Kesendirian yang Bermakna

“Fet, nanti kamu makan siang? Di kantin kantor kan?”, sebuah tanya muncul di layar Yahoo Mesengger saya. Dari seorang teman kantor. Saya dan dia berada pada satu gedung di komplek kantor kami. Dia berada di lantai empat sedangkan saya bertempat di lantai tiga.

“Ya, kenapa?”, jawab saya pendek.

“Bareng yah”, kata-kata jawaban muncul kembali di layar Yahoo Mesengger saya.

“Memangnya teman-temanmu yang lain lagi pada kemana? Gak masuk kantor?”, saya mengetikkan pertanyaan itu di layar Yahoo Mesengger saya.

“Aku lagi sendirian di ruangan nih. Teman-teman lagi pada ke lapangan semua. Jadi, gak ada teman makan siang. Gak enak kalau makan siang sendirian.”, penjelasan singkat dari teman saya menjawab pertanyaan saya atas ajakannya untuk makan siang bareng.

“Gitu yah. Ok deh, entar ketemuan di masjid yah. Abis sholat Dzuhur kita makan siang bareng”, jawab saya menyetujui ajakannya.

Selesailah percakapan lewat dunia maya antara saya dan dia menjelang siang hari itu.

***

“Wah, ternyata gak enak sendirian yah Fet. Gak ada teman”, begitulah kira-kira kata teman saya itu ketika saya dan dia bertemu di ground floor masjid kantor, sewaktu saya mau berwudhu sebelum menunaikan shalat Dzuhur. Saya tersenyum menanggapi ucapannya. Ternyata perbincangan tentang kesendirian di Yahoo Mesengger menjelang siang tadi berlanjut saat itu.

“Gimana dengan kamu yah, Fet, yang setiap hari hampir sendirian dikantor”

“Yah, dijalanin aja. Lama-lama enak juga kok”, jawab saya pendek.

Perbincangan tentang kesendirian hari itu terputus, karena saya dan teman saya harus segera menuju ke lantai dua, tempat sholat khusus wanita di masjid kantor.

***

Kesendirian. Kata ini telah menjadi teman hidup saya, sejak enam tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk kuliah jauh dari orang tua dan saudara. Kota tempat saya menuntut ilmu bukan hanya berbeda provinsi dengan kota kediaman orang tua dan saudara-saudara saya, tapi berbeda pulau dan berjarak beratus-ratus kilometer dari kota kelahiran saya. Pertama kali berteman dengan kesendirian, saya merasakan keterasingan, kesepian dan perasaan sejenis yang terkadang membuat saya menjadi seorang yang melankolis. Saat-saat seperti ini, buku diary saya akan penuh dengan ‘coretan indah’, atau kadang-kadang bait-bait puisi. Akhirnya, saya berusaha untuk menikmati kesendirian saya, yang terpisahkan dari bapak, ibu dan saudara-saudara kandung saya. Kurang lebih lima tahun bersama kesendirian, ketika saat-saat saya masih berstatus mahasiswa, ternyata memang kesendirian yang akhirnya membentuk karakter diri saya menjadi seorang yang suka pada kesendirian. Jalan-jalan sendiri, kemana saja, baik ke toko buku, ke pasar, ke toko elektronika dan ke tempat-tempat yang lain, bagi saya adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Dalam kesendirian, saya bisa merenung tentang diri saya, cita-cita saya, pekerjaan saya, keluarga saya dan lingkungan saya. Dalam kesendirian, saya bisa berdialog dengan diri saya secara lebih dalam. Dalam kesendirian, saya bisa merenung tentang hakikat hidup. Terlalu banyak pelajaran hidup yang bisa saya peroleh dengan kesendirian. Bahkan, sampai dengan sekarang, saya tetap tidak mempunyai seorang sahabat perempuan. Bagi saya, tempat curhat yang paling aman bagi masalah-masalah saya adalah dengan kakak atau adik saya serta diary saya.

***

Kesendirian itu ternyata belum usai. Bahkan berlanjut hingga kini, ketika saya memasuki dunia kerja. Ternyata, Allah menakdirkan saya berkerja di sebuah kota yang mendapat julukan Kota Kembang. Di kota ini, sama halnya dengan kota tempat saya menuntut ilmu, saya tidak mempunyai saudara dekat. Di lingkungan kantor, kesendirian juga menjadi teman saya. Di bidang saya, saya adalah orang yang paling cantik, paling yunior dan sendirian pula. Maklum, saya adalah satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan di bidang saya. Di bidang saya, hanya saya yang bergelar sebagai ‘new comer’. Rekan-rekan kerja yang lain adalah orang-orang yang sudah sepantasnya saya panggil dengan sebutan bapak. Usia mereka hampir menyamai usia bapak kandung saya. Ada satu orang rekan kerja yang usianya dua atau tiga tahun di atas saya. Tapi, untuk saat ini dia sedang menyelesaikan pendidikan masternya di negeri Sakura. Pengalaman berteman dengan kesendirian selama saya kuliah di Yogya, tampaknya menjadi sebuah pelajaran yang berharga agar tetap survive di lingkungan kerja

***

.Ah, kesendirian. Untuk saat ini, rupanya tetap menjadi bagian cerita hidup saya. Yah, hitung-hitung belajar untuk lebih mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Bukankah suatu saat, ketika kematian menjemput saya, saya juga akan sendirian menghadapi sakaratul maut? Bukankah suatu saat, ketika berada di alam kubur, saya juga akan sendirian menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nangkir?Bukankah suatu saat, ketika saya berada di Padang Mashyar, saya juga akan sendirian menghadapi ‘ritual pertanggungjawaban atas amal saya’?

Bandung, September 2006

*sebuah tulisan lama yang mengingatkan kembali tentang kesendirian saat ini…

Iklan

Satu pemikiran pada “Kesendirian yang Bermakna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s