Beranda > catcil > Hati yang Hangat

Hati yang Hangat

Meninggalkan kota kelahiran sejak tamat SMU, menjadikan alat telekomunikasi adalah hal yang penting dalam hubunganku dengan ibu. Saat di Yogya, setiap sebulan ibu mesti menelepon; setiap minggu pertama. Kabar penting yang selalu terucap: ibu, sudah mengirmi uang, Nga. Merantau ke Bandung, giliranku yang menjadikan sebuah kewajiban yang mesti ditaati untuk menelepon ibu bapak d setiap akhir pekan. Beruntung, dulu ada layanan murah menelepon dari sebuah provider telepon selular di Indonesia sehingga aku bisa berlama-lama bercerita panjang dengan ibu bapak.

Sekarang, berada di Jepang dengan jarak yang semakin jauh, maka frekuensi menelepon juga tidak bisa sesering saat masih di Indonesia. Yang pasti, setiap bulan mewajibkan diri untuk menelepon bapak ibu Manna dan bapak ibu mertua di Bojonegoro. Karena itulah, frekuensi sms  ke beliau berempat diperbanyak.

Baik saat menelepon atau mengirim sms kepada bapak ibu Manna, aku selalu menggunakan bahasa daerah kelahiran , bahasa Manna. Lain ceritanya, kalau aku berbicara dengan bapak ibu mertua. Lebih senang menggunakan bahasa Indonesia, meskipun aku mengerti bahasa Jawa pergaulan. Beda dengan suami, saat mengirim sms atau bercerita dengan bapak ibu Bojonegoro, beliau akan menggunakan bahasa Jawa, meski kadang bukan kromo inggil. Bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar antara suami dengan bapak ibu Manna karena suami sama sekali tidak mengerti bahasa tanah kelahiranku.

Karena sejak tahun 2000, bahasa Manna bukan lagi bahasa utamaku, kadang sering satu dua kata terlupakan. Dan akhirnya, sebelum berbicara dengan ibu, aku akan selalu bertanya terlebih dahulu bahasa Manna sebuah kata yang ingin kuucapkan. Setelah ibu menjawab, kuulangi lagi pertanyaanku atau ceritaku ke ibu dengan menggunakan bahasa Manna.

Namun, ada juga saat khilaf itu datang, seperti di suatu pagi. Ibu mengirimiku sms. “bapak ibu sehat, luakmanau di Jepang? amun di Manna hujan jak pagi sampai kini, tuapau kegiatan? kini di kampus? jaga kesehatan yah (Bapak ibu sehat. Bagaimana di Jepang? Kalau di Manna hujan dari pagi sampai sekarang? Sedang apa? Sekarang di kampus?).”

Kukirimkan balasan “wslmw. alhamdulillah inga&mas sehat, bu. inga lagi dilab. minggu ini jatah inga presentasi di lab. tolong doaka inga&mas, bu (wslm. alhamdulillah inga&mas sehat, bu. inga lagi di lab. minggu ini giliran inga presentasi. tolong doakan inga&mas, bu).”

Ternyata ibu membalas dengan balasan yang membuat aku merasa bersalah telah menggunakan bahasa yang tidak beliau mengerti. “Tuapau arti  presentasi itu? ibu ndiak tau. makasih (apa arti presentasi itu? ibu tidak mengerti. makasih).”, itu dari beliau.

Kubalas segera, tidak ingin membiarkan beliau berlama-lama dalam ketidakmengertian. “maafkan inga, bu. ibu jadi bingung. he..he..presentasi itu melaporka kemajuan penelitian inga. tapi inga harus luak pidato tuh, bu. amum adau kurang atau salah profesor inga mbetulka (maafkan inga, ibu. ibu jadi bingung. he..he..presentasi itu melaporkan kemajuan penelitian inga, tapi inga harus seperti pidato, bu. kalau ada salah atau kurang, profesor inga akan membetulkan.)”, kukirimkan kalimat panjang itu.

