya dengan cara maaruf. Tidak ada sms-sms gombal ataupun kata-kata rayuan. Beberapa teman-teman yang kuminta untuk mencari tahu tentang beliau, sama sekali tidak meninggalkan sebuah catatan buruk. Cerita tentang beliau semasa kuliah adalah hal kadang yang aku tidak percaya diri untuk menjadi istrinya, pun hingga kini. Cerita tentang beliau di kantor, juga adalah sosok yang layak menjadi imam untuk rumah tanggaku. Ketika kuminta menelepon langsung bapak ibuku dan mengutarakan niatnya, beliaupun tidak menolak. Bapak ibuku yang kumintai pendapatnya juga memberikan sebuah jawaban positif, padahal bapak ibuku sama sekali belum melihat bagaimana rupanya beliau.

Aku tidak mempunyai alasan untuk menolak beliau. Beliau menerima kesukuanku, sesuatu yang beberapa kali dipermasalahkan dalam proses taarufku. Beliau menerima proses beasiswaku, walaupun ada banyak konsekuansi ketika ternyata beasiswaku diterima. Beliau menerimaku apa adanya. Aku ingin menolak. Tapi, dua orang teman baik yang kupercayai akan memberikan pendapat yang benar, dengan tegas mengatakan beasiswa bukanlah alasan yang syar’i untuk menolak seseorang. Aku terdiam. Dan tetap saja tangis air mata memenuhi kedua pelupuk mataku ketika bertanya kepada Allah.

Mencoba bertanya dengan hati nurani, sampai batas waktunya, akhirnya aku memberikan jawaban iya untuk proses yang ditawarkan oleh beliau. Begitu singkat. Begitu cepat. Begitu mudah. Allah memberikan begitu banyak rejeki dan kemudahan untuk jalan kami.

Ketakutanku diterimanya beasiswaku menjadi kenyataan. Setelah, janji suci itu terucapkan, kami berharap beasiswaku tidak diterima. Tapi, ternyata, Allah menentukan lain. Beasiswaku oleh sebuah perusahaan minyak di Jepang diterima. Proposal penelitianku tentang metode peningkatan kualitas proses data gempa di Indonesia dinyatakan layak. Bersama empat orang lainnya, kami akan mendapatkan beasiswa penuh selama dua tahun delapan bulan untuk melanjutkan program master kami di Jepang. Aku ingat, bukan sebuah senyum bahagia yang hadir di bibirku dan suamiku ketika mendengar kabar itu dua hari setelah resepsi pernikahan kami. Tapi, sebuah pelukan kuat yang diiringi dengan sebuah tangisan. Sedih itu menggelayut. Tapi, kami saling menguatkan. InsyaAllah akan ada jalan untuk bisa tinggal bersamaan di negeri matahari terbit. Lagipula, beban ini menjadi lebih sedikit ringan setalah beasiswa suamiku ke Australia tidak diterima. Aku tidak membayangkan betapa jauhnya jarak Jepang-Australia, jika ternyata beasiswa beliau ke Australia juga diterima.

Tetap ada tangisan-tangisan kesedihan yang lain yang menggelayut di pundakku dan suamiku. Di saat orang-orang terdekatku mempertanyakan bagaimana nantinya rumah tangga kami di tengah perpisahan kami, bagaimana nanti suamiku yang ditinggal istri untuk sementara waktu, tangisan sedih di pelupuk mataku hadir kembali. Sungguh aku ingin mengatakan kepada mereka, kami sedang berjuang untuk itu. Tapi ternyata, tetap saja hanya sebuah senyuman yang hadir di bibirku. Tetapi, setelah itu, aku akan menangis di pundak suamiku. “Kita adalah pelaku kehidupan kita, orang lain hanyalah penonton. Allah tidak akan menzhalimi kita dengan keputusan-Nya.” adalah kata-kata ajaib dari suamiku, yang mampu menenangkan gundah di hatiku.

Dan puncak kesedihan itu adalah ketika jadwal keberangkatanku dimajukan satu bulan dari rencana semula. Dan itu berarti, aku dan suamiku harus rela tidak menghabiskan hari-hari Ramadhan dan hari-hari Idul Fitri pertama kami bersamaan. Berat rasanya menerima kabar itu. Butir-butir bening itu hadir kembali di kedua mataku, juga suamiku. Kesedihan kami benar-benar berada pada titik klimaks. Aku mencoba meminta kepada professorku dan pihak sponsorship beasiswaku agar keberangkatanku tetap sesuai dengan rencana semula. Tapi, alasanku untuk merayakan Idul Fitri bersama dengan keluarga di Indonesia, tidak diterima. Tanggal 1 Oktober 2008, aku sudah harus berada di kampus sebagai research student di laboratorium professorku. Kata-kata ajaib serta pelukan suamiku pula yang akhirnya mampu meredakan sedih di hati kami.

Ada banyak pertanyaan yang hadir di hatiku. Apakah aku bukan istri yang baik ketika meninggalkan suami untuk sementara waktu karena beasiswa ini? Apakah aku adalah orang yang egois ketika tetap memutuskan menerima beasiswa ini? Apakah keputusan ini adalah keputusan yang salah? Sungguh, aku tidak menemukan jawabannya. Ada sebuah keinginan untuk tidak menerima beasiswa ini. Dan, kalaupun diminta memilih, aku akan memilih tinggal berdekatan dengan suamiku, menghabiskan waktu-waktu kebersamaan kami, dan mewujudkan mimpi melanjutkan kuliah sembari menjadi seorang istri dan ibu di tanah air. Tapi, rasanya hal itu bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Proses beasiswa ini telah aku mulai bahkan sejak sebelum bertemu dengan suamiku, dan ada banyak nama baik yang telah dipertaruhkan melalui beasiswa ini. Hanya itu alasan kami, sehingga akhirnya aku dan suamiku tetap memutuskan menerima beasiswa ini.

Tapi, aku tahu. Tidak semua orang memahami keputusanku dan suamiku. Kadang, aku dan suamiku masih berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan kami. Juga sebuah iba dan kasihan, yang sebenarnya kami tidak menginginkannya. Kami hanya ingin didoakan. Bagiku dan suamiku, cukuplah kedua orang tua kami yang mengerti mengapa keputusan sulit ini yang kami ambil.

Tsurumi, 29 Agustus 2008

3 thoughts on “Sebuah Jalan Cinta

  1. Assalamu’alaykum,

    semoga dimudahkan,dilancarkan segala urusannya di jepang oleh Alloh SWT…
    Karena Dia sebaik2 penolong….

    fety: tolong kami didoakan.

  2. Assalamu’alaikum

    Baca tulisan ini melalui ESKA, jadi penasaran hendak singgah ke wp ini.

    saya kagum pada prestasi Mbak. Semoga pilihan ini adalah yang terbaik yang ditunjukkan oleh Allah.

    Selamat berjuang dan sukses.

    fety : makasih, mas adjie. lama gal nongol di SK yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s