Mencari dalam Keheningan

deretan-sepeda_a.jpgMenemukan sebuah jejak keterpisahan bukanlah sebuah hal yang baru bagiku. Bahkan sejak dulu, saat aku masih mengenakan seragam putih abu-abu. Atau saat lima tahun meninggalkan kota kelahiran, demi sebuah kata yang bernama ilmu dan menjemput impian itu selama hitungan 5 tahun di sebuah kota yang dijuluki sebagai kota pelajar. Juga saat hampir 2 tahun berdiam di kota kembang dengan segala hiruk pikuknya. Tapi, aku benar-benar merasa keterpisahan itu baru pada saat ini, saat ribuan kilometer memisahkanku dengan orang-orang yang kucintai.

Masih ada segengam harapan untuk melepas rindu, dengan sedemikian banyak cara yang bisa dilakukan. Bertemu, tersenyum dan bergembira di sela-sela waktu makan siang bersama teman-teman dari satu tanah kelahiran adalah hiburan sendiri yang mampu menepis dan meninggalkan sejenak rasa rindu itu di sebuah sudut hati terdalam. Atau, sekedar berteman dengan dingin demi mendengar suara orang-orang tercinta adalah cara lain yang mampu mengikis sedikit demi sedikit rasa rindu itu. Juga dengan menulis rangkaian kata yang membentuk sebuah cerita lalu mengirimkannya melalui elektronik mail adalah pekerjaan rutinitas lain yang kulakukan dengan segenap cinta.

Tapi, bukanlah itu yang menjadi sebab dari semuanya. Keheningan tetap menjadi suara-suara pengisi hari-hari yang mesti dijalani. Kesendirian tetap menjadi bagian dari pekan-pekan yang mesti dilewati. Mulai dari setelah mata menatap indahnya dunia, dan lalu kemudian menutup kembali untuk menjemput malam dan juga mimpi. Semuanya berlalu dalam sapaan hening. Kalimat-kalimat syahdu mengingat waktu menunaikan kewajiban untuk bertemu dengan Sang Khalik di lima waktu, tidaklah terdengar. Bahkan, pengingat waktu itu hanya berupa sebuah program yang terinstal dengan sempurna di laptop. Juga hening bertambah saat tidak terdengar suara-suara syahdu melalui bacaan-bacaan indah menjelang terbitnya fajar, sebelum menunaikan kewajiban sebagai muslimah di waktu ufuk. Atau keheningan itu semakin menjadi-jadi, saat hanya diri ini yang melantunkan bacaan-bacaan indah itu, padahal adalah hal itu adalah sebuah kebiasaan kebersamaan bersama sang kekasih hati. Semuanya menjadi hening di sini.

Ada kesendirian yang lain, saat lalu lalang orang adalah orang yang asing. Bahkan adalah sangat jarang bertemu dengan seseorang yang mengenakan pakaian takwa. Karena itulah, adalah sebuah keindahan yang tak terlukiskan saat ucapan “assalammualaikum” disertai dengan senyum terdengar di suatu pagi, juga keindahan itu bertambah karena sang pengucap salam adalah seseorang yang juga mengenakan pakaian takwa. Kesendirian ini sedikit mempunyai hiburan.

Atau menjadi sebuah semangat yang lain, saat ada undangan berkumpul untuk saling mendengarkan tausyiah muncul di sebuah layar yahoo messenger di suatu hari. Kerinduan untuk berkumpul dalam kebaikan itu menjadi sebuah oase dalam kesendirian ini.

Yah, semuanya menjadi luar biasa di sini, untuk hal-hal yang dianggap biasa selama puluhan tahun. Panggilan awal menunaikan kewajiban lima waktu, bacaan indah surat-surat cinta dari Sang Khalik, sapaan “assalammualaikum”, saat menemukan seseorang yang mengenakan balutan pakaian takwa dalam keseharian, juga dengan sebuah undangan kebaikan untuk saling mendengarkan tausyiah.

@Chiba, February 2008

Iklan

Satu pemikiran pada “Mencari dalam Keheningan

  1. Tolong dong kirimin tulisan2 by email, inspiring banget

    fety: Gimana klo gini aja, sering kunjungi blog ini aja:) Boleh di paste kok, tapi tolong cantumkan sumbernya yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s