[Serial LDM] Ketika Kunci Hilang

Hari dimulai dengan pagi hari yang berjalan seperti biasa. Di kalender sudah tertanda, hari itu aku mesti membuang sampah yang sudah dijanjikan untuk dibuang melalui perjanjian dengan pihak kota Chiba. Yah, untuk sampah yang tidak bisa dibuang di hari pembuangan sampah tidak terbakar, kita mesti membuat janji dulu dengan kantor pembuangan sampah untuk mengambil sampah ini. Jalurnya cukup unik, pertama kita menelpon kantor tersebut, lalu menjelaskan tipe sampah yang akan kita buang, mereka menginventaris, memutuskan kita mesti membeli stiker yang mana, membeli stiker di convenient store yang sudah ditunjuk oleh kantor pembuangan sampah, menempeli sampah dengan stiker, pada hari meletakkan sampah di tempat yang sudah disepakati  dan sampah kita diambil oleh petugas. Untuk masing-masing daerah berbeda, di google info ini bisa dicari dengan mengetikkan: 粗大ごみ diikuti danam kota tenpat kita tinggal.

Pukul 10, aku mengantarkan Fatah ke sekolahnya dan kemudian aku menuju ke kampus. Pagi hari hanya beraktivitas biasa, kemudian siang hari bersama teman lab mencoba alat yang sudah teronggok hampir 3 tahun di ruangan lab. Pukul 5 sore, belum ada tanda-tanda percobaan alat akan berakhir, akhirnya aku menelpon sekolah Fatah dan memberitahukan kepada gurunya kalau aku akan menjemput Fatah pukul 7 malam.

Pukul 17.30, ternyata percobaan alat selesai. Aku berkemas dan siap pulang. Menuju sepeda, aku teringat kunci rumah. Mencoba mencari di saku gak ada. Di dalam tas juga gak ada. Akhirnya, mencoba menelurusi tempat-tempat di kampus yang seharian ini aku berada. 3 kali bolak-balik ke tempat tersebut, ternyata si kunci tetap tidak ditemukan.

Aku mencoba menelpon seorang teman, meminta mengecek di tangga di gedung apato dan di tempat sepeda. Mungkin kunci sepeda terjatuh. Si teman ternyata tetap tidak menemukan kunci tersebut. Sudah lelah dan capek. Yang jelas sebal dengan keteledoranku. mencoba juga menghubungi teman-teman yang sekiranya bisa membuka kunci rumah dengan paksa, ternyata agak riskan kata si teman kalau untuk kunci rumah di Jepang. Yang jelas juga susah, jawaban si teman.

Pukul 18.35, seusai shalat magrib, aku mengayuh sepeda pulang, menuju rumah. Mencoba membuka pintu apato, ternyata terkunci. Sudah sangat lelah, juga pengen nangis. Akhirnya kuputuskan menjemput Fatah. Pukul 7 malam, Fatah kujemput dari daycarenya. Seorang teman baik sudah menawarkan untuk menginap di rumahnya.

Sebelum ke rumah si teman, Fatah minta ke supermarket kecil di depan rumah si teman. Menuju ke sana, aku coba ubek-ubek lagi tempat duduk Fatah di bagian depan sepeda, dan tanganku menemukan gantungan tali si kunci. Wuaaah, rasanya campur aduk saat menemukan si kunci. Padahal tempat dudukan Fatah di depan dan di belakang sepeda itu sudah kuubek mungkin sekitar 3 kali di kampus tadi dan tidak menemukan si kunci.

Akhirnya, aku dan Fatah pulang ke rumah. Sampai di rumah, makan dan menyuapi Fatah. Badan rasanya sudah capek sekali. Sebelum mandi, melihat hp, ternyata batereinya tinggal 5%, kucoba mencari charger di tempat biasanya, ternyata tidak ada. Baru ingat ternyata tadi aku sempat men-charger hp di kampus, dan yang kuambil hanya hpnya saja saat mau menelpon si teman untuk meminta bantuannya tadi.

Wuaah, tambah sebel dengan diri sendiri. Tak lama ada tetangga gedung yang mengirim sms karena ada panggilan tak terjawab di hpnya. Teringat untuk menanyakan ke teman siapa tahu dia punya hp cadangan. Alhamdulillaah dia punya. Selesai mandi, bel apato berbunyi, ternyata suami si teman tetangga gedung yang mengantarkan charger hp plus oleh-oleh dari Indonesia. Ah, alhamdulillah hari itu ditutup dengan manis.

