Negeri Sakura dalam Pandanganku: Sebuah Kisah Seminggu

boneka-salju_a.jpgAku sudah seminggu berteman dengan cuaca dingin untuk pertama kalinya dalam hidupku. Suhunya hampir di bawah 10OC, bahkan hari kedua menginjakkan kaki di negeri matahari terbit aku terkagum dengan butiran-butiran salju yang turun dari langit dan membuat permadani putih di sekeilingku. Badanku tentu saja harus turut pula menyesuaikan. Porsi makan pagi, makan siang dan makan malamku bertambah. Cuaca dingin memang membuat perutku selalu bertambah lapar. Bukan itu saja, satu buah pakaian hangat, satu buah sweater, satu buah jaket tebal, dua lembar kaus kaki adalah sebuah teman yang harus senantiasa dipakai, menambah tebal pakaian-pakaianku yang biasa aku pakai di tanah kelahiran. Tidurpun juga tidak kalah tebal. Tiga lembar selimut menemaniku yang kadang juga menggunakan kaus kaki dan sweater. Yang lebih parah adalah saat menyentuh air. Dinginnya itu yang kadang sampai menusuk pori-pori kulit tubuhku. Untunglah ketika saatnya mandi ada air hangat yang bisa dijadikan pilihan.

Melihat negeri sakura, aku melihat sebuah negeri dengan penggunaan teknologi yang entah berapa kali lipatnya dengan teknologi yang digunakan di negeri kelahiranku. Menatap negeri matahari terbit, aku menatap sebuah negeri dengan budaya keseharian yang entah berapa kali lipatnya dengan budaya keseharian yang aku pernah jumpai di negeri kelahiranku. Aku tidak bermaksud membandingkan, apalagi menyanjung-nyanjung yang berlebihan negeri yang aku baru seminggu berada dalam lingkaran kehidupannya.

Bagaimanapun, negeri kelahiranku adalah negeri tempat beradanya orang-orang yang aku cintai. Negeri yang dalam rentang waktu seminggu ini bayangannya tidak pernah memudar dari benakku. Masih sama seperti dulu, sebelum seminggu ini, ketika aku berada dalam hiruk pikuk kehidupan di tanah airku.

Sahabatku, maukah kalian aku ceritakan tentang penggunaan peralatan teknologi yang membuatku bingung menggunakannya. Atau akukah yang memang masih gagap teknologi? Mungkin. Hampir semua peralatan yang digunakan adalah peralatan yang otomatis. Mulai dari saat masuk pintu, sampai dengan saat urusan di kamar mandi. Aku pernah melakukan perbuatan yang mungkin sangat menggelikan. Atau mungkin tergolong bodoh dan memalukan? Entahlah. Aku pernah melakukan kesalahan menekan tombol ketika di kamar mandi sehingga menimbulkan bunyi ‘nguing-nguing’ dan mengundang orang-orang yang sedang konsentrasi di laboratorium keluar menuju kamar mandi. Bertemu dengan mereka, aku hanya memasang tatapan lugu sembari membungkukkan badan dan memohon maaf telah menyebabkan keributan. Aku pernah kelabakan untuk mematikan mesin pengering pakaian setelah sekian lama mesin pengering pakaian itu tidak juga berhenti dari bekerjanya untuk mengeringkan pakaianku. Akhirnya, seniorku yang mengajariku bagaimana mematikan mesin pengering pakaian itu. Aku pernah kebingungan mencari tempat keluarnya tiket keretaku ketika suatu hari seniorku mengajakku jalan-jalan dengan menggunakan kereta listrik. Aku juga pernah kebingungan di mana aku harus memasukkan uangku ketika aku harus membeli tiket kereta api dan membayar ongkos bis. Atau ketika aku membeli minuman, aku bingung dari bagian mana aku harus mendapatkan minuman yang sudah aku beli. Bahkan yang lebih parah adalah saat aku harus celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri toilet untuk menemukan tombol yang harus kepencet sehingga aku bisa bersuci di sebuah kamar mandi di suatu stasiun. Ternyata, air untuk aku bisa bersuci hanya bisa keluar kalau aku menghadapkan tanganku pada sebuah empat persegi dari bahan besi yang tertempel di kamar mandi. Akupun hanya bisa tersenyum sendiri dengan ketidakmengertianku.

Ada banyak hal yang kusuka setelah seminggu berada di negeri matahari terbit ini. Aku suka dengan kebersihan negeri ini. Sampah hampir tidak kutemui di sepanjang jalan yang kutemui, kecuali di tempat-tempat pengumpulan sampah. Di tempat pengumpulan sampahpun, sampah-sampah tersebut terbungkus rapi dan sudah dipisahkan. Pemandangan ini mengingatkanku pada kota kembang, dengan sejumlah permasalahan yang tidak pernah usai tentang pengolahan sampah. Aku suka dengan jernihnya sungai di negeri ini. Membuatku lebih terpesona kepada alam yang diajak bersahabat, bukan membuat alam menderita dengan sejumlah beban yang harus ditanggung oleh air yang padahal tanpanya kita tidak pernah bisa menghirup nafas kehidupan.

