Demikianlah Tentang Sedih itu

Tataplah pantai! Birunya air laut yang dikombinasikan dengan deburan keras ombak, luasnya langit biru yang seakan menyatu dengan lautan di batas cakrawala adalah sebuah perpaduan yang begitu sempurna. Menatap lautan dan langit yang menyatu di kaki langit menawarkan sebuah kesabaran tanpa batas. Bagiku. Semakin sempurna, ketika suara sunyi angin pantai menyapu lembut gendang telinga dan ditambah bau asin air laut yang segera menyergap pori-pori hidung ketika berdiri di bibir pantai. Atau ketika menatap lautan yang saat matahari di sepenggalah, berganti warna kuning keemasan, dan kemudian berganti dengan bintang-bintang malam bercahaya putih yang menghiasi kelamnya langit. Selalu saja tetap bisa memberikan sebuah kesabaran lebih bagi yang memandangnya. Ini dalam perspektifku.

Entahlah sejak kapan aku mulai menyukai menatap lautan di bibir pantai, apalagi di kala senja. Aku lupa persisnya. Namun, aku selalu ingat, saat-saat sedih menyapa episode hidupku, tempat yang paling aku rindukan adalah pantai, supaya aku bisa menatap sepuasnya lautan. Tidak untuk melakukan apa-apa, hanya berdialog dengan diri sendiri tentang sedih, lalu melarungkan sedih itu ke lautan luas dan membiarkan asinnya air laut menelannya, hingga sedih itupun menuju batas cakrawala.

Sebuah kesedihan mampu dilarungkan di luasnya sebuah pantai laut selatan. Pasir putih pantai Parangtritis menemani saat itu, bersama seorang teman. Sebuah kesedihan yang sentimentil, mungkin. Namun, harap itu terlanjur memenuhi ruang hatiku dan keinginan yang besar bahwa proses itu akan berakhir dengan melambainya janur kuning. Proses yang sudah lumayan jauh, hingga kedua bapak dan ibu juga mengerti tentang hal itu: bahwa proses itu bukanlah proses romansa dalam dunia sinematografi. Namun, takdir Sang Khalik berkata lain. Perbedaan suku adalah jurang yang teramat dalam. Tidak adanya darah jawa yang mengalir dalam tubuhku membuatku tertolak. Sebuah kenyataan yang sungguh menyakitkan. Ditambah dengan sebuah sesal, mengapa justru tidak dari awal kesukuan itu diperbincangkan. Dan, bertambah lengkaplah rasa sakit itu. Lebih dari setahun bagi luka itu untuk sembuh dan berganti dengan sebuah keyakinan: InsyaAllah ada seseorang yang akan menerimaku apa adanya, termasuk dengan kesukuanku. Bertemu dengan jernihnya air laut pantai selatan Jawa yang menawarkan kesabaran tanpa batas, adalah proses awal untuk melarungkan sedih itu.

Kesedihan yang lain terhanyut di sebuah bibir pantai di kota kelahiranku. Juga di sebuah senja. Kali ini, suami tercinta yang menemani. Beberapa hari setelah hari pernikahan kami. Setelah hampir beberapa waktu sebelumnya berperang dengan hati nurani bahwa keputusan ini memang adalah sesuatu yang benar. Walaupun label ‘anak durhaka’ sempat terucap dari bibir nenek tercinta, saat sikap keras kepala untuk tetap menggunakan penutup kepala itu di hari bahagia itu muncul. Sebuah kesedihan yang mencapai puncaknya, mungkin. Setelah sekian lama ‘perang dingin’ itu tercipta, untuk sebuah konsekuensi pilihan dengan penutup kepala itu. Kata-kata penyemangat dari sang suami belum mampu membuat sedih itu terlupakan. Tetap saja, permintaan untuk menemani menatap pantai saat senja itu hadir. Untuk hanya melakukan rutinitas kala menatap laut: berdialog dengan diri sendiri dan selanjutnya membiarkan sedih itu bersama deburan ombak menuju batas cakrawala. Biarlah sedih itu tertinggal di batas cakrawala di sebuah pantai di kota kelahiranku. Toh, hitungan puluhan bulan bersama sedih itu sudah mampu dilewati.

Danpun juga untuk kesedihan yang baru saja hadir. Siapa yang tidak terluka hatinya, ketika takdir memutus sebuah mimpi. Untuk sebuah keinginan pertama: merayakan Hari Bahagia itu bersama keluarga tercinta, juga menyelesaikan malam-malam penuh cinta di bulan berkah itu bersama seseorang terkasih. Tapi itulah sebuah keputusan. Kadang tidak memberi kesempatan untuk berkompromi. Seminggu lebih sedih itu memenuhi ruang hati. Bahkan, sempat hadir perasaan sebagai orang yang paling malang di dunia. Sempat mencoba berfikir jernih tentang pilihan ini. Salahkah dengan pilihan itu? Sempat menghadirkan sebuah ketenangan saat rasa jernih itu mengalahkan pikiran-pikiran negatif. Tapi, segera hadir kembali, saat pikiran-pikiran negatif itu hadir kembali. Terutama ketika berfikir: apa kata orang. Dan ternyata berfikir tentang apa kata orang tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Justru, semakin membuat seperti benang kusut. Dan tentu saja, semakin sulit untuk diurai.

Kesempatan menatap pantai itu hadir di saat yang tepat. Juga di suatu senja, saat sedih itu mencapai beban puncak. Kali ini, sang suami yang mengajak, seusai jam kerja di suatu sore. Mungkin, perasaan cinta itu yang tidak ingin membiarkan kesedihan berlarut-larut menemani. Dan, memang benar, kesedihan itu termuntahkan pada jutaan volume air laut. Selanjutnya, menuju ke kaki langit yang sedang menggantung cahaya keemasan kala senaja. Hingga sampai kelamnya langit masih sempat dinikmati. Menatap indahnya gemerlap bintang, sambil berbincang di bibir pantai. Dan ketika langkah-langkah kaki sudah semakin menjauh dari bibir pantai, seribu harap mengganti sedih itu di dalam hati. Keputusan Sang Khalik tidak pernah melebihi batas kemampuan umatNya untuk memikulnya. Juga, Sang Penentu Takdir tidak pernah menzhalimi umatNya dengan keputusanNya karena Dia adalah Sang Maha Pengasih, juga Maha Penyayang. Insya Allah, selalu ada jalan kemudahan bagi orang yang senantiasa berusaha. Keyakinan yang menjadi mantra-mantra ajaib saat pikiran negatif itu muncul. Ada sebuah kelegaan yang luar biasa. Seperti luasnya laut yang juga sangat luar biasa.

Demikianlah tentang sedih-sedih itu. Lautan adalah sebuah hadiah terindah. Ciptaan Sang Khalik yang mampu senantiasa mengingatkan bahwa Dia adalah Yang Menentukan Segalanya karena Dia adalah Penguasa Kehidupan yang Tidak Pernah Memejamkan Matanya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Demikianlah Tentang Sedih itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s