“Au, nga. tapi hari ini tau arti presentasi. makasih anakku sayang (iya, nga. tapi hari ini ibu mengerti arti presentasi. makasih anakku sayang)”, menghangat hatiku saat membaca balasan sms ibu. Aku masih mesti belajar menggunakan bahasa yang sederhana saat menjelaskan sesuatu dengan beliau.

@home, May 2010

saat lier..

cat: inga adalah panggilan untuk anak kedua perempuan di Bengkulu. Artinya sama dengan mbak dalam bahasa Jawa.

Categories: catcil Tag:, , ,
  1. Juni 5, 2010 pada 11:16 PM | #1

    semoga mbak semakin sukses ya,,,

    salam kenal..

  2. Mei 29, 2010 pada 5:59 PM | #2

    seorang ibu memang tempat yang paling hangat bagi seorang anak, semenjak anak itu berada didalam rahimnya :)

  3. Mei 25, 2010 pada 10:40 AM | #3

    jogja salah satu tujuan wisata saya…
    soalnya pengen jalan2 ke bering harjo.hehhehe…

    nb: maaf ya..lama ga berkunjung.inet lagi lemot.. :(

  4. Mei 25, 2010 pada 10:06 AM | #4

    Inga Fety, dalam bahasa Manna, kata “HANGAT” artinya “PANAS” kan ??? berarti judul posting Inga Fety jadinya “HATI YANG PANAS” dong! hehehe

  5. Mei 21, 2010 pada 11:07 PM | #5

    jujur.. sms itu mengharu biru perasaan… dan benar kata bundo.. tulisan ini indah…

    *sempat bertanya2.. Manna itu dimana ya.. heheh.. bengkulu toh..maklum geografi saya dulu dapet jelek.. :)

    *semoga sekolah di jepangnya cepat rampung dan segera bertemu Ibu di Bengkulu dan Bojonegoro…

  6. Mei 21, 2010 pada 8:49 AM | #6

    hati yang hangat, bener-bener membuat hati ini nyaman. Komunikasi yang ringat tapi terasa erat mendekatkan dan hangat menyertai setiap langkah meski di negeri entah.

  7. Mei 20, 2010 pada 10:23 AM | #7

    so sweet fet… nice banget dan hangat banget… semoga Allah memberkahi kalian…aamiin

  8. Mei 20, 2010 pada 8:25 AM | #8

    mengharukan sekaligus membahagiakan ,Mbak.
    kehangatan di hati sangat terasa indah pastinya saat itu ya Mbak :)
    salam

  9. Mei 20, 2010 pada 8:00 AM | #9

    sebuah percakapan yang hangat yahh mungkin lain kale lebih menggunakan bahasa yang biasa di gunakana saja biar mengerti dengan cepat hehe .. dan semoga persentasinya sukses yah.

  10. Mei 19, 2010 pada 8:57 PM | #10

    Fey..
    sempat tadi mau nanya Manna itu di mana.. ternyata di akhir postingan dijelasin kali Manna di Bengkulu :)

    percakapan sederhana tapi terasa hangatnya fey

  11. Mei 19, 2010 pada 7:03 PM | #11

    Sms dari keluarga saya biasanya lama saa hapus dari Inbox, bisa sampai 2 atau 3 bulan. Kadang dengan itulah saya kembali mengulang memori indah bersama keluarga mbak. Nice story.

  12. Mei 19, 2010 pada 4:31 PM | #12

    Bahasa manna itu bahasa bengkulu ya? Mirip2 kaya bahasa melayu ya? Agak ngerti juga sih (walaupun tak banyak) karena kayanya bahasa didaerahku juga bahasa melayu yang lebih kepedalaman gitu

  13. Mei 19, 2010 pada 12:50 PM | #13

    ya…kasih sayang ibu…sukses atas apapun yang dirimu lakukan diperantauan yah….

  14. Mei 19, 2010 pada 7:02 AM | #14

    Benar-benar kehangatan yang terjalin ya mbak :)

    meski jauh bukan halangan lagi untuk terus berkomunikasi, sekarang sudah banyak pilihan provider yg murah..
    Kalau saya menelpon ibu saya tidak pernah menanyakan bahasa, karena kita bisanya bahasa jawa :D

    semoga sukses kuliahnya ya, never give up ya..

