Lelah, Syukur dan Ikhlas

Pernahkah kita berada pada saat lelah? Saat lelah fisik mulai menggerogoti ketika setumpuk tugas dan tanggung jawab mesti diselesaikan dalam waktu bersamaan. Saat lelah hati ketika sikap orang-orang terdekat terasa aneh di hati. Saat lelah mental sewaktu sesuatu hal yang menjadi mimpi terasa jauh, padahal segala upaya terasa sudah dikerahkan. Dan terasa sangat lelah, ketika ketiga lelah itu datang secara bersamaan.

Suatu hari, aku bertanya dengan beberapa orang terdekat: bagaimanakah cara mereka menghadapi lelah-lelah itu? Seorang teman berkata :”menyendiri dulu di suatu tempat yang disenangi.”. Seorang teteh yang lain berucap : “kerjakan dulu hal-hal yang dekat dengan kita, itu salah satu cara untuk mengatasi lelah fisik.”. Atau kata-kata bijak lain dari seorang teman yang lain : “Berhentilah sejenak dari rutinitas. Lakukan kotemplasi tentang tujuan hidup kita. Bagaimanakah pencapaiannya? Apakah sudah tercapai atau justru masih jauh pencapaiannya?”.

Seuntaian kata-kata bijak yang lain mampu membangkitkan diri dari lelah-lelah itu. Kutemukan dan kudengar saat menonton sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi. Terucap manis dari para kakek-kakek dan nenek-nenek, yang justru di atas usia tujuh puluh tahunan mencapai masa keemasan dalam hidupnya. Seorang kakek misalnya, mampu mendaki gunung Rinjani dengan ketinggan sekitar 3700 m di atas permukaan laut. Atau dua orang kakek yang lain, yang juga berusia di atas tujuh puluhan, beliau berdua menjadi motivator bagi para anak muda untuk bangkit dengan jiwa wirausaha mereka. Seorang nenek yang lain, dengan usia juga sekitar tujuh puluhan tetap bekerja dan menjadi tulang punggung bagi keluarga besarnya. Sedangkan seorang kakek yang lain, dengan usia di atas delapan puluhan tetap berkarya dengan ide-ide kritisnya. Wajah yang menua, juga garis-garis keriput tidak mampu tersembunyikan. Namun, tidak ada kepikunan. Tidak ada lelah. Hanya semangat yang menyala yang menemani usia lansia mereka.

Sederhana resep mereka. Bersyukur dan ikhlas. Dua kata yang sangat mudah untuk diucapkan, tapi menjadi butuh perjuangan untuk melakukan dan menerapkannya ketika lelah-lelah itu tiba. Bersyukur dan ikhlas dengan usia tua yang dianugerahkan oleh Sang Khalik kepada mereka, karena tidak semua anak manusia menikmati masa-masa tua yang disertai dengan prestasi gemilang.

Ah, sepatutnya kita memang bersyukur dan ikhlas dengan semuanya karunia Sang Pemberi Kehidupan. Bersyukur dan ikhlas dengan tugas dan tanggung jawab yang saling berkejaran, karena di belahan dunia yang lain ada banyak orang yang mendamba tugas dan tanggung jawab yang membuat mereka merasa lebih berkarya dan berarti. Bersyukur dan ikhlas dengan karunia seorang pasangan hidup atau anak-anak yang lucu, karena di belahan dunia yang lain begitu banyak orang-orang yang menginginkan kehadiran kekasih hati, juga tawa dan tangis anak-anak yang menyejukkan jiwa. Bersyukur dan ikhlas dengan jalan perjuangan yang terasa sangat lama, karena di belahan dunia lain ada banyak orang-orang yang justru lebih tertatih-tatih merajut mimpi-mimpi masa depan. Bersyukur dan ikhlas dengan ramainya dunia kecil kita terhadap sikap-sikap aneh orang-orang terdekat dengan kita: teman kantor misalnya, karena di belahan dunia lain justru ada banyak orang merindu pada keramaian, dan merasa terasing dengan kesendirian.

Ucapan lembut kakek-kakek daan nenek itu benar. Bersyukur dan ikhlas membuat kita menghadapi lelah-lelah itu menjadi ringan. Seringan gulungan-gulungan awan-awan putih yang membumbung tinggi dan menjadi indah pada luasnya langit biru.

Bandung, Mei 2008

Saat belajar untuk lebih bersyukur dan menerima:)

https://ingafety.wordpress.com

One thought on “Lelah, Syukur dan Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s