Menunggu itu ehmm…ehmmm…

bunga-musim-dingin.jpgHari itu adalah hari sabtu. Sengaja, hari itu, aku tidak ke kampus seperti biasanya. Aku sudah minta ijin dengan seniorku tidak ke kampus hari itu. Lagi pula hari itu adalah hari libur di jepang, sehingga memang tidak ada kewajibanku untuk datang ke kampus hari itu. Hari itu aku berjanji untuk bertemu dengan seorang teman dari Tokyo di nishi-chiba eki (stasiun nishi-chiba). Jarak nishi-chiba eki dengan tempatku menginap selama di Jepang lumayan dekat, ditempuh kira-kira lima belas menit berjalan kaki.


Sekitar lima belas menit menjelang pukul 12 siang, aku sudah bersiap-siap meninggalkan kamarku, untuk menuju ke nishi-chiba eki. Pukul 12 adalah janji yang sudah kami tepati via email untuk bertemu. Sampai di nishi-chiba eki, masih ada beberapa menit menjelang pukul 12. Aku membaca buku yang sengaja aku bawa. Sebuah buku berisi beberapa kosakata dalam bahasa jepang, lengkap dengan gambar-gambar yang menarik dan memudahkan interpretasiku. Tempat menungguku persis di depan pintu keluar nishi-chiba eki. Karena hanya tempat itu yang memungkinkan aku dan temanku bisa bertemu. Selain tempat itu, aku tidak terlalu paham dengan seluk-beluk kota Chiba.

Beberapa menit sudah beranjak dari angka 12. Aku melihatnya pada jam yang terpampang di atas pintu keluar nishi-chiba eki. Biasanya kereta api di Jepang selalu ontime. Jadwal keberangkatan dan kedatangan hampir persis sama dengan yang telah tertera di papan pengumuman jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api. Maka, aku sempat terkaget-kaget saat melihat orang-orang berlari-lari kecil saat mendekati limit-limit terakhir waktu keberangkatan kereta api. Ketinggalan satu detik, berarti harus menunggu kereta api yang datang pada jam berikutnya. Pengalaman naik kereta api ketika di Indonesia rupanya tidak berlaku di Jepang.

Aku sudah gusar. Apakah tidak jadi yah, pikiran itu berkelebat. Kulangkahkan kaki menuju telepon umum yang berada beberapa langkah dari tempatku menunggu. Aku memencet sejumlah nomor, setelah memasukan sejumlah uang yen.

“Fet, maaf, mbak lagi sedang diskusi tentang keluarga dengan suami. Tadi, mbak sudah memberitahu kalau mbak datang terlambat. Mbak sudah email fety”, suara di seberang menyapaku.

“iya, mbak. Gak apa apa. Fety belum baca emailnya karena fety gak ke kampus hari ini.”, jawabku pendek.

Percakapan kami terus berlangsung. Kami memang lama tidak berjumpa. Kali terakhir berjumpa adalah saat dia berkunjung ke Indonesia, pertengahan bulan Ramadhan 2007. Aku kangen dia. Diapun juga ingin bertemu denganku. Dan, akhirnya kami pun sepakat lagi untuk bertemu pukul 3 siang nanti. Selang waktu lebih kurang 2.5 jam akhirnya aku gunakan untuk istirahat di kamarku. Lumayan ada waktu untuk merebahkan badan di kasur yang empuk.

Hmm, beginilah, kalau tidak mempunyai alat komunikasi alias handphone. Komunikasipun menjadi tidak lancar. Selama di Jepang, handphoneku memang tidak bisa digunakan. Selain karena teknologi handphoneku bukanlah teknologi tingkat tinggi, ternyata roaming internasional juga termasuk kategori mahal. Untunglah, sebelum keberangkatan ke negeri Sakura, sejumlah senior di kantor menyakinkan aku kalau masalah komunikasi dengan keluarga di Indonesia bukanlah sebuah hal yang rumit di negeri matahari terbit.

