Aku dan Memasak

Memasak merupakan hobi sebagian orang. Mungkin, sebagian perempuan menyukai kegiatan memasak. Banyak ekspresi yang bisa dilakukan dalam kegiatan memasak. Meramu, meracik, membentuk, mencampur dan ada banyak kegiatan lainnya. Beda dengan aku. Selama melajang, jika aku diijinkan memilih, kegiatan memasak adalah kegiatan yang mungkin berada pada urutan paling akhir yang kupilih untuk mengisi waktu luangku. Dan ini berarti kegiatan berlama-lama di dapur tidak pernah menempati urutan prioritasku. Aku lebih suka berlama-lama di tempat tidurku, dengan sebuah buku di tangan sambil mendengarkan radio atau televisi dibandingkan berteman dengan peralatan memasak di dapur.

Kebiasaan ini mungkin didukung dengan pola aktivitas masa sendiriku yang hampir menyentuh angka 26 tahun. Semasa sekolah menengah pertama, aku ditugasi oleh ibuku hanya mencuci piring. Memasak tetap menjadi bagian kegiatan wajib yang dilakukan oleh ibuku. Masa sekolah menengah atas, ketika aku bangun tidur sesaat setelah adzan subuh berkumandang, masakan yang hangat dengan bau yang harum sudah terhidang di atas meja makan di rumah nenekku. Kakak perempuan ibuku yang paling tua yang senantiasa bangun paling awal dan kemudian berkutat dengan segala macam aktivitas di dapur untuk memastikan menu sarapan pagi hingga makan malam untuk nenekku, beliau dan aku tepat tersaji di atas meja makan sesaat sebelum beliau berangkat kerja dan aku berangkat ke sekolah.

Masa kuliah, dua kali pindah kos, dua kali pula aku berada pada situasi yang tidak memaksaku untuk belajar memasak. Di kos yang pertama, warteg-warteg sangat berdekatan dengan tempat kosku sehingga tersedia banyak pilihan untuk menu sarapan, makan siang hingga makan malam. Sedangkan di kos yang kedua, setiap Ramdhan tiba, ibu koskulah yang memasakkan menu sahur bahkan juga menu berbuka untukku dan teman-teman kos yang lain. Di hari-hari lain, situasinya hampir sama dengan kondisi kos yang pertama. Ada tersedia banyak pilihan dengan harga yang murah untuk menu sarapan hingga makan malamku, tanpa mengharuskanku berjibaku dengan tetek bengek urusan dapur. Kemalasan itu semakin bertambah, saat hampir 2 tahun di kota Kembang, aku juga bertempatkan di kos yang pemilik kosnya mempunyai warung kecil yang menyediakan beraneka macam menu makanan. Bahkan, saat beberapa kali anemiaku menghampiriku dan mengharuskanku hanya berada di kamar, dengan sukarela ibu kosku mengantarkan menu makan siangku ke kamarku.

Pernah aku berupaya untuk belajar memasak. Hasilnya, keluargaku protes dengan makanan hasil racikanku sehingga makanan itu diletakkan dengan segenap rasa sesal di tempat sampah. Bukan aku tidak mengetahui kriteria sebagian besar laki-laki yang menginginkan seorang istri yang pintar memasak. Diskusi tentang istri yang pintar memasak ini sering memenuhi ruang diskusi ringan di sela-sela makan malamku bersama teman-teman organisasiku semasa kuliah. Sebagian besar teman-teman organisasiku adalah para laki-laki. Saat diskusi tentang istri yang pintar memasak mengemuka di antara kami, dengan cuek aku selalu berkata : kalau begitu aku akan bersuamikan laki-laki yang pintar memasak. Hanya sebuah ungkapan untuk menutupi keegoisanku saat itu, ketika status mahasiswi masih berada di pundakku. Rasa sebal tentu saja menyeruak ketika teman-temanku selalu mengemukakan kriteria istri yang pintar memasak adalah sebuah prioritas. Diskusi tentang istri yang pintar memasak juga mewarnai saat-saat bimbingan skripsiku dengan dosen pembimbingku. Juga cerita tentang istrinya yang bukanlah termasuk kriteria istri idaman sebagian besar laki-laki. Sebuah nasehat yang hingga saat ini masih kuingat, terucap dari dosen pembimbingku di sela-sela masa bimbinganku. Semua kegiatan yang bisa dilihat adalah bisa dipelajari. Begitu kata beliau. Artinya kegiatan memasakpun juga merupakan sebuah kegiatan yang bisa dipelajari.

Saat taaruf dengan suamiku, aku jujur mengatakan kalau aku bukanlah calon istri idaman kebanyakan para laki-laki. Untuk urusan memasak, aku masih harus banyak belajar. Dan bahkan aku adalah golongan pemula. Saat itu, aku sudah siap jika karena urusan memasak, taaruf yang entah untuk kesekian kalinya itu tidak berujung pada happy ending. Waktu itu beliau bertanya, bisa masak apa aja? Sederhana aku menjawab pertanyaan itu: aku hanya bisa masak air, masak nasi, masak mie dan goreng telor. Hanya itu. Bahkan saat menjelang akad nikah, pertanyaan sejauh mana kemajuan kemampuan memasakku juga ditanyakan oleh calon ibu mertuaku. Dan jawabanku masih sama dengan jawaban saat taaruf. Sebuah kalimat sederhana dari calon suamiku saat itu terus menyemangatiku: yang penting mau belajar. Hingga kini, kalimat itu masih kuingat.

