Lebaranku

1 Syawal 1421 H

Saat itu adalah sekitar 3 bulan setelah aku menginjakkan kaki di kota Pelajar. Takbir di hari kemenangan berkumandang di seantero kota Yogyakarta yang sepi. Maklumlah, di kota Yogyakarta yang terkenal dengan julukan kota Pelajar, menjadikan mahasiswa merupakan orang yang paling banyak menempati di daerah-daerah sekitar kampus-kampus baik negeri ataupun swasta yang tersebar di kota Pelajar itu. Apalagi, hari itu adalah hari kemenangan umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan. Tentu kebahagian itu akan menjadi lengkap kalau hari itu dirayakan bersama keluarga.

Tapi, bagiku hari itu adalah Idul Fitri pertamaku jauh dari keluarga tercinta. Bukan tidak ingin pulang, tapi biaya pulang pergi Yogyakarta-Bengkulu yang cukup besar menjadikan kepulangan di hari bahagia itu bukanlah sesuatu yang penting. Apalagi, aku baru sekitar tiga bulan meninggalkan kota kelahiranku. Pulang ke kota kelahiran berarti menambah anggaran pengeluaran ibuku di bulan Syawal itu. Keputusan bijak adalah memang merayakan Idul Fitri di kota Pelajar itu.

Aku merasa biasa saja saat Idul Fitri itu berada jauh dari keluarga. Bahkan, mungkin, bagiku sebuah prestasi karena aku bisa membuktikan kepada bapak ibuku kalau semuanya akan baik-baik saja walaupun aku merayakan Idul Fitri kali itu jauh dari beliau. Maklumlah, keputusan mengijinkanku kuliah di kota Pelajar adalah sebuah keputusan yang sulit untuk bapak ibuku.

Bersama teman-teman yang tidak pulang ke kampung halaman, kami menunaikan sholat Hari Raya Idul Fitri di halaman kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Aku cuma merasakan aneh setelah gerakan salam ke kanan dan ke kiri. Di sebelah kiri dan kananku bukanlah wajah-wajah orang-orang tercintaku. Tapi, setelah itu, aku dan teman-temanku tetap larut merayakan kebahagiaan Idul Fitri 1420 H itu dengan cara kami sendiri. Kami tetap bahagia.

****

1 Syawal 1422 H

Liburan semester tahun pertama kuliah, aku pulang ke kampung halaman. Ada rasa senang, tapi juga bosan pun muncul karena hampir sebulan aku di rumah dengan aktivitas makan, minum, tidur dan main. Karena itulah, aku merayakan kembali Idul Fitri 1 Syawal 1422 H di kota Yogyakarta. Lebaran kali ini, aku sempat menghabiskan waktu kurang lebih satu minggu di rumah teman kuliahku. Maklumlah, warung-warung yang menyediakan menu makan pagi, siang dan malam bagi para mahasiswa, juga termasuk aku, akan tutup satu minggu menjelang Lebaran. Tawaran teman kuliahku untuk menginap di rumahnya tidak kutolak. Bagiku, paling tidak, satu minggu menjelang Lebaran, menu mie instan tidak masuk dalam daftar harian makananku.

Aku kembali ke kos pada saat malam Idul Fitri. Seorang teman kos, yang juga berasal dari kota kelahiran yang sama, juga merayakan Idul Fitri 1422 H itu di kos. Rasanya, akan lebih bijak, kalau aku merayakan Idul Fitriku bersamanya. Memang lebih menarik tawaran teman kuliahku untuk meraakan Idul Fitri bersama keluarganya, tapi akhirnya aku memutuskan merayakan Idul Fitriku berdua bersama teman kosku.

Sehabis sholat Idul Fitri, kami mencicipi opor ayam di rumah ibu kosku. Lumayan pikirku, paling tidak, aku masih merasakan makan opor ayam di tanah rantau. Tentang ibu kosku, mungkin beliau adalah ibu kos yang paling baik yang pernah aku temui. Setiap Idul Adha, kami selalu diperbolehkan makan makanan gratis di rumahnya. Tentu dengan menu lengkap. Bagiku, yang selalu merayakan Idul Adha di Yogyakarta, menu lengkap selama beberapa hari adalah sesuatu hal yang mewah. Maklumlah, sama seperti menjelang Idul Fitri, menjelang Idul Adha warung-warung makan di kota pelajar selalu tutup. Bagi pemiliknya, mungkin waktunya untuk beristirahat sejenak. Tapi, bagi kami, para mahasiswa, tutupnya warung makan itu berarti menu makan pagi, siang dan malam kami adalah menu yang sederhana. Kadang berupa mie instan, atau bubur kacang ijo.

