Ketika Mempertanyakan Cinta

Ini artikelku yang menang di kategori artikel inspiratif milis Sekolah Kehidupan.

#####

Cinta. Hanya sebuah rangkaian kata yang terdiri dari lima huruf. C, I, N, T dan A. Tapi, cinta adalah kata yang sebuah kata yang penuh kekuatan. Powerful. Cinta mampu membuat orang tersenyum bahagia. Cinta mampu membuat orang tertawa gembira. Cinta membuat nilai pengorbanan menjadi tidak berat. Namun, cinta juga mampu membuat orang menangis tersedu-sedan. Roman cinta yang terkenal adalah cinta Romeo dan Juliet. Atau cerita cinta yang lain, penuh kekuatan, pengorbanan dan abadi sepanjang masa. Cinta Khadijah pada kekasihnya, Muhammad, Sang Utusan Penguasa Kehidupan.

Tidak hanya mempunyai kekuatan, cinta juga kadang dipertanyakan. Seperti apakah wujud cinta? Bagaimanakah rasa mencintai dan dicintai? Senang, bahagia, sedih atau rasa yang lainkah yang hadir? Atau pertanyaan lain. Apakah cinta akan hadir sendiri? Atau haruskah cinta itu dicari? Dulu aku juga sering bertanya tentang cinta. Dan setiap pertanyaan itu tidak pernah menemukan muara jawabnya.

Tidak hanya aku ternyata. Pertanyaan tentang cinta juga menjadi milik orang-orang sekitarku. Tapi, bedanya, kali ini aku yang ditanya tentang cinta. Ketika aku memutuskan menerima seorang laki-laki biasa untuk menjadi pendamping hidupku. Apakah aku mencintainya? Pertanyaan ibu kandungku menjelang beberapa hari sebelum hari lamaran itu tiba. Mungkin, beliau menyangsikan keputusanku untuk menerima lamaran laki-laki itu. Tidak ada masa-masa panjang dalam kedekatan kami. Juga, sebelum hari lamaran itu, aku hanya satu kali bertemu dengan beliau, saat kami sama-sama sebagai peserta di sebuah diklat. Saat itu, aku hanya menjawab: entahlah, bu, tapi aku hanya merasa nyaman saat mendiskusikan banyak hal dengan beliau. Hanya itu. Aku hanya berharap, kata-kata itu mampu mewakili kemantapan hati untuk menerima beliau sebagai pendamping hidupku, setelah sekian kalinya tangisan air mata hadir dalam doa-doaku tentang beliau kepada Sang Penentu Takdir. Juga untuk sebuah prinsipku tentang menikah: ketika aku tidak mempunyai alasan untuk menolak seseorang yang mengajakku menikah, berarti aku akan menerimanya sebagai imam dalam keluargaku. Dan, akhirnya, sebuah nasehat menjelang pernikahan hadir untukku, dari ibu kandungku. “Menikah itu bukan seperti bercocok tanam. Ketika kita tidak nyaman di sebuah ladang, kita bisa saja pindah ke ladang yang lain. Kalau bisa, pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup”. Itu pesan beliau saat itu.

Awalnya, hanya rasa nyaman itu yang kupertahankan. Aku hanya berharap suatu saat aku mampu menjawab pertanyaan ibuku: Apakah aku mencintai laki-laki biasa yang setia mendoakanku di setiap doa-doanya? Mungkin, jawaban atas pertanyaan itu memerlukan waktu beberapa hari, beberapa minggu atau bahkan beberapa tahun. Tapi, aku tahu. Rasa cinta itu harus diperjuangkan. Juga diusahakan untuk hadir dalam hari-hariku bersama beliau.

Sesuatu baru terasa berarti untuk kita, saat sesuatu itu dalam suatu waktu tidak ada dalam jarak pandang kita. Akupun merasakan tentang begitu berartinya beliau untukku saat beribu-ribu kilometer terbentang di antara kami. Ada perhatian-perhatian kecil beliau untukku yang hilang. Ada sorot mata kasih yang tidak bisa kurasakan setiap saat. Ada peluk cium hangat menjelang malam yag tidak menemaniku melewati hari-hari di saat musim dingin itu. Kehilangan-kehilangan itu hanya mampu aku tuntaskan dengan menatap nanar momen-momen bahagia kebersamaan kami melalui slide-slide foto di layar 14 inchi. Atau berulang-ulang kali membaca surat cinta, yang tanpa sepengetahuanku, diselipkan oleh beliau di travel bagku. Dan puncaknya, sebuah puisi aku tuliskan pada diaryku, pada suatu malam kala musim dingin menusuk. Sebuah ungkapan kerinduan pada semua hal yang aku tidak berpapasan dengannya dalam hitungan hari yang lama:

Suatu saat aku pernah bertanya

apakah cinta itu?

apakah cinta itu berbentuk?

apakah cinta itu berwarna?

apakah cinta itu berbau?

Dan aku tak menemukan jawabnya

Sampai saat ini

kala aku jauh dari kekasih hati

kala aku sendiri

kala bayangan itu berkelebat

kala aku ingin memeluk

kala aku ingin mencium

kala aku ingin mendengar desah nafas

kala aku ingin mendengar cerita

kala semuanya berpadu, membentuk irama

dan aku masih bertanya:

benarkah ini cinta itu?

Ah, sekarang aku tahu. Kalau ibuku kembali mengulang pertanyaan beliau: apakah aku mencintainya? Aku akan menjawab dengan tegas: Ya, Ibu, aku mencintai laki-laki sederhana itu.

