Sebuah Pelajaran Cinta

Siang itu, kota Bandung cerah. Aku sedang berada di ruangan. Di hadapanku, di atas mejaku, sebuah buku biru bertuliskan huruf-huruf kanji terbuka. Juga, sebuah monitor 14 inchi dengan sejumlah agenda yang mesti dikerjakan. Pintu ruanganku terbuka, seorang seniorku melongokkan kepalanya ke ruanganku.


Jadi, ikut nengok?”, tanya beliau. Tadi beliau juga sudah memberitahukan kalau teman-teman kantor akan menjenguk ibu seorang rekan kantor yang sedang di rawat. Awalnya aku ragu. Semalam aku tidak belajar untuk ujian nanti siang. Efek lelah benar-benar mengoda untuk membaringkan badan di atas karpet. Rencananya, siang itu, aku akan menyingkirkan agenda lain yang tidak perlu sehingga aku bisa belajar. Akhirnya, aku menganggukkan kepala. Rasanya menengok orang sakit juga sebuah agenda yang mesti diluangkan.

Perjalanan menuju ke tempat itu sekitar 30 menit. Memasuki gedung putih itu, bau-bau zat kimia menyengat mulai menusuk hidungku. Juga para laki-laki dan perempuan yang berseragam putih, berjalan hilir mudik di koridor gedung itu. Semakin menuju ke ruangan rawat inap, suasana khas gedung itu terasa kental. Tabir-tabir putih yang membedakan setiap tempat tidur, seolah menjadi batas privasi setiap orang yang menghuni tempat tidur itu. Memasuki ruang rawat inap itu, terlihat sosok menua dan berkeriput terbaring lemah. Juga jarum infus yang mengalirkan larutan NaCl yang menusuk pada lengan kanan. Namun, senyum ceria tetap menyambut kami. Seakan tidak tersirat, beliau sudah tiga minggu di sana. Berteman dengan jadwal kunjungan rutin dokter dan perawat, masakan khas setiap pagi, siang dan sore, juga jarum infus yang menjadi teman setia. Pun tidak terasa, ternyata, hari itu adalah hari terakhir berada di sana, untuk pulang menuju ke rumah tercinta.


Malam harinya, setelah adzan isya berkumandang, bersama tiga orang temanku, aku menuju ke sebuah gedung yang berbeda. Awalnya, aku juga ragu untuk ikut. Rumah kontrakan yang agak jauh dari keramaian sempat menyurutkan niat itu. Tapi, akhirnya, temanku berjanji untuk mengantarkanku sepulang kami dari sana. Apalagi setelah suami juga membolehkan aku untuk pergi malam itu. Kesan mewah begitu terasa saat kami memasuki gedung itu. Namun, suasananya tidak jauh berbeda dengan gedung yang kukunjungi siang tadi. Apalagi ditambah dengan sebuah papan yang tergantung pada dinding lebar di depan lift yang akan kami naiki. Menuju ke ruangan yang sudah kami hafal nomornya sebelumnya, kami menjumpai para perawat berseragam hijau kebiruan. Juga seorang satpam, tempat kami bertanya, untuk memastikan arah menuju ke ruangan itu.


Sosok yang begitu kukenal terbaring lemah, saat kami memasuki ruangan itu. Sebuah jarum infus menemani lekat di lengan kanan. Juga sebuah selang keteter yang lain, yang mengalirkan air seni menuju ke sebuah kantong yang diletakkan di sisi kanan tempat tidur. Kondisi beliau sangat down malam itu. Dua orang putri beliau menemani dengan penuh cinta. Telaten dan sabar. Tidak nampak lagi sebuah semangat yang senantiasa beliau tularkan untuk kami di setiap kamis pagi, di forum kajian kami di masjid kantor. Malam itu semuanya seakan berganti. Padahal, empat hari yang lalu aku masih menemukan semangat itu, di sela-sela beliau menerangkan untuk kami makna surat An-Nisa. Beliau memang guru kami. Bukan untuk sebuah bayaran materi. Hanya untuk sebuah amal jariyah: ilmu yang bermanfaat.