1 Syawal 1422 H adalah Lebaran terakhir sendiriku. Kata-kata adik dan kakakku menjelang hari Idul Fitri 1 Syawal 1423 H mengakhiri keegoisanku. Apalagi setelah itu, ibuku meminta untuk senantiasa merayakan Idul Fitri di tanah kelahiran. Akhirnya, aku mengubah jadwal pulangku ke kampung halaman. Liburan semester aku menggunakannya untuk mengikuti beberapa kegiatan mahasiswa. Paling tidak, waktu hampir satu bulan tidak ke kampus itu, aku tidak perlu merasakan kebosanan yang teramat sangat. Kebiasaan pulang ke kampung kelahiran saat Idul Fitri tetap kulakonai hingga dua tahun aku ditempatkan bekerja di Bandung oleh institusiku.

****

1 Syawal 1429 H

Tujuh tahun setelah 1 Syawal 1422 H adalah lebaran di tahun 2008 ini. Bagai dejavu, lebaran di tahun ini juga aku lewati dengan kesendirian, jauh dari keluarga tercinta. Apalagi, sebuah perasaan bersalah juga menyelinap di hatiku sebagai seorang istri. Lebaran pertamaku bersama dengan suamiku tidak kami lewati bersamaan. Suamiku merayakan lebaran di tahun ini di kampung halamannya sedangkan aku merayakan Idul Fitriku di negeri sakura, beribu-ribu kilometer jauhnya dari beliau. Padahal sebuah rencana indah untuk itikaf di sepuluh hari terakhir bersamaan, juga merayakan Idul Fitri kami yang pertama telah kami susun dalam buku diary beberapa hari setelah pernikahan kami, bersamaan dengan agenda-agenda lain yang ingin kami lakukan berdua. Maklumlah, pernikahan kami tidak melewati proses pacaran, sehingga kami berdua berusaha untuk menentukan beberapa agenda kebersamaan kami.

Aku yang hampir tidak pernah menitikkan air mata ketika sholat Idul Fitri, Lebaran kali ini tidak kuasa membendung sedih itu. Bulir-bulir bening itu sudah menetes di kedua pelupuk mataku sejak rakaat pertama sholat Idul Fitri. Maklumlah, di Jepang tidak ada takbiran ketika malam Idul Fitri, sehingga suasana haru baru aku rasakan ketika menjadi makmum di sholat berjamaah di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Bersama dengan seorang teman yang menginap di apartemenku, sejak dari pagi, kami sudah mengambil shaf di SRIT. Kami tidak ingin ketinggalan menjadi makmum sholat Idul Fitri kami, walaupun kami berada jauh dari tanah kelahiran.

Tapi, suasana Idul Fitri 1429 H masih aku rasakan ketika kami bersalam-salaman dan saling minta maaf dengan saudara seiman di kediaman duta besar Indonesia untuk Jepang. Tempatnya lumayan jauh dari SRIT, kami tempuh dengan berjalan kaki, tapi bayangan enaknya mencicipi makanan Indonesia di pelupuk mata, mengalahkan rasa capek itu. Memang terasa nikmat makan bersamaan. Aku yang biasanya tidak pernah menyukai lontong dengan kuah daging ayam di tanah kelahiran, kali ini seporsi kecil lontongku tandas habis. Tidak menyisakan sisa di mangkokku. Terasa enak. Ternyata, beginilah rasanya kalau jauh dari tanah air. Makanan Indonesia memang lebih enak. Mungkin, karena hampir seperempat abad, makanan itu selalu melewati indera pengecapku.

Ah, ternyata Allah memang Maha Baik. Itu yang terpikir di benakku saat menulis kali ini. Hampir delapan tahun, Dia menyiapkan skenario ini untukku. Dia mengajariku untuk merayakan Lebaran jauh dari keluarga bahkan sejak aku masih kuliah, supaya aku bisa melewati Lebaranku kali ini tetap dalam kebahagian dan penuh rasa syukur di hati. Meskipun, aku berada jauh dari keluargaku, bahkan suami tercinta. Masih banyak nikmat lain yang sangat patut untuk aku syukuri. Aku tidak bisa membayangkan kalau Idul Fitri 1429 H kali ini adalah Lebaran pertamaku jauh dari orang-orang yang kucintai. Mungkin, kesedihan itu benar-benar akan menjadi milikku. Allah, terima kasih untuk skenario-Mu.

@ dormitory, Inage, Oktober 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s