Ketika Di Suatu Pagi

Bermimpilah, karena mimpi-mimpimu akan dipeluk oleh Tuhan

-Arai, Sang Pemimpi-

####

Mungkin, menelepon adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Apalagi saat ini, ketika sudah begitu berserakannya media yang bisa digunakan untuk menelepon. Tinggal pencet sederetan angka, kemudian tekan tombol “call” tunggu beberapa saat, dan tak lama kemudian akan terdengarlah suara seseorang di seberang kita. Kebanyakan orang berfikir, apa sulitnya menelepon. Sangat mudah, bahkan.

Tapi, tidak dengan bapak. Seseorang yang darahnya telah mengalir dalam tubuhku. Tugas meneleponku, juga saudara-saudaraku, semasa kuliah biasanya dilakukan oleh ibu. Bapak, hmmm, hanya beberapa potong kata yang keluar dari lisan beliau. Aku ingat, semasa kuliah hampir 5 tahun di Kota Pelajar, ibulah yang selalu menelepon, sekedar menanyakan kabar atau memberi tahu kalau uang bulananku telah dikirimkan. Bapak, biasanya dengan inisiatif ibu, akan berbicara di akhir. Itupun setelah aku menanyakan tentang beliau. Dan aku ingat, kata-kata jawaban beliau selalu sama, setiap aku bertanya: pak, gimana kabarnya? Gak naik dan gak turun, itulah jawaban beliau sambil diiringi dengan senyuman. Aku bisa merasakan senyuman hangat itu. Aku tahu, jawaban itu berarti beliau baik-baik saja, juga sehat. Jawaban itu tidak pernah berubah, hingga saat ini, ketika aku sudah memasuki fase berumah tangga.

Sempat terbersit di hatiku, kapan yah saat bapak akan menelepon dan menanyakan kabarku. Yah, sekedar bercerita dan melepas kangen, layaknya seorang bapak dengan anaknya. Kerinduan itu semakin menjadi-jadi ketika aku sudah menikah. Pasalnya, suamiku selalu bisa menumpahkan kerinduan yang meletup-letup kepada bapak mertuaku. Entahlah, dalam satu minggu saja, bapak mertuaku sangat sering menelepon kami. Tidak perlu ada kebutuhan akan sesuatu. Kadang, hanya menanyakan kabarku dan suami. Kadang, hanya bercerita tentang kampung halaman suamiku, juga keluarga besar suamiku. Tidak ada yang istimewa dalam telepon-telepon itu kadang. Tapi, bagiku saat-saat suami mendapatkan telepon dari bapak mertuaku, maka saat itu pula imajinasiku melambung, melebihi batasnya dan membentuk sebuah wajah yang telah berkerut di nun jauh sana. Bapak.

Namun, entahlah dengan suatu pagi. Saat mataku sedang asyik berhadapan dengan layar 14 inci dan tangan-tanganku berlari-lari kecil pada tuts-tuts keyboard. Getar handphone di sampingku menyadarkanku. Sebuah nama tertera di layar handphoneku. Bapakibu. Hmm, bapak, pikirku. Kuangkat handphoneku. Terdengar suara salam di seberang sana. Masih dengan senyuman hangat. Masih dengan suara beratnya.

Gimana kabarnya, Nga?”, suara berat itu bertanya seusai salam. Keluargaku bisanya memanggilku dengan sebutan inga, panggilan untuk anak perempuan kedua dalam adat tanah kelahiranku.

Alhamdulillah sehat. Kenapa nelepon, pak?”, tanyaku. Wajar aku bertanya. Bagiku ini adalah sesuatu hal yang luar biasa. Beliau tidak pernah meneleponku. Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi.

Gak apa apa, cuma ingin menelepon inga saja”. Kemudian, pembicaraanku dengan bapak beralih ke hal ringan lainnya. Hanya itu. Singkat dan padat.

Tapi, telepon pagi itu mampu melambungkan rasa bahagiaku. Anganku menjadi nyata. Kebahagiaan itu mungkin menyamai seorang pendaki gunung yang berhasil melampaui sederetan tantangan untuk mencapai puncak Himalaya. Untuk pertama kalinya, bapak yang meneleponku. Kukirim sebuah sms untuk suamiku, juga untuk ibuku. Mengabarkan kabar gembira itu. Tidak hanya pagi itu. Beberapa kali akhirnya bapak meneleponku. Juga, hanya dengan sebuah kata-kata yang sederhana. Kalimat mengungkapkan ada sebentuk kekhawatiran tentangku dan suami. Sekedar ingin menuntaskan rasa ingin tahu, kalau aku dan suami baik-baik saja di rantau orang. Ah, bapak.

Semua memang ada awalnya. Juga untuk anganku untuk bisa mendapatkan telepon dari bapak. Kepergian ibuku ke Palembang karena mengantar kakakku dan anaknya, membawa sebuah cerita sendiri untukku. Ibu memang meneleponku beberapa hari sebelum beliau berangkat ke Palembang. Sekedar ingin meminta pendapatku, apakah sebaiknya ibu membawa handphone ke Palembang atau sebaliknya handphone itu ditinggalkan di rumah, dipegang oleh bapak. Bapak bersikeras ibu yang membawa handphone itu. Alasan beliau sangat sederhana. Beliau tidak bisa menggunakan handphone itu. Namun, aku berpendapat lain. Kalau handphone itu dibawa ke Palembang, lalu bagaimana caranya aku menanyakan kabar bapak selama kepergian ibu? Biasanya, kalau ibu berkunjung ke rumah kakakku di Kota Pempek, hitungan kepergian beliau meninggalkan kota kelahiranku bisa menyentuh angka satu bulan. Akhirnya ibu sepakat untuk meninggalkan handphone itu dengan bapak dan berjanji akan mengajarkan penggunaan handphone itu untuk bapak, hanya cara untuk menelepon dan menerima telepon. Ibu juga memintaku hanya menelepon bapak, tidak mengsms jika aku ingin mengetahui kabar beliau. Akupun menyanggupi permintaan ibu. Di awal-awal kepergian ibu ke Palembang, aku dan suami yang berusaha meluangkan waktu satu kali dalam seminggu menelepon bapak. Tapi tidak dengan pagi itu. Bapak yang meneleponku. Ah, bapak. Akhirnya…

Iklan

Satu pemikiran pada “Ketika Di Suatu Pagi

  1. Kenapa tidak mulai dari diri sendiri menelpon Bapak ? Tanyakan pada beliau kegiatan yang beliau selama ini sukai…

    Saya punya pengalaman yang sama. Bila menelpon Bapak saya akan bercerita apa saja, Bapak hobi memelihara tanaman saya pun mengajaknya bicara tentang tanaman, tentang anthurium yang sedang booming misalnya… maka Bapak pun akan mengalir bercerita dan merindukan saya sebagai tempat bercerita. Hasilnya ? setiap kali menelpon kita bisa menghabiskan waktu 30-60 menit! Pake XL kan murah…makanya pake XL dong… 🙂

    fety : nah, selama ini itu pula yang dilakukan, mbak. tapi, kadang juga kangen ditelpon bapak:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s