ITU BUKAN MILIK KITA

Saat itu adalah saat awal-awal suamiku memulai perjalanan Jakarta-Bandung. Sebuah rutinitas yang mesti dilewati hampir setiap minggu, dari awal pernikahan kami hingga kini. Bedanya, saat itu, aku turut juga bersama suami dengan barang-barang bawaan yang cukup banyak. Sejumlah tas yang berisi pakaianku setelah kepulangan dari negeri matahari terbit, serta ditambah dengan beberapa hadiah teman-teman suamiku untuk pernikahan kami. Mungkin, barang-barang itu juga bertambah banyak dengan rencana kepindahan kami ke rumah kontrakan yang baru di Bandung, tepat 2 bulan setelah pernikahan kami.

Aku mengambil posisi duduk di dekat jendela, sebuah posisi favoritku sejak pertama aku menggunakan kereta api. Pemandangan di balik jendela kaca itu adalah sesuatu yang sangat sayang untuk dilewatkan. Lambaian hamparan hijau pohon-pohon padi yang meliuk-liuk. Gemerlap bintang di langit malam. Wajah-wajah polos anak-anak kampung. Kejaran pohon-pohon hijau di tepi jalan. Semuanya menjadi irama penyejuk jiwa.

Suamiku duduk di kursi tepat di sampingku. Bagi kami perjalanan-perjalanan jauh menggunakan kereta api atau bus adalah saat-saat indah mempereratkan ikatan cinta di antara kami. Maklumlah, proses menuju ke jenjang pernikahan yang begitu cepat, tidak memberikan ruang dan waktu bagi kami berdua untuk mengetahui lebih detail satu sama lain. Jadilah, perbincangan-perbincangan hangat akan tercipta di atas kereta api atau bus. Pun juga dengan saat itu.

Selang beberapa lama, di antara sekian menit percakapan hangat saat itu, aku hendak mengambil sesuatu di backpackku. Backpack itu kami letakkan di lantai kereta api, persis di depan kursi duduk kami. Tengah mejumput sesuatu di saku bagian luar backpackku, sesuatu yang mungil dan berwarna hijau muda turut juga keluar secara tak sengaja. Sebuah boneka kecil dengan bentuk kepala yang lebih besar dibandingkan anggota tubuh yang lain. Mirip sebuah tokoh kartun. Matanya yang bulat dengan kedua tangan dan kaki yang kurus dan ramping, telah membuatku terpikat sejak awal menemukannya.

Ini boneka siapa, Fey”, tanya suamiku

Punya Fey, mas. Fey menemukannya di depan pintu gerbang Chiba University sewaktu di Jepang kemarin. Fey pikir gak ada yang punya, makanya Fey ambil dan Fey bawa pulang ke Indonesia”, jelasku.

Itu pula yang membuatku telah terlanjur suka dengan boneka itu, senantiasa mengingatkanku pada damainya kota Chiba.

Fey, boneka itu bukan milik kita. Fey berfikir boneka itu gak ada yang punya karena Fey menemukannya tergeletak di atas jalan. Tapi, boneka itu adalah milik seseorang dan mungkin dia mencarinya.”, runtutan kata-kata ini muncul setelah sepersekian detik beliau dalam keterdiaman.

Aku tertegun mendengar penjelasan panjang beliau. Benarkah?

Mungkin boneka ini pula yang menyebabkan Fey kehilangan jam sewaktu di bandara Soekarno-Hatta kemarin”, suamiku melanjutkan penjelasannya.

Ingatanku melayang ke saat itu, saat aku dan suami menjemput bapak ibuku serta adikku dan suaminya di bandara Soekarno-Hatta, beberapa hari sebelum acara ngunduh mantu di rumah bapak ibu mertuaku. Sewaktu berwudhu, aku meletakkan jam tanganku di atas pintu kamar mandi. Aku lupa untuk mengambilnya kembali. Dan setelah menunaikan sholat Dzuhur bersama ibu dan adikku di musala bandara, aku baru ingat kalau jam tanganku masih tertinggal di kamar mandi. Aku segera menuju kamar mandi. Namun, malangnya, jam tangan hadiah seorang sahabat dari negeri Sakura itu tidak kutemukan lagi.

Terus gimana, mas?”, tanyaku.

Walaupun aku ingin memelas supaya diijinkan oleh suamiku tetap membawa boneka kecil itu sampai ke Bandung, tampaknya usahaku akan sia-sia. Suamiku tetap tidak mengijinkan. Rona wajahnya menyiratkan hal itu. Aku sudah mulai belajar rona wajah beliau saat mengijinkan aku melakukan sesuatu atau ketika kata “tidak” itu menjadi sesuatu yang sangat berat untuk diucapkan oleh beliau.

Boneka ini akan kita tinggalkan dalam perjalanan ini”, tegas beliau.

Aku diam dan mencoba mengiyakan.

Tapi, mas yah yang meletakkan boneka itu dalam perjalanan ini”, pintaku. Aku tidak tega untuk melakukan hal itu pada boneka kecil itu. Perasaan suka pada boneka kecil itu sudah mendominasi ruang hatiku. Beliau mengangguk, menyanggupi permintaanku. Dan, akhirnya pun diam melingkupi di antara kami berdua. Tapi tidak lama. Setelah itu, percakapan-percakapan hangat kembali tercipta di antara aku dan suami.

Waktu terus merambat. Semakin menuju ke arah kegelapan malam. Dinginpun mulai terasa saat kereta api yang kami tumpangi sudah menuju ke Kota Kembang. Aku sudah melupakan peristiwa itu. Apalagi setelah kami sampai di kamar kosku, lelah telah menggerogoti kami. Namun, saat aku membongkar backpackku, boneka kecil berwarna hijau itu tidak lagi kutemukan di tempatnya. Ah, rupanya suamiku benar-benar telah meninggalkannya di dalam perjalanan kami tadi. Tapi, aku tidak melihat beliau melakukan hal itu. Mungkin, cara diam-diam itu dilakukan oleh beliau untuk menjaga perasaanku. Memang ada sedih, tapi perkataan suamiku benar: boneka itu bukan milik kami, biarlah dia menemukan pemiliknya yang asli.

@Bandung, Mei 2008

Sebuah kenangan di awal Maret 2008 lalu.

One thought on “ITU BUKAN MILIK KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s