Kejutan di pagi hari

Di daycare Fatah ada 2 pintu, pintu utama dan pintu samping. Pintu samping ini digunakan sebagai pintu akses bagi ortu untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya. Pintu samping ini biasanya dibuka antara pukul 10 pagi s.d 6 sore untuk hari Senin-Jumat, dan pukul 10 pagi s.d. 4 sore untuk hari Sabtu. Di luar jam-jam tersebut, jika ortu ada keperluan mesti melewati pintu utama yang langsung terhubung dengan ruang kepala sekolah merangkap ruang tamu juga ruang guru.

Hari Sabtu, 21 Mei, aku mengantar Fatah ke daycare sekitar pukul 9.45 pagi. Sempat mencoba membuka pintu samping, ternyata sudah dikunci. Ya sudah aku lewat pintu utama yang juga sudah dikunci. Setelah menekan bel, ada seorang guru yang membukakan pintu. Setelah meletakkan barang-barang Fatah dan serah terima Fatah, guru wali kelas Fatah yang hari itu juga bertugas berkata :

“Okaasan, nanti kalau pulang tolong lewat pintu samping yah.”

“Tapi, tadi waktu saya baru datang pintu sampingnya sudah dikunci, Sensei.”, jawabku.

“Oh yah, gitu yah Okaasan. Tapi kayaknya belum kok dikunci.”

“Ok, Sensei.”, jawabku. Karena saat datang tadi aku lewat pintu utama, aku mengambil sepatuku dulu yang kuletakkan di pintu utama. Wali kelas Fatah sedang mengendong Fatah dan seorang teman Fatah yang sedang menangis.

Aku lalu berjalan sendiri ke pintu samping. Ternyata benar, pintunya sudah dikunci. Aku balik lagi ke kelas Fatah.

“Sensei, pintunya sudah dikunci.”, kataku.

“Oh yah, Okaasan. Maaf yah Okaasan. Kalau gitu sama-sama saya saja kita lewat pintu samping.”, kata Sensei Fatah.

Aku mengikuti wali kelas Fatah yang menggamit tangan Fatah sambil menggendong teman Fatah yang masih menangis. Pintu samping itu dibukakan oleh Senseinya Fatah. Setelah dadah dengan Fatah aku meninggalkan sekolah Fatah.

Aku pikir persoalan pintu ini selesai sampai di situ. Ternyata masih berlanjut. Saat Fatah sudah pulang, aku baca buku penghubung ortu dan sekolah. Ada permintaan maaf tertulis di buku karena permasalahan pintu pagi tadi.

Pagi ini, Rabu, 26 Mei, aku mengantar Fatah lebih awal. Kami sampai di sekolah Fatah pukul 8 pagi. Setelah serah terima Fatah dengan gurunya, aku bertemu dengan kepala sekolah Fatah di depan kelas Fatah.

“Okaasan, maaf yah untuk masalah pintu di hari Sabtu kemarin.”, kepala sekolah Fatah berulang kali membungkukkan badannya ke arah aku. Wah, ternyata masalah pintu ini masih berlanjut, pikirku.

“Gak papa, Sensei. Saya titip Fatah.”, jawabku.

Di perjalanan menuju ke kampus peristiwa ini masih melekat di ingatanku. Masalah pintu yang membuat seorang kepala sekolah mesti berulang kali membungkukkan kepalanya kepada wali murid. Ah, sekolah Fatah. Ada banyak hal yang membuat aku jatuh cinta dengan daycare ini.

[Serial LDM] JpGU 2014 dan Museum Ramen

Saat ayah Fatah masih di Jepang, jika aku ada jadwal seminar, maka ayah Fatah yang bertugas menjemput Fatah di daycare dan mengambil alih semua urusan Fatah. Nah, saat LDM gini, akhir Mei kemarin aku punya jadwal seminar pada tanggal 30 Mei 2014 di Japan Geoscience Union (JpGU). Sesi presentasiku kebagian di sore hari, antara pukul 17.00-17.45 JST. Setelah hitung-hitungan waktu, antara tempat seminar dan rumah yang pulang pergi bisa memakan waktu 2-3 jam menggunakan kereta, akhirnya aku mengambil keputusan Fatah dititipkan di daycare yang disediakan oleh panitia seminar.

Rencana awal lain adalah, karena kemungkinan akan sangat malam tiba di Chiba lagi, aku sudah meminta kesediaan seorang teman yang apatonya dekatan dengan tempat seminar untuk numpang nginap semalam. Akhirnya, rencana ini aku batalkan karena setelah hitung-hitungan waktu lagi, kalau menginap aku gak akan keburu ke tempat baito keesokan harinya.

Pada hari H, aku bermaksud menitipkan Fatah ke daycare dulu di pagi harinya dan setelah waktu tidur siang, aku akan menjemput Fatah sekitar pukul 2.30 dan langsung ke tempat seminar. Tetapi, semua rencana awal ini gak jadi dilaksanakan, karena di pagi hari tanggal 28 Mei itu Fatah gak mau ke daycare. Salahku juga sih sudah bilang satu hari sebelumnya kalau hari itu kita akan naik kereta. Nah, karena Fatah ingat kalau hari itu sudah dijanjikan naik kereta, saat diminta ganti baju untuk pergi ke daycare, Fatah menolak dan berulang kali bilang mau naik kereta.

Baca lebih lanjut

Celotehan Fatah (3)

Biasanya di pagi hari terjadi dialog seperti ini.

Ibu/Ayah : Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Iya..iya..(Gak mau..gak mau..) Mau sembe kecil (baca: sereal).