Aku suka dengan rasa menghormati orang lain yang menjadi budaya penduduk negeri ini, bahkan juga untuk kehidupan di tempat-tempat publik. Tidak terdengar suara handphone yang menjerit-jerit di dalam kereta atau bis karena pengunaan handphone memang dilarang di dalam angkutan umum. Atau saat lain, ketika sejumlah pejalan kaki ingin menyebarang sebuah jalan kecil, sebuah mobil menunggu dengan sabar sampai seluruh pejalan kaki menyeberang tanpa kudengar suara klakson mobil meraung-raung. Atau saat aku akan memasuki kereta untuk berpergian ke sebuah tempat. Sebuah antrian memanjang ke belakang pada sebuah garis hijau, yang merupakan tempat pintu masuk kereta sesaat kereta berhenti. Bahkan, aku tidak menemukan orang-orang yang berdesakan di pintu masuk kereta karena penumpang yang akan keluar dan penumpang yang masuk saling berebut untuk mendahului. Di negeri sakura ini, penumpang yang akan masuk kereta berjejer teratur ke belakang di bagian kiri atau kanan pintu masuk kereta sehingga memberi peluang penumpang yang akan keluar tanpa harus berdesak-desakan. Atau saat di bis, penumpang yang akan naik bis mempunyai jalan masuk yang berbeda dengan jalan keluar penumpang yang akan turun dari bis. Aku juga bahkan bisa menunaikan kewajiban lima waktuku tenang di sebuah subway (kereta bawah tanah) dengan tenang, walaupun mungkin sejumlah mata yang heran memandang kearahku.

Aku juga suka dengan senyuman manis dan wajah ramah warga negeri ini, yang hampir selalu terdengar sapaan: ohayo gozaimase (selamat pagi), konnichiwa (selamat siang), dan konbanwa (selamat malam) ketika dalam sebuah perjumpaan, bahkan juga diucapkan oleh para penjaga kafetaria atau restoran saat aku berada di kafetaria untuk makan siang, dan di restoran ketika ada undangan makan malam. Juga saat aku mendengar ucapan arigato gozaimase (terima kasih) disertai dengan membungkukkan badan sesaat setelah mereka menerima sesuatu, walaupun itu juga mungkin berupa bantuan tenaga saja. Aku juga suka dengan ketertiban di dalam bis angkutan umum. Tidak ada penumpang yang berdesakan. Tidak ada suara kernet yang berteriak-teriak sehingga setiap penumpang bisa melakukan aktivitas apapun di dalam bis, bahkan juga untuk sekedar memejamkan mata selama di perjalanan.

Sebuah pesona indah melingkupi ruang benakku tentang negeri matahari terbit selama satu minggu ini. Ada tiga minggu ke depan yang harus aku jalani. Entahlah, apakah di tiga minggu ke depan itu, pesona indah tentang negeri ini akan runtuh seperti mencairnya salju di halaman kamar tempat aku menginap atau pesona itu akan bersemayam indah dalam kenanganku. Aku tidak mengetahuinya dengan pasti. Tapi, sebuah hal yang aku mengetahuinya dengan pasti. Negeri ini bukanlah tanah kelahiranku. Aku tahu kekaguman itu tidak boleh sampai melupakanku pada sebuah negeri yang dilingkupi sedemikian banyak persoalan, negeri kelahiranku.

@ Chiba, February 2008

9 thoughts on “Negeri Sakura dalam Pandanganku: Sebuah Kisah Seminggu

  1. Assalamu’alaikum

    Mbak Fety, di jepang nya belah mana ya ? Kampus apa gitu ?

    Sukses ya

    fety: wa’alaikumsalam wr wb mas adjie, di belahan tengah mas adjie:D di kota Chiba. Nama kampusnya Chiba Daigaku. sukses juga untuk mas adjie:)

  2. pokoknya seru banget teh, dan bikin malu. aslinya fety yang gaptek sih:):) thanks teteh untuk doanya…oleh-olehnya? ingatin lagi yah, biar gak lupa:D

  3. Hihihi…lucu juga ya pengalaman di toire nya,,,aku jd ngebayangin wajahnya fety wkt bunyiin alarm n org2 pd nyamperin,,,semoga tambah familiar aja ama segala hal n hil yg ada di negeri sakura coz u’ll stay there for few years,next october, right?,,,,thanks for d nice gifts,,,o ya satu hal katanya dsana jarang ada speda motor ya?n mobil pun sedikit,,,tp ko di negri kita mereka malah produksi banyak mobil n speda motor ya…enak di mereka ga enak di kita duonk klu gitu…jepang jd bersih eh di kita malah jd banyak pollution,,,smoga hasil menimba ilmunya di negeri sakura kelak akan membawa pembaharuan bagi negeri kita …AMin…don’t forget oleh2nya lg ya…hmmm tp mesti nunggu 3 taon ya?lamma ah…kirim lewat paket aja ya hihi

  4. kapan yach aku bisa ngerasain bisa melihat negeri orang lain, walau kurasakan memang negeri sendiri memiliki kekurangan yang jauh dari negeri2 tetangga…. moga2 aja kita bisa belajar dan menerapkan kehidupan yang mungkin bisa di katakan layak tuk bangsa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s