Kunjungan ke tempat bapak ibu mertuaku sehabis akad nikah dan saat acara ngunduh mantu adalah sebuah kunjungan yang awalnya adalah menakutkan. Untunglah ibu mertuaku sudah tahu sejak awal kalau aku bukanlah menantu idaman para kebanyakan mertua dalam urusan memasak. Beliau menyempatkan mengajariku tanpa membuatku merasa diajari. Goresan di ujung jariku cukuplah menjadi bukti bahwa aku memang ingin belajar memasak. Kegiatan belajar memasak itu sempat terlupakan lagi sesaat kunjunganku dan suamiku ke rumah bapak ibu mertuaku berakhir. Ada banyak hal yang harus dipersiapakan menjelang keberangkatanku ke negeri sakura. Masa satu bulan berada di negeri sakura, keinginan itu hanya berada dengan manis di dalam hatiku. Hari-hari berlalu dengan kegiatan yang cukup padat, dari pagi hingga malam. Sekembali dari negeri sakura, kegiatan yang cukup menyita waktu kali ini adalah kepindahanku dari kamar kos ke rumah kontrakan. Suamiku mengingankanku tidak lagi sebagai anak kos. Dan untuk pertama kalinya, aku berada di rumah kontrakan. Padahal saat kuliah dulu, berada di rumah kontrakan adalah sesuatu yang selalu kuhindari. Terlalu banyak urusannya, begitulah pikiranku.

Hingga 3.5 bulan dari waktu pernikahan yang telah kujalani, di suatu sabtu pagi, ada sebuah keinginan untuk kembali belajar memasak. Aku pergi ke pasar sendirian. Suamiku tidak bisa menemani. Ada tes yang harus diikutinya terkait dengan rencana sekolahnya. Bingung awalnya menu masakan apa yang akan kuhidangkan. Apalagi saat itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sebuah pasar tradisional di sebuah sudut kota Bandung. Segera kureka-reka dalam pikiranku menu yang akan kumasak untuk hari sabtu itu dan minggu besok harinya. Bolak-balik dari sebuah kios ke kios yang lainnya akhirnya keranjang belanjaanku sudah hampir penuh. Akhirnya, di kepalaku tergambar dengan jelas tumis kangkung dengan taburan goreng bawang dan cabe merah, stick udang goreng serta tempe goreng untuk menu hari sabtu. Sedangkan sambal goreng terong ungu dan dadar telor yang ditambah dengan irisan daun bawang dan daun seledri menjadi menu untuk hari Minggu. Untuk hari Minggu, aku tinggal membeli sayur siap saji di warteg dekat rumah kontrakanku.

Hari sabtu, masakanku sukses menghampiri indera pengecap suamiku. Kesannya: masakannya enak, Fey. Bagiku, kata-kata itu bukan hanya sebuah pujian yang hanya ingin menyenangkanku saja saat itu. Porsi makan beliau yang lebih banyak dari biasanya adalah bukti nyata kata-kata itu. Hari minggu, porsi makan beliau lebih banyak lagi. Juga porsi makanku. Bahkan untuk menu makan malam, aku harus kembali memasak mie rebus yang dicampur dengan telor serta irisan daun bawang, seledri dan tomat. Perutku dan perut suamiku begitu penuh minggu malam itu. Aku ceria. Suamiku juga bahagia. Untuk pertama kalinya aku merasakan rasa nikmat hasil masakanku sendiri. Juga untuk pertama kalinya, suamiku mencicipi hasil perjuanganku memasak di hari sabtu dan minggu itu.

Hmm, kata-kata dosen pembimbingku benar. Semua kegiatan yang bisa dilihat adalah bisa dipelajari. Begitu juga dengan memasak. Yang penting ada niat untuk mau belajar. Begitulah semangat yang senantiasa dipompakan oleh suamiku. Spesial untukku:)

Bandung, pertengahan April 2008

momen 3.5 bulan pernikahan, saat untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah kenikmatan berjibaku dengan peralatan-peralatan memasak:)

Iklan

6 pemikiran pada “Aku dan Memasak

  1. Wah, berarti kalah jauh sama aku klo ttg soal masak-memasak, Fet.
    Saat kos dulu, aku pernah masak sendiri. Dari goreng-goreng hingga sayur-sayur, hehe. Bahkan klo di rumah, aku suka masak sayur dengan komposisi jenis sayur apa aja dijadikan satu, plek, eksperimen asli ceritanya.
    Rasanya? Ehm, yang namanya masakan sendiri, selalu terasa eunak tenan…
    Ya, sana belajar masak yang lain lagi deh.
    Biar irit! Lho?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s