Suka Duka Kuliah di Jepang

Pertengahan semester sudah dimulai.  Dan juga sudah mesti membuat persiapan dengan sejumlah laporan untuk setiap matakuliah yang diambil di semester ini. Belum lagi penelitian yang juga tidak bisa dikesampingkan. Kuliah di Jepang berarti menuntut kuliah dan penelitian dilakukan bersamaan, tidak ada istilah kuliah dulu di semester awal, ntar penelitian dilakukan di semster-semester akhir. Capek, hmm, tentu saja. Apalagi untuk teman-teman yang penelitiannya berkutat dengan peralatan-peralatan lab. Kadang mereka berada di lab lebih dari 12 jam, untuk menunggu reaksi-reaksi kimia yang sedang dikerjakan dan tidak bisa ditinggalkan atau disambi.

Tapi, itulah penelitian. Semuanya dikerjakan dengan semangat keingintahuan yang begitu besar. Juga dengan sebuah hal yang tidak bisa dipungkiri, fasilitas penelitian yang mendekati nilai sempurna. Dukungan literatur ilmiah terkini yang begitu mudah diakses dengan bandwith internet yang seperti sekedipan mata.

Kuliah di Jepang menawarkan sedemikian banyak suka dan duka. Untukku pribadi tentunya. Sukanya? Banyak, menurutku. Berkesempatan berada dalam lingkungan penelitian yang begitu kondusif, dengan pendukung suasana diskusi yang begitu membangun. Tidak ketinggalan untuk belajar bagaimana menjadi reviewer yang baik dari sebuah jurnal ilmiah. Bagaimana melihat ‘isi dalam’ sebuah jurnal, bukan hanya tampilan luar permukaannya saja.  Juga dengan ilmu-ilmu baru yang didengar dan dilihat lalu menimbulkan tanya: oh gitu, yah? atau kok bisa yah? Dan kadang ilmu baru itu seakan berada di luar logika selama ini yang terpikirkan.

Lalu, ada sebuah tanya yang timbul. Mengapa berbeda yah dengan di Indonesia? Tidak untuk menyalahkan negeri tercinta. Setiap teman-teman yang merantau di sini, menyebut nama Indonesia, berarti sama dengan menunggu saat pulang itu tiba. Bergema-gema kerinduan itu dalam ruang hati. Terlebih untuk yang jauh dari keluarga tercinta, aku contohnya.

Satu hal lain yang dipelajari, kecintaan orang Jepang pada negerinya bukan hanya sekedar ucapan: aku cinta Jepang, atau slogan-slogan “cintailah produk negeri sendiri”. Tapi, lebih pada aksi nyata. Dalam wujud benar-benar menggunakan atau kekeukeuhan mereka menggunakan bahasa ibu. Walaupun, akhir-akhir ini, nilai-nilai itu sudah agak memudar di kalangan orang muda Jepang. Tapi, dalam kacamataku pribadi. Mungkin, inilah yang menjadikan Jepang maju, karena mereka berani dianggap berbeda.

Bagaimana tidak, di labku saja contohnya. Penelitian setiap orang menggunakan sedemikian banyak program-program komputer. Termasuk aku. Dan ini yang membuat aku tergagap, bahkan hingga kini. Tidak menjadi masalah ketika program-program itu adalah program-program yang sudah stabil dan dijual di pasaran. Tinggal belikan lalu menggunakannya sesuai dengan petunjuk manualnya? walaupun mesti merogoh kantong lebih dalam. Tapi, di labku sungguh terbalik, setiap orang harus membuat program sendiri, entah yang berbasis windows atau berbasis linux. Maka, mulailah aku berkenalan dengan sedemikian banyak nama asing: GnuPlot, Octave, GMT, fortran, c program. Tapi, ketekunan untuk membuat program-program sendirilah yang menjadi mereka independen, tidak mesti tergantung dengan produk orang lain dan membuat teman-temanku mengerti mengapa sebuah hasil penelitian begini atau begitu karena mereka benar-benar mengerti persamaan matematika apa yang diterapkan dalam program mereka.  Dan aku semakin tahu, mengapa angka pembajakan program-program komputer di Indonesi a semakin membumbung tinggi.

Dukanya? hmm, kalau yang ini lebih ke masalahku yang masih juga tergagap mengerti dengan baik dan benar bahasa Jepang. jadi, kadang saat kuliah adalah saat-saat meraba-raba. Oh, maksud senseinya begini. Atau, oh senseinya lagi menerangkan itu:) Juga saat review jurnal. Beruntung teman-teman yang berada dalam lingkungan banyak mahasiswa asing di labnya. Biasanya, pilihannya adalah penggunaan bahasa Inggris. Di labku, aku sendiri mahasiswa asingnya. Jadi, mesti mengalah dan pastilah bahasa Inggris sangat jarang digunakan di labku. Maka, kalau review jurnal berlangsung di lab, di akhir sesi mestilah aku yang banyak bertanya, karena aku kadang-kadang benar-benar tidak mengerti.

