FULL TIME WIFE: SEBUAH CINTA UNTUK DUA KARTINIKU

Alhamdulillah, tulisan ini menang di milis supermoms dalam rangka hari kartini:)

****

Mungkin, full time mother sering terdengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebuah istilah yang didedikasikan untuk para wanita yang memilih untuk berperan secara full time bagi sebuah kehidupan keluarga kecilnya. Namun, dalam tulisan ini, istilah itu ingin kugantikan dengan sebuah istilah lain: full time wife. Hanya sebuah alasan sederhana yang melatarbelakanginya: yang menulis tulisan ini sedang dalam proses belajar menjadi seorang ibu.

Menikah. Kata-kata itu sempat menjadi momok dalam kehidupanku. Sampai di suatu waktu, aku mampu melupakan sejenak tentang kata-kata itu, sambil mempersiapkan diri jika suatu hari masa itu tiba. Di diaryku dalam resolusi kehidupanku setiap tahun, kata “menikah” kuletakkan di tahun 2008. Tapi, Sang Penentu Takdir berkehendak lain, sebuah jalan kemudahan dikaruniakan Sang Penguasa Kehidupan sehingga hal itu menjadi takdirku tepat 2 hari menjelang terbitnya matahari 2008.

Sejak itu, mulailah kujalani tanggung jawab sebagai seorang istri yang juga memilih peran pada sebuah tanggung jawab lain di luar kehidupan domestik rumah tanggaku. Tertatih-tatih aku menjalani peran ganda itu. Lima hari dalam seminggu peranku berada pada dua tonggak, dan sisa dua hari dalam waktu seminggu itu, sabtu dan minggu, aku berusaha menikmati peranku sebagai seorang full time wife. Sebuah peran yang membuat aku senantiasa harus belajar.


Maukah teman kuceritakan kegiatan-kegiatan yang kujalani sebagai seorang full time wife selama dua hari itu? Hari sabtu pagi, biasanya dimulai dengan menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah, tentu bersama dengan kekasih hati. Setelah itu, pergi ke pasar adalah sebuah kegiatan yang sudah menunggu. Cukup lama memilih sayur serta lauk pauk apa yang akan disajikan selama dua hari kebersamaan kami. Sekembalinya ke rumah kontrakan kami, mulailah kegiatan memasak dimulai. Biasanya sampai menjelang adzan dzuhur berkumandang dan diselingi dengan menjemur pakaian yang sudah dicucikan oleh suamiku serta merapikan rumah kontrakan kami. Selesai berbenah, sebelum menunaikan kewajiban sebagai muslimah di tengah hari bersama suamiku, kami menikmati lauk pauk hasil racikanku. Kadang rasanya aneh, mungkin, tetapi selalu saja tidak ada komplain dari suamiku. Namun, biasanya beliau akan langsung menyetujui jika aku merasakan sesuatu yang aneh dengan masakanku. Kalau sudah begitu, tinggal aku yang tersenyum masam. Hmmm…


Melepas penat adalah kegiatan kami selanjutnya. Bagi suamiku, perjalanan Jakarta-Bandung yang harus dilakoni di setiap minggu adalah sebuah perjalanan yang cukup melelahkan. Petangpun merambat dan malampun menjelang. Sehabis makan malam, kami mengerjakan hal-hal yang bisa meningkatkan kemampuan intelektual kami. Atau kalau memang lelah sedang menggerogoti, kami hanya bersantai sembari menikmati acara-acara TV yang kami anggap bermanfaat bagi jiwa kami. Hari minggu, kegiatan rutinitas di hari sabtu masih hampir sama. Bedanya, di sabtu malam kusempatkan untuk menyetrika pakaianku dan suami selama seminggu. Sengaja jadwal ini kutetapkan. Di hari-hari yang lain, kegiatan yang semasa lajang adalah sebuah kegiatan yang tidak begitu kusukai ini, tidak sempat untuk dilakukan.


Kegiatan-kegiatan itu adalah sebuah kegiatan yang tidaklah berat bagi sebagian besar wanita. Tapi tidaklah denganku. Efek lelah, yang juga berteman dengan anemia, kadang sering mengakibatkanku jatuh sakit di awal-awal kehidupan rumah tanggaku. Untunglah cuma sekedar meningkatnya suhu badan, yang lalu merasa bugar kembali setelah memejamkan mata sejenak. Kalau sudah mengalami hal ini, biasanya suamiku berperan sebagai seorang ibu untukku. Sekedar mengompresku, memperbaiki selimutku, atau memijit-mijit kepalaku karena migrain yang sudah menemaniku sejak lajang sedang kambuh atau memelukku sehingga aku merasa nyaman dan tertidur dengan lelap. Dan bila sudah saatnya beliau kembali ke Jakarta sedangkan tubuhku belum dalam kondisi baik, sms-sms menanyakan kabarku selalu hadir di waktu pagi hingga malam.