  15. Mei 18, 2010 pada 11:44 PM | #15

    lah lamo idak ngecek bkl rindu jugo ambo ni

    jd ingek malem2 pai ke wartel nunggu jam 9 biar pacak dapek diskon 50%
    itu wartel telkom penuh dgn tobo2 dari kabupaten nak telpon gaek masing2

  16. Mei 18, 2010 pada 8:13 PM | #16

    Hmmm… Hangatnya…
    Betapa besar kasih sayang yang tersirat :)
    Semoga kuliahnya lancar dan cepat peluk keluarganya lagi di kampung halaman ya :)

  17. Mei 18, 2010 pada 1:30 PM | #17

    Smoga Allah lancarkan presentasi mbak fey…
    salam sayang mbakku..

  18. Mei 18, 2010 pada 12:34 PM | #18

    sukses buat persentasinya…^^

  19. Mei 18, 2010 pada 7:28 AM | #19

    kalo udah lama di rantau memang sering lupa beberapa kata atau istilah dalam bahasa daerah sendiri :D

  20. Mei 17, 2010 pada 11:35 AM | #20

    ternyata miskomunikasi ya :D

    susah juga ya kalau lama ndak pakai bahasa daerah :D

  21. Mei 17, 2010 pada 10:37 AM | #21

    Terbayang deh Fety…orangtua tentu ingin mengetahui perkembangan Fety di rantau.
    Dan syukurlah, .kalau pakai provider tertentu, telepon dari Indonesia murah, hanya Rp.1000,- per menit. Lumayan bisa mengobrol, cuma mesti ngecek waktunya, agar pas dia tak ada di lab atau tak terlalu malam….

    Dan saya beruntung, bisa mengikuti perkembangan anak melalui fesbuk….dulu friendster…ya, akhirnya memang harus mengikuti kemajuan teknologi.

    Lain kali Fety mesti menggunakan bahasa yang dipahami oleh ibu….biar nggak bingung

  22. Mei 17, 2010 pada 9:06 AM | #22

    oalah.. baru ngerti artinya INGA, karena di alamat email, YM, dan blog fey selalu ada kata2 INGA. Ternyata itu sama dengan “mba” tho.. nambah deh perbendaharaan bahasa daerah :) kalo aku dan suami, walo sama2 orang Jawa, tapi sejak kenal sampe sekarang malah ngomongnya pake bhs Indonesia terus, hehe.. nakal ya.
    btw sukses ya fey, mudah2an semua lancar, amiin.

  23. Mei 17, 2010 pada 12:03 AM | #23

    hangatnya hati fey.. hangatnya hati ibu
    terasa sampai sini

    tulisan yang indah, fey..

  24. Mei 16, 2010 pada 9:09 PM | #24

    saya sering senyum2 sendiri ketika anak saya berteleponan dng neneknya. dr nada bicara anak saya, sy tahu ibu saya minta penjelasan lbh dalam mengenai istilah yg baru saja diucapkan anak saya. stlh meletakkan telepon, anak saya bilang ke sy : “pa, masak mbah uti nggak tau apa itu fesbuk?” :P

    • Mei 17, 2010 pada 12:01 AM | #25

      Kyaine juga ngga ngerti fesbuk, apalagi mbah uti :P

      • Mei 17, 2010 pada 10:38 AM | #26

        Mbah Uti diajari fesbuk…biar seneng lihat foto cucunya….

      • Mei 19, 2010 pada 8:55 PM | #27

        wekekeke.. ada2 aja yah..
        mbah utinya dibikinin fesbuk donggggg :P

      • Mei 20, 2010 pada 8:37 AM | #28

        hmm, mbak uti sudah tua, cucuku sayang. mbak uti lebih suka ‘berfesbukan’ di kebun belakang, begitu ujar sang Eyang Uti :)

        *Om guskar, peace!*

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.