[Resensi] Negeri Lima Menara; Tentang Sebuah Mimpi

Judul : Negeri 5 Menara

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : Gramedia

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Buku ini dibuka dengan kata mutiara di atas. Untaian kata mutiara yang ditulis layaknya seperti puisi oleh Imam Syafii, seorang ulama dunia terkenal. Bercerita tentang kehidupan lima sekawan; Alif, Raja, Said, Atang, Dulmajid, Baso saat menyelesaikan empat tahun sekolah menengah atas di sebuah pondok yang bernama Pondok Madani (PM) di kota Ponorogo, Jawa Timur.

Menyusuri halaman demi halaman buku ini, terasa sangat detail kejadian-kejadian yang di alami enam sekawan itu. Misalnya saat penulis bercerita tentang momen akan menghadapi ujian akhir [hal. 378]. Suasana yang dihadapi oleh lima sekawan -karena pada saat ujian itu, Baso sudah kembali ke daerah asalnya- bersama dengan teman-teman mereka yang lain tergambar jelas ketegangan yang dihadapi semua murid, cara ustadz-ustadz PM membimbing murid-muridnya menghadapi ujian, juga keseriusan para murid PM menghadapi ujian akhir itu. Buku ini memang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis, A. Fuadi, saat menyelesaikan sekolah menengahnya di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo.

Terinspirasi oleh buku dengan semangat serupa, Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, ada banyak kata-kata penyemangat untuk menggapai mimpi di buku ini.  Misalnya nasehat dari seorang ustadz yang menjadi salah seorang tokoh di buku ini: ada dua hal penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses yaitu pertama, going to extra miles, tidak menyerah dengan rata-rata. Kedua, tidak pernah mengizinkan diri kita dipengaruhi oleh unsur di luar diri kita sendiri. Oleh siapapun, apapun, dan suasana bagaimanapun.  Artinya, kita jangan mau bersedih, kecewa, atau takut karena pengaruh faktor dari luar [hal.107]. Atau nasehat Kiai Rais -kepala PM- kepada para murid-murid di PM: pasanglah niat kuat-kuat, berusaha keras, dan berdoa khusyuk, lambat laun apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunatullah -hukum alam- [hal.136]. Juga dengan ajtahidu fauqa mustawal akhar; berjuang di atas rata-rata orang lain [hal. 395], rasanya layak menjadi pegangan semua orang dalam berjuang meraih mimpi.

Yang menjadi menarik dari buku ini adalah, semangat yang menjadi nyawa setiap bab adalah sebuah pepatah Arab; man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Misalnya saat akan dilangsungkannya pentas seni anak kelas enam [hal. 337], semangat man jadda wa jada inilah yang menjadikan pentas seni itu sebagai pentas seni yang mendapatkan nilai sembilan langsung dari Kiai Rais.

Hal menarik lainnya adalah alur penulisan yang dipilih oleh penulis. Berawal dengan bab pertama yang bercerita tentang percakapan antara  Atang yang tinggal di Kairo dengan Alif, sang tokoh utama,  yang bermukim di Washington DC di chatroom tentang rencana kepergian Alif ke London untuk menghadiri sebuah undangan seminar di London, bab-bab selanjutnya bercerita tentang latar belakang Alif bersekolah di PM dan warna-warni kehidupan selama satu tahun pertama sebagai anak pondok hingga sesaat liburan kenaikan kelas dua. Kehadiran bab A Date on the Atlanticlah [hal. 286] yang menjadi buku ini tidak lelah dibaca. Ketika Alif disuguhi kurma ajwa oleh seorang awak pesawat British Airways, ingatan Alif, tokoh utama, melayang pada saat kenaikan kelas enam. Kemudian cerita langsung berlanjut ketika memulai kelas enam hingga saat kelulusan tiba.  Keberadaan bab ini menjadikan ketiadaan cerita di kelas dua sampai kelas lima menjadi wajar. Pilihan hanya menghadirkan cerita di tahun pertama dan tahun terakhir dengan segenap ceritanya menjadikan buku ini tidak jemu dibaca. Bab penutup yang berjudul Trafalgar Square [hal. 400] adalah puncak kebahagiaan. Pertemuan tokoh utama, Alif, dengan Atang yang datang dari Kairo dan Raja yang berdiam di London di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang luas di pusat kota London, bagaikan menjadi dejavu bagi mereka bertiga. Mereka merasa begitu dekat dengan Trafalgar Square, karena mereka memang sudah mengenal detail lapangan itu melalui buku bacaan bahasa Inggris mereka saat masih bersekolah di PM.

Lalu, apakah maksud dari judul buku ini, Negeri 5 Menara? Jawabannya di bab Lima Negara Empat Benua [hal. 203]. Amerika, Inggris, Kairo, Arab Saudi, dan Indonesia, itulah arti lima menara dari judul buku ini. Pada akhirnya mimpi enam sekawan yang terucap di bawah menara PM ini tercapai di kemudian hari. Tentu dengan perjuangan keras. Man jadda wajada.

Buku ini adalah buku pertama dan trilogi yang sudah dipersiapkan oleh sang penulis. Jika nyawa buku pertama  adalah man jadda wajada, maka ruh buku kedua adalah man shabara zhafira, siapa yang sabar dia akan beruntung.  Membaca buku ini di tengah lelah dengan pertanyaan kapan mimpi akan digapai, seperti meminum setitik air di padang oase. Ada semangat lagi untuk terus berjuang.  Bahwa hidup adalah kombinasi dari niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakal [hal.382], itulah rumus berjuang itu. Yah, hidup memang kombinasi dari keempat hal itu; niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakal.

@home, June 2010

Cat: Lebih jauh tentang buku ini bisa diulik di webnya, http://www.negeri5menara.com

About these ads

29 pemikiran pada “[Resensi] Negeri Lima Menara; Tentang Sebuah Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s