Menjalani peran sebagai seorang istri beberapa bulan ini, membuatku mengenang dua orang yang sangat kuhormati dalam kehidupanku saat ini. Ibuku dan ibu mertuaku. Kalau di zamannya dan juga hingga sekarang, ibu Kartini adalah seorang yang begitu berjasa bagi kehidupan perempuan Indonesia dari keterbelengguan terutama dari bidang pendidikan, bagiku ada dua kartini lain yang telah mengajariku tentang banyak hal, terutama bagaiamana menjadi seorang istri dan calon ibu yang hebat. Dua kartini yang senantiasa memberikan cahaya-cahaya kehidupan untukku, suamiku dan kehidupan rumah tangga kami. Bukan hanya setitik, tapi kadang berliter-liter. Sebuah hal yang sangat kusyukuri. Tidak ada ejekan, ataupun sekedar senyum masam dari keduanya ketika aku bertanya banyak hal. Yang ada adalah sebuah kata-kata bijak dan menjelaskan hal-hal yang kutanyakan. Kalau boleh memberi julukan dan meminjam istilah seorang teman, beliau berdua adalah supermoms bagiku.


Bersama ibuku, ada banyak momen yang telah kulewati selama lebih dari seperempat abad. Semuanya menjadi momen yang terekam indah dalam benakku. Kata-kata yang paling aku ingat dari kebersamaanku bersama ibuku adalah saat aku ditempatkan bekerja di Kota Kembang. “Sejak SMU inga di rumah nenek, kemudian kuliah di Yogya dan sekarang kerja di Bandung. Pulang ke Bengkulupun paling jarang. Kadang di rumah cuma sekitar dua minggu dalam setahun”, begitu kata beliau. Kata-kata meninggalkan butiran-butiran bening di mataku, apalagi di hatiku.


Kebersamaan bersama ibu mertuaku baru kujalani beberapa bulan ini. Tapi ada sebuah kenangan yang begitu melekat. Penjelasan beliau yang gamblang saat aku bertanya tentang bahan dan cara memasak sambal kesukaan suamiku yang selalu kunikmati saat kepulanganku dan suami ke rumah mertuaku. Hal itu yang hingga kini mendiami ruang hatiku tentang beliau. Termasuk juga resep bagaimana cara membuat sambal itu menjadi enak di lidah. Awalnya, aku takut untuk bertanya, tapi dalam sebuah kesempatan ketika bapak mertuaku meneleponku, kusempatkan bertanya tentang hal itu. Ternyata ketakutanku akan ditertawakan karena untuk masakan yang sederhanapun aku belum bisa tidak menjadi sebuah kenyataan. Di luar dugaanku, sebuah kalimat menenangkan mengakhiri penjelasan beliau: “kalau masih ada yang ingin ditanyakan, bertanya aja yah”. Begitulah.


Ada beberapa kesamaan tentang beliau berdua. Beliau berdua sama-sama memilih sebuah peran sebagai seorang full time wife sekaligus full time mother. Beliau berdua sama-sama begitu dicintai oleh seorang suami yang sama-sama berprofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah dasar. Serta beliau berdua sama-sama memiliki empat orang buah hati. Yah, aku dan suami sama-sama mempunyai dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Sungguh, sekarang aku bisa merasakan peran full time wife sekaligus full time mother yang telah beliau berdua jalani selama puluhan tahun, bahkan hingga kini. Tidak ada keluhan. Tidak ada keberatan. Bahkan juga untuk sebuah kesulitan keuangan dalam puluhan tahun kehidupan rumah tangga. Beliau berdua menjalani peran itu dengan sebuah rasa syukur di dalam hati. Senyum tulus dari beliau berdua merupakan hal nyata tentang itu.


Aku teringat sebuah nasehat yang begitu kuingat dari bapakku beberapa hari setelah pernikahanku: “bapak ibu Manna dan bapak ibu bojonegoro sama-sama mempunyai gaji dari satu pihak dan kita gak pernah ribut karena masalah uang. Jadi, bapak ibu Manna dan bapak ibu Bojonegoro tidak mau melihat kalian berdua yang sama-sama bekerja menjadi ribut hanya karena masalah uang”. Aku paham dengan makna nasehat itu. Bagi ibuku dan ibu mertuaku masalah uang bukanlah hal yang patut untuk menjadi sumber keributan di keluarga. Rejeki bagi setiap orang sudah diatur oleh Sang Pengatur Kehidupan. Dan, bapakku juga memintaku untuk melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan oleh ibuku dan ibu mertuaku selama puluhan tahun. Menerima semua hal yang memang harus dijalani dalam sebuah kehidupan rumah tangga dengan sebuah rasa syukur dan ikhlas.


Tidak ada cela tentang beliau berdua. Kalaupun ada sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih berada di ruang hatiku, itu tentangku. Dari rahim ibuku dan ibu mertuaku telah terlahir empat orang manusia yang hebat, lalu dari rahimku bisakah juga terlahir manusia-manusia yang paling tidak sama hebatnya dengan empat orang manusia hebat yang telah terlahir dari rahim ibuku dan ibu mertuaku? Pertanyaan itu senantiasa berada dalam ruang diskusiku bersama suamiku. Dan sekarang, aku belum bisa menjawab pertanyaan itu.



Bandung, April 2008

Didekasikan untuk ibuku dan ibu mertuaku yang telah dan terus menjadi matahari kehidupanku bersama suami.


Iklan

3 pemikiran pada “FULL TIME WIFE: SEBUAH CINTA UNTUK DUA KARTINIKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s