Kalau udah kejadian kayak gini, selalu ingat suami yang memang well-organized person.

[Serial LDM] Saat Ayah Datang dan Pergi

Karena ide yang datang dengan pertimbangan yang secepat kilat, alhamdulillaah suami bisa merayakan lebaran di Chiba. Beliau mendapat cuti sekitar 5 hari dan ditambah hari libur bersama, alhamdulillaah dikasih waktu berkumpul sekitar dua minggu sama Allaah. Reaksi Fatah dengan kedatangan ayahnya adalah Fatah senang sekali.

“Ibu ga iranai (Ibu gak perlu). Ayah suka.”, katanya. Beberapa kali dua kalimat itu diucapkannya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai dengan tidur kembali, Fatah ingin semua hal yang dia kerjakan adalah ditemani ayahnya. Mandi, makan, ke kamar mandi, jalan-jalan, tidur dan lain-lain. Ibunya diabaikan. Kedatangan suami kali ini pas sekali dengan waktunya revisi yang banyak sekali dan paling menentukan dalam perjalanan kuliah. Dicueki Fatah menjadi berkah untuk si ibu, si ibu bisa fokus dengan revisi yang banyak itu.

Suami juga senang banget digandoli Fatah. Fatah lebih senang lagi ngikuti kemana ayahnya pergi. Bahkan, berhari-hari gak mau ke daycare. Gurunya pun dibilangin kalau ayahnya lagi datang, sehingga mereka juga maklum Fatah gak ke daycare berhari-hari.

Dua minggu berlalu. Sejak hari pertama, Fatah selalu dibilangin hari dan tanggal ayahnya akan kembali ke Indonesia. Pertama kali dibilangin dia menolak mentah-mentah kalau suatu saat ayahnya akan kembali ke Indonesia. Mendekati hari kepulangan suami ke Indonesia, akhirnya dia mulai agak menerima.

Di hari H, seusai shalat magrib, suami sudah bersiap-siap menuju ke bandara. Taksi juga sudah menunggu. Fatah dikondisikan melihat kepergian ayahnya dari jendela. Saat berpelukan dengan ayahnya, Fatah menangis, ayah menangis dan ibunya juga menangis. Akhirnya setengah dipaksa, Fatah mau melepaskan pelukannya. Di balik jendela berulang kali memanggil ayahnya yang berada di bawah. Setelah taksi pergi membawa ayahnya, Fatah menangis sejadi-jadinya. Malam itu Fatah rewel. Tidak mau tidur. Rewelnya masih berlanjut hingga hari ini, hari kelima Fatah ditinggalkan ayahnya.

Setiap malam masih memeluk kain ayahnya. Setiap malam juga minta berdoa kalau Fatah kangen ayahnya.

[Serial LDM] Saat Fatah dititipkan

Yang paling aku khawatirkan saat suami gak ada di sisi kami adalah bagaimana Fatah saat aku mesti pulang dari lab lebih dari pukul 7 sore. Fatah biasanya dijemput pukul 6 sore. Kalau memang ada keperluan yang mendesak, Fatah dijemput pukul 7 sore. Nah, tanggal 27 Mei aku ada ujian dimulai pukul 4 sore. Secara perkiraan maksimal pukul 7 sudah selesai, ternyata molor hingga pukul 9 malam baru selesai diskusi dengan Sensei. Di sesi istirahat menjelang shalat magrib, aku mencoba menelpon seorang teman yang dipanggil Okaasan oleh Fatah. Si teman ini memang sudah didaftarkan ke pihak daycare yang akan menjemput Fatah jika aku atau ayahnya Fatah berhalangan.

Berulang kali menelpon Okaasan, ternyata gak kedengaran oleh beliau, akhirnya aku berinisiatif menelpon tetangga gedung. Alhamdulillaah langsung diangkat oleh teman yang baik hati ini. Aku utarakan masalahku dan beliau dengan ringan hati bersedia menjemput Fatah sekitar pukul 7 malam di daycarenya, padahal beliau juga baru pulang dari kampus. Segera setelah memastikan beliau bisa menjemput Fatah, aku menelpon daycare Fatah dan bercerita kalau Fatah dijemput oleh tantenya sore itu. Karena permintaan menjemput ini gak direncanakan jadinya aku gak nitip makanan atau minuman untuk Fatah. Ah, si teman yang baik hati ini membelikan makanan dan minuman kecil untuk Fatah. Saat Fatah kutelpon sekitar pukul 8 malam saat ada sesi istirahat lagi, dia sempat menangis. Aku lebih sedih lagi malam itu. Untuk pertama kalinya Fatah dijemput oleh yang jarang berinteraksi dengannya. Alhamdulillaahnya malam sebelumnya si teman yang baik hati ini sempat ketemu Fatah karena beliau mengantarkan sesuatu ke apato kami. Aku sempat menangis malam itu.

