Uang dan Dokter

Selama 3 tahun usia Fatah, sudah sangat sering berurusan dengan beberapa dokter, misalnya dokter umum, dokter anak dan dokter THT. Karena tergolong penduduk Chiba yang tidak berpenghasilan (status mahasiswa dianggap sebagai penduduk yang tidak berpenghasilan), berdasarkan pengalaman, saat ke dokter untuk membayar obat paling besar mengeluarkan uang 30 yen. Ini karena, setelah dipotong oleh asuransi, untuk anak-anak untuk wilayah Chiba seluruh penduduknya (termasuk juga orang asing) masih mendapatkan potongan khusus sehingga biasanya seluruh biaya pengobatan (termasuk biaya dokter) menjadi 0 yen.

Nah, karena pengalaman inilah, saat Fatah sudah batuk yang lumayan mengganggu waktu tidurnya, saat ke dokter hari Senin, 7 Juli 2014 kemarin, aku gak ngecek dompet. Setelah diperiksa oleh dokter umum langganan dekat rumah, beberapa saat menunggu, nama Fatah dipanggil oleh resepsionis. Setelah menjelaskan resep obat yang mesti ditebus dan surat yang ditujukan ke sekolah Fatah karena ada satu obat yang diberikan setelah makan siang, terjadilah percakapan berikut :

Resepsionis (R) : Ini resepnya dan ini surat untuk daycare.

Aku (A) : Ok

R : Untuk suratnya tolong bayara 300 yen.

A : *mengecek isi dompet. Langsung terdiam, ternyata yang tertinggal di dompetku hanyalah uang recehan. Setelah dihitung gak cukup 300 yen.* Aduh, maaf, uangnya gak cukup. Nanti sore boleh saya membayarnya?

R : Iya, gpp. Saat berobat lain kali juga gpp.

A : Terima kasih. Maaf.

Setelah itu, aku menuju apotek milik dokter umum itu. Sesuai dugaan, aku diminta menebus satu jenis obat seharga 30 yen. Obat yang lain gratis.

Sorenya aku kembali lagi ke dokter umum tersebut untuk membayar hutang. Ternyata setelah pukul 5 sore, beliau sudah tidak praktek lagi. Keeseokan harinya aku datang lagi ke tempat beliau, dan membayar hutang :)

Kejutan di pagi hari

Di daycare Fatah ada 2 pintu, pintu utama dan pintu samping. Pintu samping ini digunakan sebagai pintu akses bagi ortu untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya. Pintu samping ini biasanya dibuka antara pukul 10 pagi s.d 6 sore untuk hari Senin-Jumat, dan pukul 10 pagi s.d. 4 sore untuk hari Sabtu. Di luar jam-jam tersebut, jika ortu ada keperluan mesti melewati pintu utama yang langsung terhubung dengan ruang kepala sekolah merangkap ruang tamu juga ruang guru.

Hari Sabtu, 21 Mei, aku mengantar Fatah ke daycare sekitar pukul 9.45 pagi. Sempat mencoba membuka pintu samping, ternyata sudah dikunci. Ya sudah aku lewat pintu utama yang juga sudah dikunci. Setelah menekan bel, ada seorang guru yang membukakan pintu. Setelah meletakkan barang-barang Fatah dan serah terima Fatah, guru wali kelas Fatah yang hari itu juga bertugas berkata :

“Okaasan, nanti kalau pulang tolong lewat pintu samping yah.”

“Tapi, tadi waktu saya baru datang pintu sampingnya sudah dikunci, Sensei.”, jawabku.

“Oh yah, gitu yah Okaasan. Tapi kayaknya belum kok dikunci.”

“Ok, Sensei.”, jawabku. Karena saat datang tadi aku lewat pintu utama, aku mengambil sepatuku dulu yang kuletakkan di pintu utama. Wali kelas Fatah sedang mengendong Fatah dan seorang teman Fatah yang sedang menangis.

Aku lalu berjalan sendiri ke pintu samping. Ternyata benar, pintunya sudah dikunci. Aku balik lagi ke kelas Fatah.

“Sensei, pintunya sudah dikunci.”, kataku.

“Oh yah, Okaasan. Maaf yah Okaasan. Kalau gitu sama-sama saya saja kita lewat pintu samping.”, kata Sensei Fatah.

Aku mengikuti wali kelas Fatah yang menggamit tangan Fatah sambil menggendong teman Fatah yang masih menangis. Pintu samping itu dibukakan oleh Senseinya Fatah. Setelah dadah dengan Fatah aku meninggalkan sekolah Fatah.

Aku pikir persoalan pintu ini selesai sampai di situ. Ternyata masih berlanjut. Saat Fatah sudah pulang, aku baca buku penghubung ortu dan sekolah. Ada permintaan maaf tertulis di buku karena permasalahan pintu pagi tadi.

Pagi ini, Rabu, 26 Mei, aku mengantar Fatah lebih awal. Kami sampai di sekolah Fatah pukul 8 pagi. Setelah serah terima Fatah dengan gurunya, aku bertemu dengan kepala sekolah Fatah di depan kelas Fatah.