Untuk hal yang sederhana dan percakapan sehari-hari, aku akan memilih berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Tapi, untuk hal-hal yang ilmiah dan hal-hal yang benar-benar serius, aku memilih berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris dengan senseiku. Nah, kadang senseiku menjawab pertanyaanku dalam bahasa Inggris, walaupun akhirnya harus mengulang lagi penjelasannya dalam bahasa Jepang, untuk memudahkan teman-teman lab yang lain juga mengerti. Tapi, kadang, sensei juga menjawab dengan bahasa Jepang yang mesti membuatku lebih mengerutkan kening lagi. he..he..

Tapi, kuliah di jepang, asyik kok. Banyak tantangannya…

@spring, June 2009

61 thoughts on “Suka Duka Kuliah di Jepang

  1. assalamualaikum,hai vetty salam kenal,saya mo tanya,saya pengen nyariin beasiswa buat suami saya tertarik ambil s2 TI di jepang pi dengan beasiswa tapi kok sulit sekali ya untuk swasta,mohon nasehatnya dan masukannya agar bs mndapatkn beasiswa it k jepang dan pa saja yang perlu di persiapkan untuk thn depan,lo tahun ini spertinya agak sulit mengingat pnjelasan kamu d ats td blom pnya srtifikasi toefl palagi bahasa jepang… nasehatnya donk,afwan ya byak tanya,suamiku pngn banget kuliah d jepang pi blom pnya knalan sapa sapa….^_^

    • Wa’alaykummussalam wr wb, hai intan. Intan sdh tinggal di jepangkah? T
      Yang pertama kali mmg mesti nyari professor dulu. Lalu toeflnya ditingkatin nilainya. Mksdnya swasta di sini adalah karena suami intan kerja di perusahaankah? Coba aja dftr beasiswa monbusho. Smg berhasil.

  2. Hai. Salam kenal. Saya ada beberapa pertanyaan. Mohon di jawab bila tdk merepotkan :D
    Apakah ada beasiswa s2 untuk teknik, tepatnya teknik elektro atau bidang marketin n bisnis. Satu lagi, apakah bisa sedang dlm beasiswa sekaligus kerja/magang di jepang. Biar ada penghasilan tambahan gtu. Dengan sangat, mohon di balas. :D
    Terimakasih banyak.

    • Beasiswa untujk teknik elektro serta marketing dan bisnis saya rasanya ada banyak di Jepang. Coba aja cari di google search engine. Sependek yang saya tahu, kalo kita menerima beasiswa di Jepang tidak bersamaan dengan kerja/magang. Tapi, saat sekolah di Jepang kita bisa melakukan pekerjaan sampingan, misalnya kerja di convenient store, swalayan dll. Tetapi, imho, beasiswa di Jepang itu cukup sekali untuk biaya hidup.

  3. assalamu’alaikum, kak mau nanya, kalau untuk jurusan S2 kesehatan masyarakat di universitas jepang ada nggak kak, universitasnya dimana?karena udah nyoba cari di google, tapi gak ketemu…terima kasih infonya kak, cerita kaka sangat menginspirasi sekali ^_^, sukses terus ya kak… :-)

    • Waalaikumsalam wr wb. Saya coba mencari di Google dengan kata kunci “public health japan university” dan menemukan beberapa universitas di Jepang yang mempunyai jurusan ini. Dicoba aja yah :)

      • terimakasih banyak ya kak informasinya…salam kenal juga ya kak ^_^
        kalau boleh tau kakak waktu kuliah dijepang S1 atau S2, dan jurusannya apa kak??trus apakah kakak kuliah di jepang dengan beasiswa? kalau boleh tau kak, kakak dapatkan beasiswanya saat masih di indonesia atau sudah berada dijepang?maaf sebelumnya ya kak kalau rita banyak nanya ^^
        skali lagi terima kasih banyak infonya ya kak… :-)

      • Saya kuliah di Jepang mulai S2, jurusannya Geofisika. Waktu S2 saya dapat beasiswa ketika masih di Indonesia. Kemudian saya melanjutkan S3 dan mendapatkan beasiswanya ketika di Jepang.

      • kakak dapat informasi ada beasiswa ke jepang dari siapa kak, apa kakak searching di internet atau ada pengumumannya kak??oya kalau boleh minta saran dari kakak apa yang harus rita persiapkan dari sekarang dan cara rita mencari celah untuk dapatkan besiswa kesana kak karena rita udah semester 6, insyaAllah rita berencana dan ada niat untuk melanjutkan S2 ke jepang dengan beasiswa seperti kakak jika Allah mengizinkan..terima kasih banyak sebelumnya ya kak..oya kakak masih di jepang sekarang?

      • iya saya masih di jepang. saya dapat informasi beasiswa dari kantor. Coba aja gabung di milis beasiswa di yahoogroups.com. Ada banyak informasi beasiswa di sana, bukan hanya yang dari Jepang. Klo saran saya, perkuat kemampuan bahasa Inggrisnya. Kalau bahasa Inggrisnya bagus, peluang mendapatkan beasiswa ke negara-negara lain di luar Jepang juga terbuka lebar. Atau klo punya dosen pembimbing yang sering jalan2 ke luar negeri, minta aja sama beliau dikenalkan dengan beberapa prof yang menarik bidang penelitiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s