Baca lebih lanjut

Uang dan Dokter

Selama 3 tahun usia Fatah, sudah sangat sering berurusan dengan beberapa dokter, misalnya dokter umum, dokter anak dan dokter THT. Karena tergolong penduduk Chiba yang tidak berpenghasilan (status mahasiswa dianggap sebagai penduduk yang tidak berpenghasilan), berdasarkan pengalaman, saat ke dokter untuk membayar obat paling besar mengeluarkan uang 30 yen. Ini karena, setelah dipotong oleh asuransi, untuk anak-anak untuk wilayah Chiba seluruh penduduknya (termasuk juga orang asing) masih mendapatkan potongan khusus sehingga biasanya seluruh biaya pengobatan (termasuk biaya dokter) menjadi 0 yen.

Nah, karena pengalaman inilah, saat Fatah sudah batuk yang lumayan mengganggu waktu tidurnya, saat ke dokter hari Senin, 7 Juli 2014 kemarin, aku gak ngecek dompet. Setelah diperiksa oleh dokter umum langganan dekat rumah, beberapa saat menunggu, nama Fatah dipanggil oleh resepsionis. Setelah menjelaskan resep obat yang mesti ditebus dan surat yang ditujukan ke sekolah Fatah karena ada satu obat yang diberikan setelah makan siang, terjadilah percakapan berikut :

Resepsionis (R) : Ini resepnya dan ini surat untuk daycare.

Aku (A) : Ok

R : Untuk suratnya tolong bayara 300 yen.

A : *mengecek isi dompet. Langsung terdiam, ternyata yang tertinggal di dompetku hanyalah uang recehan. Setelah dihitung gak cukup 300 yen.* Aduh, maaf, uangnya gak cukup. Nanti sore boleh saya membayarnya?

R : Iya, gpp. Saat berobat lain kali juga gpp.

A : Terima kasih. Maaf.

Setelah itu, aku menuju apotek milik dokter umum itu. Sesuai dugaan, aku diminta menebus satu jenis obat seharga 30 yen. Obat yang lain gratis.

Sorenya aku kembali lagi ke dokter umum tersebut untuk membayar hutang. Ternyata setelah pukul 5 sore, beliau sudah tidak praktek lagi. Keeseokan harinya aku datang lagi ke tempat beliau, dan membayar hutang :)

Kejutan di pagi hari

Di daycare Fatah ada 2 pintu, pintu utama dan pintu samping. Pintu samping ini digunakan sebagai pintu akses bagi ortu untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya. Pintu samping ini biasanya dibuka antara pukul 10 pagi s.d 6 sore untuk hari Senin-Jumat, dan pukul 10 pagi s.d. 4 sore untuk hari Sabtu. Di luar jam-jam tersebut, jika ortu ada keperluan mesti melewati pintu utama yang langsung terhubung dengan ruang kepala sekolah merangkap ruang tamu juga ruang guru.

Hari Sabtu, 21 Mei, aku mengantar Fatah ke daycare sekitar pukul 9.45 pagi. Sempat mencoba membuka pintu samping, ternyata sudah dikunci. Ya sudah aku lewat pintu utama yang juga sudah dikunci. Setelah menekan bel, ada seorang guru yang membukakan pintu. Setelah meletakkan barang-barang Fatah dan serah terima Fatah, guru wali kelas Fatah yang hari itu juga bertugas berkata :

“Okaasan, nanti kalau pulang tolong lewat pintu samping yah.”

“Tapi, tadi waktu saya baru datang pintu sampingnya sudah dikunci, Sensei.”, jawabku.

“Oh yah, gitu yah Okaasan. Tapi kayaknya belum kok dikunci.”

“Ok, Sensei.”, jawabku. Karena saat datang tadi aku lewat pintu utama, aku mengambil sepatuku dulu yang kuletakkan di pintu utama. Wali kelas Fatah sedang mengendong Fatah dan seorang teman Fatah yang sedang menangis.