Dua kunjungan di hari yang sama itu, mengenang ingatanku pada percakapanku dengan ibuku di suatu hari. Hanya percakapan sederhana, tapi begitu membekas hingga kini.

Kalau bapak dan ibu meninggal, jenazahnya harus segera dikuburkan. Orang yang meninggal itu

ingin segera bertemu dengan Allah, jadi pemakamannya jangan ditunda-tunda, termasuk untuk menunggu anak-anak bapak dan ibu yang jauh.”, begitu kira-kira ucap beliau saat itu.


Kata-kata itu meninggalkan tangis di hatiku, juga sebuah kesedihan saat ingatan kata-kata itu kembali melekat di kepalaku. Aku tahu kata-kata itu adalah semacam wasiat untukku, juga saudara-saudaraku. Kadang, sebuah ketakutan menyelinap hadir dalam hatiku. Bapak dan ibuku hanya tinggal berdua di rumah masa kecil kami. Kadang sempat terucap dari lisan beliau berdua tentang makna sepi menjalani hari-hai tua di rumah cinta kami. Sehabis menikah, ketiga anak perempuannya tidak ada yang menempati rumah kenangan kami. Adik laki-lakiku yang paling bungsupun juga tengah merampungkan kuliahnya di Kota Pelajar. Tapi, segera kutepis. InsyaAllah ada Allah yang menjaga bapak dan ibuku. Juga untuk hari-hari tua kedua orang tuaku.


Kata-kata itu pula yang senantiasa mengingatkanku untuk menelepon bapak dan ibu setiap hari sabtu atau minggu tiba. Juga menjadi alarm untuk menyisihkan sedikit uang di tabungan untuk biaya pulang menjelang Hari Raya Idul Fitri tiba. Setidaknya, dua cara itu mampu menjadi media untuk menunjukkan cintaku untuk beliau berdua, walaupun aku tahu cara itu belumlah sepadan dengan lemahnya kondisi badan ibuku saat aku menghuni ruang kecil yang hangat di perut beliau selama sembilan bulan.


Saat ini hanya sebuah doa yang mampu terucap dari lisanku, untuk bapak dan ibuku. Setidaknya cukup mampu memeluk rinduku untuk beliau berdua.

Ya Allah, tolong karuniakan kesehatan untuk bapak dan ibuku di usia senjanya

Ya Allah, tolong karuniakan senyum dan kebahagiaan untuk bapak dan ibuku di usia senjanya

Ya Allah, tolong ampuni dosa dan kesalahan bapak dan ibu

Ya Allah, tolong jangan hukum bapak dan ibu karena dosa dan kesalahan beliau berdua

Ya Allah, tolong jangan bebankan beban yang berat di pundak bapak dan ibu di usia senjanya

Ya Allah, tolong sayangi bapak dan ibu sebagaimana beliau berdua telah menyayangiku sewaktu aku kecil dan hingga kini ketika aku sudah dewasa.


Ah, pelajaran cinta memang bertebaran di mana saja. Hari ini aku belajar untuk lebih menunjukkan cinta, kasih sayang dan perhatian untuk kedua orang tuaku. Selagi beliau berdua masih sehat. Entahlah dengan hari lainnya. Ada banyak cara bagi Allah untuk mengajari tentang sebuah cinta.


Bandung, Juni 2008

Iklan

Satu pemikiran pada “Sebuah Pelajaran Cinta

  1. Em, aku sdh hampir 6 thn tdk pulang kampung lho, Fet. Terakhir saat mo KP di PUSRI bulan Oktober 2002 silam. Hiks…

    fety: ayo, disempatkan menengok ortu di kampung halaman. Mereka pasti kangen kamu:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s