Anak dan Budaya Kekerasan

Berita kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok anak perempuan yang tergabung dalam sebuah geng selama minggu kedua bulan Juni 2008 ini telah menjadi headline hampir di semua media elektronik dan media cetak di negeri ini. Sungguh menyesakkan dada ketika menyaksikan video rekaman gambar kekerasan itu di televisi. Oleh anak perempuan pula.

Seorang psikolog dalam sebuah acara talkshow di sebuah televisi swasta ketika membahas tentang hal ini berujar: “inilah potret kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia. Kita bisa menjumpai bentuk-bentuk kekerasan seperti ini, baik di kehidupan nyata ataupun di tayangan-tayangan televisi di ruang keluarga kita”. Agaknya memang benar pernyataan sang psikolog. Hampir semua sinetron yang ditayangkan di prime time tidak segan-segan menunjukkan adegan pemukulan, penjambakan, atau umpatan yang kadang juga disertai dengan mata yang membelalak. Juga dengan tayangan-tayangan kekerasan: penculikan, penganiayaan, pembunuhan yang dikemas dalam bentuk berita. Atau di dunia nyata, kekerasan yang dilakukan seorang senior kepada yuniornya menjadi hal yang wajar di sebuah institut pemerintahan. Dan kadang perpeloncoon adalah agenda wajib untuk menyambut kedatangan anak baru mulai dari tingkat SMU sampai universitas.

Lebih lanjut beliau berkata: “kadang bentuk-bentuk kekerasan ini dijadikan cara untuk menunjukkan eksistensi diri”. Bagi saya, kalimat ini adalah pernyataan yang menarik. Menunjukkan eksistensi diri berarti ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitarnya. Ketika proses mendapatkan pengakuan diri tidak dicapai dengan cara positif, maka cara negatiflah (baca: kekerasan) yang ditempuh. Sebuah acara edukasi Nanny 911 di salah satu televisi swasta pernah menayangkan sebuah tayangan tentang kekerasan yang dilakukan oleh anak usia sekolah dasar kepada saudaranya yang lebih kecil sebagai cara untuk mendapatkan perhatian kedua orangtuanya. Ketika si anak melakukan sesuatu yang menurutnya adalah sebuah prestasi, seperti menghias tempat tidurnya sendiri, bukan pujian yang didapatkan olehnya, tapi tanggapan dingin sang ibu sembari mengingatkannya segera membersihkan tempat tidurnya. Akibatnya, si anak merasa apapun kegiatan positif yang dilakukan olehnya, dia tidak akan mendapatkan kata-kata pujian (baca: pengakuan) dari kedua orangtuanya. sehingga baginya menyakiti sang adik adalah satu-satunya cara sehingga sang ibu bisa memperhatikannya (dengan cara memarahinya).

Keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil tempat berinteraksinya seorang anak, sebelum dia berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang lebih besar. Proses pembentukan watak dan karakter seorang anak dimulai di dalam keluarga. Ada sebuah ungkapan menarik tentang proses tumbuh kembang anak. Jika seorang anak dibesarkan dengan cemoohan maka dia akan tumbuh menjadi anak yang penyendiri dan pemurung. Jika seorang anak dibesarkan dengan pujian maka dia akan tumbuh menjadi anak yang mampu menghargai orang lain. Begitu pula, jika seorang anak dibesarkan dengan kekerasan, baik fisik maupun mental, maka bukan tidak mungkin dia juga akan tumbuh menjadi seorang anak yang menjadi kekerasan sebagai cara mendapatkan pengakuan.

Bagi saya, terungkapnya kasus kekerasan ini adalah sebuah momen yang tepat menjelang perayaan hari keluarga nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni. Paling tidak, tayangan ini mampu menjadi semacam alarm bagi seluruh orang tua Indonesia untuk meninjau ulang pola pengasuhan anak yang telah berlangsung di dalam keluarga. Kita semua tentu menginginkan anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak yang ceria dan menunjukkan eksistensi dirinya melalui prestasi yang positif dan gemilang. sekecil apapun prestasi itu.

####

One thought on “Anak dan Budaya Kekerasan

  1. “Al ummu madrosatun”, kata pepatah bahasa Arab. Ibu itu adalah sekolah, yang mendidik anaknya mempelajari kehidupan. Jika anak diajarkan mencaci, mungkin ia belajar memukul dst.. Barangkali tak sadar kita adalah “orang tua” itu (bagi orang yang lebih muda dari kita ) baik di lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat.

    Solusinya? Agak klasik memang, tapi harus dimulai dari diri sendiri dan dari lingkup terkecil yakni keluarga.

    Setuju tidak? -*duh,jadi rindu tausyiah sang Aa:)

    fety: yak, benar, mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s