Bandung, Mei 2008

Menjelang lima bulan setelah ikrar suci di depan penghulu itu.

Iklan

2 pemikiran pada “Ketika Mempertanyakan Cinta

  1. Syukron atas pencerahannya akh Heru Subroto…

    Kalau fety menyebut lelaki biasa pada calon suami, maka saya menyebut lelaki surga pada calon suami, dan hingga sekarang pun ia tetap menjadi lelaki surga buat aku… 🙂 Amin…

  2. Dengan Bismillah Kata bermula, merangkai maksud menjalin makna.
    Melalui sholawat salam disampaikan kepada Rasul Junjungan ummat, pilihan Zaman, Panglima Perang Penyayang istri, Suami Teladan Panutan lelaki. Yang karenanya maka langit dibuka dan do’a dikabulkan.
    Yang karenanya maka keberanian ini datang.
    Untuk sekedar mengetuk pintu menyampaikan pesan
    mungkin di dalamnya terselip kebenaran
    Jika ada maka bentangkan tangan, lapangkan jiwa untuk menangkap hikmah yang mungkin ada padanya.
    Tak hendak menggurui, tanpa maksud mengajari
    sungguh ini hanya ungkapan hati untuk menulis kembali apa yang pernah terjadi dan dialami
    semoga bermanfaat……………..

    Saudariku……………………
    Jika kita diminta jujur untuk menjawab : Adakah pasangan yang paling tepat untuk dinikahi ?
    Jawabanya mungkin mengecewakan : Tidak Ada ! Tidak akan pernah ada !
    Kesempurnaan tidak pernah diciptakan untuk semua ciptaan fana yang ada di dunia.
    Pun manusia, tak pernah ada yang benar-benar tercipta dengan kesempurnaan.
    Tuhan nampaknya punya maksud lain dari penciptaan ketidaksempurnaan.
    Ketidaksempurnaan sebenarnya hanyalah salah satu jalan Tuhan agar manusia bisa rendah hati.
    Termasuk Cinta……………
    Tidak penting seberapa tepat pasangan/ calon pasangan kita… karena pernikahan bukanlah matematika yang membutuhkan ketepatan dan kepastian
    Karena ia adalah proses evolusi untuk saling berbagi,
    terpenting di atas semuanya, adalah sudahkah lurus niat dibuat ? sudahkah bulat tekad diikat?
    Menikah bukan untuk menjadi bahagia…..
    Tetapi lebih dari itu adalah untuk saling membahagiakan
    Betapa banyak mereka yang berharap menjadi bahagia dengan menikah, namun hanya dalam hitungan bulan, atau 1 atau dua tahun, arsy berguncang karena adanya perceraian.
    Saling membahagiakan mengandung maksud untuk saling berbagi, untuk saling setia, untuk saling menerima segala kelebihan dan kekurangan ( ini yang terbukti sulit setelah beberapa waktu, setelah semua sisi buruk terungkap, setelah semua perilaku yang saling silang tiada dapat diterima, dan setelah adanya tuntutan agar yang satu dapat menjadi seperti yang dibayangkan oleh yang lainnya)Saling membahagiakan berarti kesediaan untuk berkorban. kebahagiaan itu sejatinya bukan karena kita “dibahagiakan” dan menuntut untuk itu, tetapi kebahagiaan juga dapat diraih melalui “membahagiakan”
    Saling membahagiakan juga berarti 1001 bahasa cinta lainnya yang akan menjaga kelanggengan pernikahan itu, sejak pengantin baru hingga kakek nenek, dari berdua hingga beranak cucu.
    Dan tak ada kekuasaan apapun yang secara ragawi dapat memisahkannya, kecuali hanya kematian.
    Dan Cinta yang terus hidup lama jauh setelah kematian.

    Luruskah sudah niat dibuat?
    Agar segala perbedaan menjadi indah…..dan ini adalah kalimat yang mudah diucapkan, tapi sangat sulit diwujudkan.”Menjadi berbeda adalah Indah”, berbeda karakter, berbeda sifat, berbeda kelakuan, berbeda kebiasaan…. sangat sulit untuk diterima, kecuali dengan lurusnya niat.
    Tidak penting seberapa tepat pasangan kita, tapi yang lebih penting adalah ” Bagaimana cara kita memperlakukan pasangan kita”, setelah keindahan pengantin baru berlalu, setelah semua pihak terjebak rutinitas, setelah belasan atau puluhan tahun pesta pernikahan berlalu, masih adakah sajak rindu, kidung cinta disenandungkan, setelah kecantikan dan kekaguman ragawi sirna, masih adakah ” cinta” yang dulu diagung-agungkan, sebagai penjamin kelangsungan pernikahan.
    ” Cinta seperti apakah yang dapat menerima dan memahami begitu banyak perbedaan dan pertentangan ?, Cinta seperti apakah yang dapat bertahan diatas cobaan dan tantangan, godaan dan ujian, setelah janur kuning telah lama menyatu dengan bumi ?”
    Saudariku…………..
    Semogalah niat sudah lurus dibuat
    dan kebaikan serta kebahagiaan tercipta karenanya.
    Dengan Hamdallah kata ditutup, berakhir kalimat
    Semoga melalui Sholawat ,harap diterima, do’a diijabah.
    Semoga terbangun rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah.
    Tak lupa ampun kata dilantun
    andai terselip kata penoreh luka
    Tak lupa maaf mohon diberi
    Kami pamit undur diri
    Jika terselip kebenaran
    Tuhan Aja Wa zalla lah sumbernya
    andai ada salah khilaf
    Insan lemah inilah sumbernya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s