Hampir sama dengan sebelumnya, lima belas menit menjelang pukul 3, aku menuju lagi nishi-chiba eki. Kali ini disertai dengan angin yang cukup kencang. Debu-debu berterbangan dan menerpa wajah dengan tamparan yang cukup keras. Deretan sepeda yang ada di belakang tempat aku menginappun menyentuh permukaan aspal jalan. Di tempat yang sama dengan 3 jam sebelumnya aku menunggu, aku kembali menunggu. Aku berlindung di balik tembok besar yang menjadi penyangga tegaknya atap-atap stasiun. Kali ini, kegiatanku bertambah. Aku menjadi lebih kreatif. Memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi ke stasiun. Wajah-wajah sibuk, juga gerakan kaki yang kadang membuatku hampir selalu ketinggalan saat berjalan dengan teman-teman selama di Jepang. Aku memperhatikannya dalam bingkai kedua kelopak mataku. Hmm, kayaknya waktu adalah sesuatu yang sangat berharga di negeri sakura ini.

Beberapa menit sudah berlalu lagi dari pukul 3. Wajah yang kutunggu tetap juga tidak kutemukan dalam deretan wajah-wajah putih, kadang disertai dengan bersemu merahnya pipi, berbalut baju khusus musim dingin. Aku beranjak lagi menuju telepon umum. Kumasukkan lagi beberapa yen, dan lalu kepencet sederetan nomor.

“Fet, keberangkatan kereta apinya ditunda karena anginnya kencang banget. Mbak juga gak tau kapan keretanya berangkat.”, suara panik di seberang terdengar di gendang telingaku.

“Kira-kira, keretanya sampai di nishi-chiba eki jam berapa, mbak. Ntar fety tungguin. Fety memang gak ada acara hari ini.”, kuberharap kata-kata itu mampu mengusir sedikit panik yang terdengar di gagang telepon.

“Gak tau, fet. Mungkin sekitar empat puluh lima menit lagi, mbak baru bisa sampai di nishi-chiba eki.”

“Ok, mbak. Ntar pukul 4, fety ke nishi-chiba eki lagi. Semoga keretanya segera sampai. ”, jawabku.

Ada waktu sekitar 1 jam menunggu. Pulang ke tempat aku menginap bukanlah sesuatu hal yang memudahkan. Akhirnya, kuputuskan untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan yang terdekat dengan nishi-chiba eki. Persis di belakang nishi-chiba eki, dan akupun cukup bisa berjalan kaki saja.

Hampir satu jam aku mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Dengan satu bungkus cemilan dan beberapa oleh-oleh akhirnya membawaku ke kasir, membayar sejumlah belanjaan yang mengisi rantang belanjaanku.

Menjelang pukul 4, aku menuju ke stasiun lagi, menunggu lagi hampir di tempat yang sama. Juga dengan aktivitas yang sama, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, melintas di depanku. Ternyata, beberapa menit jarum panjang melewati angka 12 dengan jarum pendek di angka 4, aku juga belum menemukan wajah seseorang yang kukenal di antara orang-orang yang melintas di depanku. Kembali aku termangu. Sedangkan angin kencang semakin kencang di luar stasiun. Terasa dingin yang lebih menusuk. Akhirnya, kuputuskan lagi untuk menelepon. Kumasukkan lagi beberapa yen.

“fet, maaf, keretanya gak tau akan berangkat jam berapa karena anginnya kencang banget”, suara di seberang sana masih terdengar panik.

Percakapan kami lumayan berlangsung lebih lama. Juga disertai dengan permintaan maafnya karena membiarkanku lama menunggu. Dia juga menawarkan janjian di waktu yang lain, tapi aku benar-benar tidak yakin bisa menepati janji itu. Ada beberapa kegiatan yang harus diikuti menjelang kepulanganku ke tanah air.

“yah udah, mbak, gpp”, itu jawaban akhirku, menutup pembicaraanku dengannya.

Perjalanan pulangku menuju tempat menginap juga masih ditemanin angin. Hmm, ternyata, menjelang satu bulan tanpa alat komunikasi benar-benar membuat segala sesuatunya menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menunggupun juga menjadi lebih lama. Dan segala sesuatu tentang perubahan diketahui dalam waktu yang tidak cepat. Yah, sudahlah, hari ini aku belajar tentang sebuah hal yang lain. Menunggu itu memang ehmm…ehmmm…

@Chiba, akhir Feb 2008

Iklan

3 pemikiran pada “Menunggu itu ehmm…ehmmm…

  1. iya sdh di bandung lagi nih:),
    ehmm, di eramuslim mmg blm tune-in lagi nih. doain yah..
    btw, aku pernah liat blogmu di friendster:) inspiratif deh:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s