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi.

Fatah : Mau susu.

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi. Ke kamar mandi dulu yah.

Fatah :*berlari ke kamar mandi*

 

Tetapi, pagi ini :

Ibu: Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Terus ngapain?

Ibu : @?&%%% *gak bisa berkata-kata lagi*

 

[Serial LDM] Satu bulan pertama

Awal April 2014, ada sebuah perubahan besar dalam keluarga kecil kami. Adanya masalah studiku, dan diharuskannya si mas pulang ke Indonesia karena pekerjaan, membuat kami berhitung dengan banyak hal saat 6 bulan sebelum bulan April ini. Keputusan terbaik akhirnya adalah Fatah tetap bersama denganku di Jepang, dan mas pulang sendirian ke Indonesia serta menyiapkan segala hal sebelum kepulanganku dan Fatah. Hal yang sungguh berat apalagi dengan ketiadaan beasiswa. Alhamdulillaah ada tawaran part time job dari teman sebagai teman berdialog bahasa Inggris dengan mahasiswa/i di sebuah universitas swasta di Tokyo. Lumayan terbantu.

Satu bulan pertama belumlah terlewati, tetapi ada saja kejadian yang membuat hati dan pikiran menjadi tercurahkan. Capek, tentu saja. Tapi, memang mesti dilewati dan dijalani.

Minggu pertama bulan April. Fatah memasukkan mainannya ke dalam toilet. Akibatnya, air toilet tidak bisa mengalir dengan lancar. Kalau ada si mas, menangani hal kayak gini adalah hal yang mudah. Mas bukan orang yang penjijik, seperti istrinya. Sudah mencoba bertanya di grup orang-orang yang tinggal di Chiba. Ada beberapa solusi, yang pada akhirnya tidak ada satupun yang bisa aku lakukan. Akhirnya, aku pergi ke kantor pelayanan sehari-hari kompleks apato kami. Di sana, aku diminta menelpon jasa pembersihan apato, termasuk menangani masalah toilet ini. Alhamdulillaah, masalahnya selesai akhirnya di minggu kedua bulan April.

Baca lebih lanjut

Inspirasi-Inspirasi dari Takhta Awan (Shinta Yudisia)

Masih terpukau dengan buku-buku sejarah Islam, meski untuk membaca buku sejarah benaran otaknya masih perlu berdamai dulu :). Memberi banyak manfaat untuk pengalaman sejarah Islam di Mongolia. Menyisakan satu pelajaran hidup : kebaikan mesti terorganisasi bersama dengan orang-orang baik dan amanah, sehingga memberikan manfaat untuk umat. Menangis saat membaca bagian penutup buku ini, saat seorang Rasyidudin yang sudah meninggal dunia disambut dengan keheningan dan derai air mata para sahabatnya. Menjadi baik memang tidak mudah, tapi mesti dilakukan. Paling tidak, saat raga berpisah dengan nyawa ada sebuah kebaikan yang menjadi jejak ketika nama disebut.

###

Judul buku : Takhta Awan

Pengarang : Shinta Yudisia

Penerbit : Mizan (saya membeli dan membaca versi ebooknya)

Baca lebih lanjut

Rangkuman 99 Cahaya di Langit Eropa

Buku ebook kedua yang dibeli di gramediana. Buku pertama yang dibaca dengan disambi mengetikkan kata banyak kata kunci di google. Buku ke sekian yang meninggalkan banyak hikmah, tidak hanya di pikiran tetapi juga di hati.

###

Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas : tidak ada satupun negara Islam yang mempunyai kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini. (5)

Tetapi, buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tsb harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yg dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. (7)

Perjalanan ini membuka mata cahaya bahwa Islam dulu pernah mjd sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan. (8)

Perang memang tidak pernah menjadi jawaban untuk meraih kekuasaan. Yang ada hanya kehilangan. (74)

Aku berusaha membaca pesan yg tertera dalam kertas besar tersebut. Bahasa Jerman yg rumit membuatku lama berdiri menatapnya, berusaha menyerap arti kata per kata.
Syiar muslim di Syiria :
1. Tebarkan senyum indahmu
2. Kuasai bahasa jerman dan inggris
3. Selalu jujur dlm berdagang (90)

Baca lebih lanjut

Dialog sepasang suami istri (2)

Lanjutan dialog sepasang suami istri yang dulu juga pernah ditulis di sini.

###

Istri : Benar yah Mas, ujian menikah itu ada di umur pernikahan di tahun ke lima. Teman fey 2 org yang mengatakan mau bercerai saat umur pernikahan segitu. Alhamdulillaah sekarang baik2 saja.

Suami : Lah, kita udah berapa tahun menikah? *lempeng*

Istri : *ngakak* tahun ini 7 tahun, mas

###
Saat menelpon keluarga mertua lewat skype, dari dalam komputer terdengar ucapan : “Selamat ultah An. Selamat ultah, Mas”.

Istri : *berada di samping komputer* Yang ultah siapa, Mas.
Suami : *dengan wajah lempeng menatap istri*
Istri : Ya Allaah, besok hari lahir mas yah?:)
Suami : *manyun*

###
Malam sebelumnya suami istri begadang karena putra mereka kena influenza A. Sudah siang hari.

Istri : Mas, sekarang tanggal berapa yah? *melihat kalender* Eh, Mas, hari kan fey ultah! *setengah berteriak setelah melihat kalender, lupa dengan hari lahir sendiri*

Suami : *setengah bingung* Iya pura-pura lupa.

Istri : Mas, kan memang lupa *merengut*

 ###