Aku lalu berjalan sendiri ke pintu samping. Ternyata benar, pintunya sudah dikunci. Aku balik lagi ke kelas Fatah.

“Sensei, pintunya sudah dikunci.”, kataku.

“Oh yah, Okaasan. Maaf yah Okaasan. Kalau gitu sama-sama saya saja kita lewat pintu samping.”, kata Sensei Fatah.

Aku mengikuti wali kelas Fatah yang menggamit tangan Fatah sambil menggendong teman Fatah yang masih menangis. Pintu samping itu dibukakan oleh Senseinya Fatah. Setelah dadah dengan Fatah aku meninggalkan sekolah Fatah.

Aku pikir persoalan pintu ini selesai sampai di situ. Ternyata masih berlanjut. Saat Fatah sudah pulang, aku baca buku penghubung ortu dan sekolah. Ada permintaan maaf tertulis di buku karena permasalahan pintu pagi tadi.

Pagi ini, Rabu, 26 Mei, aku mengantar Fatah lebih awal. Kami sampai di sekolah Fatah pukul 8 pagi. Setelah serah terima Fatah dengan gurunya, aku bertemu dengan kepala sekolah Fatah di depan kelas Fatah.

“Okaasan, maaf yah untuk masalah pintu di hari Sabtu kemarin.”, kepala sekolah Fatah berulang kali membungkukkan badannya ke arah aku. Wah, ternyata masalah pintu ini masih berlanjut, pikirku.

“Gak papa, Sensei. Saya titip Fatah.”, jawabku.

Di perjalanan menuju ke kampus peristiwa ini masih melekat di ingatanku. Masalah pintu yang membuat seorang kepala sekolah mesti berulang kali membungkukkan kepalanya kepada wali murid. Ah, sekolah Fatah. Ada banyak hal yang membuat aku jatuh cinta dengan daycare ini.

[Serial LDM] JpGU 2014 dan Museum Ramen

Saat ayah Fatah masih di Jepang, jika aku ada jadwal seminar, maka ayah Fatah yang bertugas menjemput Fatah di daycare dan mengambil alih semua urusan Fatah. Nah, saat LDM gini, akhir Mei kemarin aku punya jadwal seminar pada tanggal 30 Mei 2014 di Japan Geoscience Union (JpGU). Sesi presentasiku kebagian di sore hari, antara pukul 17.00-17.45 JST. Setelah hitung-hitungan waktu, antara tempat seminar dan rumah yang pulang pergi bisa memakan waktu 2-3 jam menggunakan kereta, akhirnya aku mengambil keputusan Fatah dititipkan di daycare yang disediakan oleh panitia seminar.

Rencana awal lain adalah, karena kemungkinan akan sangat malam tiba di Chiba lagi, aku sudah meminta kesediaan seorang teman yang apatonya dekatan dengan tempat seminar untuk numpang nginap semalam. Akhirnya, rencana ini aku batalkan karena setelah hitung-hitungan waktu lagi, kalau menginap aku gak akan keburu ke tempat baito keesokan harinya.

Pada hari H, aku bermaksud menitipkan Fatah ke daycare dulu di pagi harinya dan setelah waktu tidur siang, aku akan menjemput Fatah sekitar pukul 2.30 dan langsung ke tempat seminar. Tetapi, semua rencana awal ini gak jadi dilaksanakan, karena di pagi hari tanggal 28 Mei itu Fatah gak mau ke daycare. Salahku juga sih sudah bilang satu hari sebelumnya kalau hari itu kita akan naik kereta. Nah, karena Fatah ingat kalau hari itu sudah dijanjikan naik kereta, saat diminta ganti baju untuk pergi ke daycare, Fatah menolak dan berulang kali bilang mau naik kereta.

Baca lebih lanjut

Celotehan Fatah (3)

Biasanya di pagi hari terjadi dialog seperti ini.

Ibu/Ayah : Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Iya..iya..(Gak mau..gak mau..) Mau sembe kecil (baca: sereal).

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi.

Fatah : Mau susu.

Ibu/Ayah : Boleh, setelah ke kamar mandi. Ke kamar mandi dulu yah.

Fatah :*berlari ke kamar mandi*

 

Tetapi, pagi ini :

Ibu: Mas, ke kamar mandi dulu yuk.

Fatah : Terus ngapain?

Ibu : @?&%%% *gak bisa berkata-kata lagi*