“Okaasan, maaf yah untuk masalah pintu di hari Sabtu kemarin.”, kepala sekolah Fatah berulang kali membungkukkan badannya ke arah aku. Wah, ternyata masalah pintu ini masih berlanjut, pikirku.

“Gak papa, Sensei. Saya titip Fatah.”, jawabku.

Di perjalanan menuju ke kampus peristiwa ini masih melekat di ingatanku. Masalah pintu yang membuat seorang kepala sekolah mesti berulang kali membungkukkan kepalanya kepada wali murid. Ah, sekolah Fatah. Ada banyak hal yang membuat aku jatuh cinta dengan daycare ini.

[Serial LDM] JpGU 2014 dan Museum Ramen

Saat ayah Fatah masih di Jepang, jika aku ada jadwal seminar, maka ayah Fatah yang bertugas menjemput Fatah di daycare dan mengambil alih semua urusan Fatah. Nah, saat LDM gini, akhir Mei kemarin aku punya jadwal seminar pada tanggal 30 Mei 2014 di Japan Geoscience Union (JpGU). Sesi presentasiku kebagian di sore hari, antara pukul 17.00-17.45 JST. Setelah hitung-hitungan waktu, antara tempat seminar dan rumah yang pulang pergi bisa memakan waktu 2-3 jam menggunakan kereta, akhirnya aku mengambil keputusan Fatah dititipkan di daycare yang disediakan oleh panitia seminar.

Rencana awal lain adalah, karena kemungkinan akan sangat malam tiba di Chiba lagi, aku sudah meminta kesediaan seorang teman yang apatonya dekatan dengan tempat seminar untuk numpang nginap semalam. Akhirnya, rencana ini aku batalkan karena setelah hitung-hitungan waktu lagi, kalau menginap aku gak akan keburu ke tempat baito keesokan harinya.

Pada hari H, aku bermaksud menitipkan Fatah ke daycare dulu di pagi harinya dan setelah waktu tidur siang, aku akan menjemput Fatah sekitar pukul 2.30 dan langsung ke tempat seminar. Tetapi, semua rencana awal ini gak jadi dilaksanakan, karena di pagi hari tanggal 28 Mei itu Fatah gak mau ke daycare. Salahku juga sih sudah bilang satu hari sebelumnya kalau hari itu kita akan naik kereta. Nah, karena Fatah ingat kalau hari itu sudah dijanjikan naik kereta, saat diminta ganti baju untuk pergi ke daycare, Fatah menolak dan berulang kali bilang mau naik kereta.

Baca lebih lanjut

Celotehan Fatah (3)

Biasanya di pagi hari terjadi dialog seperti ini.

Ibu/Ayah : Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Iya..iya..(Gak mau..gak mau..) Mau sembe kecil (baca: sereal).

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi.

Fatah : Mau susu.

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi. Ke kamar mandi dulu yah.

Fatah :*berlari ke kamar mandi*

 

Tetapi, pagi ini :

Ibu: Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Terus ngapain?

Ibu : @?&%%% *gak bisa berkata-kata lagi*

 

[Serial LDM] Satu bulan pertama

Awal April 2014, ada sebuah perubahan besar dalam keluarga kecil kami. Adanya masalah studiku, dan diharuskannya si mas pulang ke Indonesia karena pekerjaan, membuat kami berhitung dengan banyak hal saat 6 bulan sebelum bulan April ini. Keputusan terbaik akhirnya adalah Fatah tetap bersama denganku di Jepang, dan mas pulang sendirian ke Indonesia serta menyiapkan segala hal sebelum kepulanganku dan Fatah. Hal yang sungguh berat apalagi dengan ketiadaan beasiswa. Alhamdulillaah ada tawaran part time job dari teman sebagai teman berdialog bahasa Inggris dengan mahasiswa/i di sebuah universitas swasta di Tokyo. Lumayan terbantu.

Satu bulan pertama belumlah terlewati, tetapi ada saja kejadian yang membuat hati dan pikiran menjadi tercurahkan. Capek, tentu saja. Tapi, memang mesti dilewati dan dijalani.

Minggu pertama bulan April. Fatah memasukkan mainannya ke dalam toilet. Akibatnya, air toilet tidak bisa mengalir dengan lancar. Kalau ada si mas, menangani hal kayak gini adalah hal yang mudah. Mas bukan orang yang penjijik, seperti istrinya. Sudah mencoba bertanya di grup orang-orang yang tinggal di Chiba. Ada beberapa solusi, yang pada akhirnya tidak ada satupun yang bisa aku lakukan. Akhirnya, aku pergi ke kantor pelayanan sehari-hari kompleks apato kami. Di sana, aku diminta menelpon jasa pembersihan apato, termasuk menangani masalah toilet ini. Alhamdulillaah, masalahnya selesai akhirnya di minggu kedua bulan April.

Baca lebih lanjut