Pelupa Oh Pelupa

Satu kelemahanku: memori ingatanku tidak terlalu bagus. Atau, mungkin, termasuk pada kategori memprihatinkan? Untuk urusan menaruh sesuatu, aku memang harus berhati-hati. Tapi, kalau sudah berada rush hour seakan memory otakku menjadi penuh dan kelemahanku akan muncul tanpa menunggu persetujuan dariku.

Menikah ternyata tidak membuatku menyadari akan kekuranganku yang satu ini. walaupun kata-kata :Fey, biasakan meletakkan barang-barang itu pada tempatnya, yah” lumayan sering terdengar di gendang telingaku. Ini adalah pesan spesial dari suamiku, untuk kekesalannya yang tersembunyi terhadap kelemahan yang satu ini.

Mas, kacamata Fey dimana yah?” atau “Mas, ngelihat kacamata Fey, gak?”, adalah pertanyaan yang sering kulontarkan kepada suamiku.

Loh, tadi Fey taruh di mana?”, ini adalah pertanyaan balik standar dari suamiku.

Perasaan Fey taruh di sini deh.”, jawabku dengan setengah tidak yakin.

Itukan perasaan Fey aja. Coba diingat lagi di mana terakhir meletakkannya”, selalu jawaban ini yang muncul kalau aku sudah melontarkan komentar “perasaan Fey letakkin disini deh atau perasaan Fey taruh di sini deh.” Dan, ternyata, aku memang salah perasaan. Pernah setelah berkomentar seperti itu, aku menemukan kacamataku terletak manis di dapur, di dekat kompor. Atau pada tempat yang lainnya. Dan, biasanya, selalu pada tempat yang berbeda dengan tempat jawabanku atas pertanyaan suamiku: “Loh, tadi Fey letakkin di mana?” Begitulah.

Atau saat aku lupa meletakkan handphone di suatu pagi. Menjelang jam delapan pagi, sehabis mandi dan saat sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor, aku lupa di mana aku meletakkan handphoneku. Padahal pagi sudah beranjak. Menit-menit sudah bergeser dari biasanya jam berangkatku ke kantor. Aku sudah mencari di tempat biasa aku meletakkan handphone: di atas meja televisi atau di atas tumpukan buku di dekat tempat tidur. Tapi, tetap saja benda hitam mungil itu tidak menampakkan dirinya. Hmm, aku mencoba untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali aku menggunakan benda mungil itu. Karena saat itu adalah saat rush hour menjelang aku berangkat ke kantor, aku semakin menjadi manusia pelupa. Aku mulai mengobrak-abrik tempat tidur. Mengalihkan posisi kasur. Melongok pada sisi bawah kasur. Tetap aja, aku belum menemukan benda mungil itu. Akhirnya, aku diam sesaat dan sesuatu yang menjendol dari balik sprei kasur menarik perhatianku, dan ternyata di sanalah bersembunyi handphoneku.

Atau di saat yang lain. Bahkan, kejadian ini adalah kejadian terparah sejarah penyakit pelupaku. Sepulang dari kantor di suatu hari, aku buru-buru meninggalkan ruanganku. Saat itu hampir menjelang magrib. Sesampainya di rumah, saat akan membuka pintu rumah, aku tidak menemukan kunci rumah di tempat biasanya aku meletakkannya di tasku. Mencoba mencari ke saku-saku yang lain, tetap saja tali gantungan kunci yang berwarna biru itu tidak nampak olehku. Aku mencoba mengingat kembali: aha!, aku ingat aku menggunakan kunci itu terakhir kali sewaktu aku akan mengunci laci mejaku. Kunci laci mejaku dan kunci rumah memang aku gabungkan pada satu gantungan. Maksudku adalah supaya aku dapat meminimalisir penyakit pelupa ini. Akhirnya, aku berjalan kaki menuju ke kantorku kembali. Berjalan dengan tergesa-gesa dan berkeringat selama lebih kurang lima belas menit, apalagi setelah itu harus menaiki tangga sebanyak tiga tingkat cukup membuat energiku terkuras. Aku segera melongok ke laciku sesampainya di ruanganku. Ternyata laciku telah terkunci rapi. Lalu, di mana aku meletakkan kunci itu yah?, batinku. Aku duduk sebentar, mengambil nafas sekedar mengisi rongga paru-paruku. Setelah agak tenang, aku meneruskan pencarianku kembali. Kali ini, aku mencari kunci itu di dalam tasku dengan lebih teliti. Aku mencarinya di antara buku-buku, juga di dalam saku-saku yang lain. Ternyata, kunci itu terselip rapi di dalam saku depan dompet handphoneku. Ada nafas kelegaan tetapi tetap saja rasa lelah dan kesal juga bercampur menjadi satu.

Pernah juga aku lupa membayar ongkos angkot. Tidak hanya satu kali, dua kali bahkan. Saat itu angkot sudah berhenti di depan gang menuju kosku. Aku dengan tenangnya turun dari angkot dan menuju ke tempat abang penjual nasi goreng yang letaknya sekitar lima meter dari tempat aku turun dari angkot tadi. Aku belum makan malam saat itu. Perutku sudah berbunyi kukuruyuk. Sesampainya di tempat abang penjual nasi goreng, aku baru sadar ternyata aku masih menggenggam uang untuk ongkos angkot tadi. Tapi, angkotnya sudah pergi jauh dariku. Dan tinggallah aku melongo dan menatap dengan hampa.

Juga untuk sebuah kejadian di suatu sore. Sehabis dari tempat kursus, aku buru-buru menuju ke kantor. Sesampainya di kantor, aku segera turun dan menuju pintu gerbang dan Masya Allah aku masih menggenggam uang untuk ongkos angkot. Aku segera balik ke tempat angkot berhenti tadi, dan alhamdulillah angkotnya masih ada. Aku segera menyerahkan ongkos angkotku, dengan wajah memelas sembari berucap: punten yah, pak. Juga tidak lupa diiringi tatapan-tatapan aneh dari penumpang angkot yang lain.

Ah, pelupa. Kadang memang menjengkelkan. Jika sudah berhadapan dengan situasi seperti ini, aku kangen pada sesuatu, pesan spesial dari suamiku : Fey, biasakan meletakkan barang-barang itu pada tempatnya, yah”. Dan, aku hanya bisa tersenyum kecut. Atau teman-teman punya saran untukku? Setidaknya bisa membuatku terbebaskan dari pengalaman-pengalaman yang lebih ‘gila’ lagi.

Bandung, Juni 2008

Nama: Febty Febriani

Usia : 26 tahun

Asal :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s